Telu Nulung Siji ke Mabes Polri

Telu Nulung Siji ke Mabes Polri
YAKIN: Kepala Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, Dwinanto (dua dari kiri) menyimak penjelasan Polres Purworejo terkait pemilihan Kampung Siaga Candi di Balai Desa Krandengan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, kemarin (26/1). (BUDI AGUNG/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Polisi Daerah (Polda) Jawa Tengah mempercayakan Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, menjadi Duta Jateng dalam Pemilihan Kampung Siaga Candi (KSC) tingkat Mabes Polri. Penunjukan dilakukan usai desa tersebut ditetapkan menjadi desa terbaik di Jawa Tengah dalam bertahan selama kondisi pandemi virus korona (Covid-19).

Kades Krandegan Dwinanto mengungkapkan, surat penunjukan dari Polda Jateng diterima Senin (25/1). Surat ditandatangi Wakapolres Purworejo Kompol Supiyanto.

Dalam surat itu dijelaskan terkait surat dari Polda Jateng untuk meminta Desa Krandegan bersiap mengikuti ajang KSC di tingkat nasional. “Lomba ini lebih ditekankan pada upaya desa untuk bertahan dalam situasi Covid-19,” kata Dwinanto.

Dijelaskan, sejak awal Pemerintah Desa Krandengan selalu berusaha memberikan perhatian terhadap situasi pandemi. Setidaknya, melakukan upaya pencegahan agar dapat meminimalisasi kasus Covid-19.

Dwinanto menyebut, pihaknya melaksanakan program yang disebut Telu Nulung Siji. ”Konsepnya adalah tiga orang yang memiliki kemampuan ekonomi membantu satu keluarga yang masuk kategori kurang mampu,” tegasnya. Salah satu langkah yang dilaksnakan yakni membuat pos komando (posko) di batas desa.

“Posko ini untuk mengecek pengguna jalan yang hendak melalui Krandegan, yang kita lakukan cek suhunya,” imbuh Dwinanto. Warga yang baru datang dari luar kota juga diberi perhatian khusus. Petugas mendatangi mereka.

Selain itu, warga yang bepergian, khususnya ke luar kota, diberikan kartu lapor. Kartu ini harus diberikan ke pemerintah desa setelah mereka kembali. ”Warga yang mengalami gangguan kesehatan juga kita sediakan isolasi mandiri. Kebutuhan pangannya disiapkan oleh desa,” tambahnya.

Warga kurang mampu secara ekonomi pun diperhatian. Desa menyalurkan sedikitnya seratus paket sembako kepada mereka. Sembako dihimpun dari warga yang termasuk dalam kategori strata mampu secara ekonomi.

“Masih ada bantuan dari warga yang bekerja di luar kota dalam membantu paket sembako ini,” terang Dwinanto. Bahkan, pemerintah desa juga memperhatikan warga jompo, anak-anak, dan guru mengaji.

Dwinanto menyebut ada istilah telu nulung siji. Konsepnya adalah 3 orang yang memiliki kemampuan akan membantu satu keluarga yang masuk kategori kurang mampu.

“Di luar itu, desa membagikan bantuan bibit sayuran dan jagung kepada seluruh warga. Kita mengarahkan agar mereka menanam di halaman mereka. Ini bisa bermanfaat untuk ketahanan pangan, di mana ada persediaan sayuran yang bisa digunakan,” ungkap Dwinanto.

Beberapa program yang dilaksanakan etrsebut didokumentasikan dalam bentuk video. Video ini lantas dikirimkan dalam lomba Kampung Siaga Candi. ”Yang dilakukan memang riil. Ada dan sudah berjalan dengan baik.” Ungkap Dwinanto. (udi/amd)

Lainnya