Mirip Dolalak, Ada sejak Diponegoro

Mirip Dolalak, Ada sejak Diponegoro
SEMANGAT: Yanti, salah seorang penari yang ikut membawakan tarian jati kusumo saat latihan di Kelurahan Katerban, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, Sabtu (20/1). (BUDI AGUNG/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Dari kejauhan bunyi-bunyian dari jidur, kemprang, kendang, dan piano terdengar keras. Lagu yang disuarakan berbeda dari lagu yang kerap diperdengarkan dalam hajatan baik pernikahan atau sunatan.

Lagu tersebut merupakan bagian dari lagu-lagu khas yang dimiliki Kelompok Seni Jati Kusumo. Lagu tersebut dilantunkan dalam latihan kesenian kelompok tersebut Sabtu siang (20/2).

Kesenian yang dimainkan Jati Kusumo sangat mirip dengan dolalak. Kesenian ini sudah dikembangkan sejak era Pangeran Diponegoro awal dekade 1800 di Kelurahan Katerban, Kecamatan Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.

Ada empat perawit. Mereka masih didukung empat orang yang khusus menyanyikan lagu-lagu untuk mengiringi tarian itu. Mereka terdiri dua lelaki dan dua perempuan.

Ada beberapa perbedaan antara tarian kesenian yang dibawakan kelompk Jati Kusumo ini dengan dolalak. Tarian ini mengandung unsur pencak silat yang disebut tarian silat konto. Tarian ini mirip dengan gerakan silat di mana ada tangkisan dan tendangan.

Silat konto yang ditampilkan amat memikat. Dimainkan oleh sejumlah penari yang semuanya perempuan, tarian ini tetap memiliki kelembutan.

Sesepuh Kelompok Seni Jati Kusumo, Daryanto, menyebutkan, kemunculan kelompok ini diperkirakan usai terjadinya Perang Diponegoro menghadapi penjajah Kolonial Belanda pada 1825 sampai 1830. Kelompok seni ini tetap dilestarikan hingga saat ini. Penari yang ada sekarang termasuk keturunan keenam.

“Tarian dan nyanyian yang dibawakan ini berbeda dengan dolalak umumnya. Karena, di sini kami memegang pakem,” kata Daryanto.

Menurutnya, ada satu alat musik yang digunakan sejak awal keberadaan kelompok ini. Yakni, bedug atau jidur.

Daryanto menyebutkan, jidur tersebut sudah berusia ratusan tahun. Kondisinya tetap baik. Sementara itu, alat musik yang lain sudah mengalami pergantian beberapa kali.

Yanti, 40, salah seorang penari, mengatakan, tarian itu berasal dari Singoyudo. Nama tersebut merupakan salah satu prajurit Kabupaten Panjer yang dipimpin Bupati Kolopaking IV. Mereka merupakan pendukung dan pengikut Pangeran Diponegoro.

“Tarian konto ini konon dari gerakan silat Eyang Singoyudo. Di mana, oleh putranya yakni Eyang Kasan Rejo, dikembangkan menjadi gerakan seni tari. Di sinilah yang membedakan seni tari asli Kelurahan Katerban, Kecamatan Kutoarjo ini, dengan seni dolalak asli Kaligesing,” kata Yanti.

Dia menyatakan cukup lama tidak menarikan tarian ini. Yakni, sejak meninggalkan Kelurahan Katerban pada 1997 silam.

Kini Yanti mengaku terdorong untuk mengembalikan seni tari jati kusumo seperti dahulu. Sebab, tari yang ditampilkan sekarang sudah bergeser dari pakem.

“Tarian ini banyak nilainya kok. Karena dulu jadi media untuk menyembuhkan penyakit. Juga, untuk syiar agama. Bahkan, lirik lagu bertuliskan Arab gundul juga masih tersimpan dengan baik,” jelas Yanti. (udi/amd)

Lainnya