Tidak Neko-Neko Hidup Pasti Ayem

Tidak Neko-Neko Hidup Pasti Ayem

Radar Purworejo Ayem. Adalah posisi hidup yang didambakan setiap orang. Salah satu kuncinya yakni menghindar dari hutang. Tidak berhutang memang menjadi sebuah tantangan setiap orang. Sebab berhutang terkadang serupa candu. Membuat siapa saja ketagihan dengan dalih untuk menutup kebutuhan.

Adalah Erni Murtiningsih, 42. Owner Warung Kebon Kalasan yang memutuskan untuk jauh dari hutang demi sebuah ketenangan hidup. Benar saja! Cara pandang dan gaya hidupnya tersimak teduh dan ayem. Tidak ngoyo mengejar dunia tetapi semua tercukupi. Bahkan bisa lebih dari yang dibayangkan.
Menyimak perjalanan hidupnya, Erni adalah mantan pegawai di PT Gapura. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang usaha jasa ground handling dan kegiatan usaha lainnya yang menunjang usaha penerbangan di bandar udara. Perusahan kerja sama antara BUMN dan PT Angkasa Pura.

Erni menikah dengan Levi Agusrianto (salah satu rekan kerja di perusahaan yang sama, Red). Pasangan ini dikaruniai dua putra. Yakni Darrel Radhitya Aryastya  Rianto, 16, dan Axelle Alvaro Rianto, 11. Keluar dari zona nyaman, dan mau belajar dan berjuang sebagai pengusaha tanpa hutang, Erni kini sukses di bidang usaha kuliner berkonsep pedesaan.

“Jadi hijrah saya yakni hidup tanpa berhutang. Memang tidak mudah. Perlu keberanian untuk berjuang dan berkorban. Intinya tidak usah neko-neko, hidup apa adanya dan terus berusaha disertai doa. InsyaAllah lancar dan ayem,” ucap Owner Warung Kebon Kalasan Bagelen ini  kemarin (5/3).

Menurutnya, hutang itu mudah. Khususnya pegawai yang sudah memiliki SK, tinggal gadaikan, tanda tangan, butuh uang berapapun cair. Biasanya, setelah mau lulus (lunas,Red) kembali tergiur untuk mengambil hutang lagi atau meneruskan hutang dengan nominal yang lebih banyak.

“Dulu saya coba berhutang setelah melihat rekan. Saat lajang saya bahkan berani hutang hanya untuk traveling. Kebiasaan itu ternyata terus terbawa setelah bekerja dan berkeluarga, ingin membangun usaha, SK digadaikan. Pinjaman turun, usaha malah tutup. Sementara nyicilnya tetep,” selorohnya.

Pengalaman itu membuatnya sadar. Dia meyakini itu sebagai hidayah atau jalan untuk berhijrah. Ia memutuskan untuk tidak lagi berhutang. Tekad kuat itu ditanamkan hingga akhirnya lahir usaha kuliner yang diberi nama Warung Kebon Kalasan. Kali pertama usaha itu dibuka di bilangan Sleman, kini membuka cabang di Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo.

Erni dengan dukungan penuh suami menjalankan usaha dan modal tanpa hutang. Berhutang yang dianggapnya sebagai sebuah kesalahan membuat mereka tidak mau jatuh di lubang yang sama. Erni merasakan hutang bisa membuat hati tidak tenang. “Benar-benar bisa kecanduan. Awalnya hutang sedikit lama-lama berani banyak. Niatnya untuk mengembangkan usaha, ketika usaha surut kelimpungan membayar tagihan. Saya tidak mau lagi seperti itu,” ucap perempuan  kelahiran Bantul, 1 Maret 1978 dan kini tinggal di Dusun Kahuripan, RT 05 RW 02, Desa Kalirejo, Kecamatan Bagelen ini.

Dijelaskan, bersyukur menjadi salah satu cara untuk membebaskan diri dari candu hutang. Syarat berikutnya yakni hidup sewajarnya tidak perlu neko-neko (macam-macam,Red). Berjuang untuk membangun usaha kadang juga harus tombok, tetap jalani dan jangan lupa terus bersyukur.

“Alhamdulillah setelah saya jalani genap setahun, usaha kuliner jalan. Tidak hutang awalnya membuat ketakutan akan kehilangan dan lainnya, memang tidak mudah. Apalagi yang sudah berumah tangga, harus menyamakan persepsi, menguatkan dia dan hidup sewajarnya. Jika itu bisa maka bisa dipastikan ayem,” jelasnya

Warung Kebon Kalasan miliknya baik di Sleman dan Bagelen kini sudah banyak dikenal. Ramai dikunjungi baik perorangan, keluarga dan komunitas. “Alhamdulillah banyak yang datang. Mulai dari komunitas dan keluarga. Makanan khas jajanan desa, ada ongol-ongol, jenang, pecel, soto dan makanan khas pedesaan lainya,” ucapnya.

Erni meyakini, rezeki ada yang mengatur. Jadi untuk persaingan usaha tidak menjadi soal. Masalah kuliner itu walaupun takarannya sama. Caranya membuatnya sama, belum tentu rasanya sama.”Dan yang paling pasti rejekinya tentu berbeda-beda,” ujarnya.

Sebelum menjadi sukses membuka usaha kuliner, dia pernah menjadi reseller atau menjualkan produk orang lain. Bahkan pernah juga menjadi peternak. Hingga akhirnya melirik salah satu lahan di dekat rumah dan diubahnya menjadi tempat kuliner yang kini ramai dikunjungi di Sleman.

Fokus menekuni usaha kuliner, Erni keluar dari Gapura, perusahaan yang sempat mempertemukan dirinya dengan sang suami. “Awalnya ada lahan di dekat rumah. Kemudian membangkitkan memori masa kecil, makan di alam. Memori itu akhirnya menjadi konsep untuk meramaikan kuliner,” ujarnya.

Ditegaskan, untuk merintis usaha di bidang kuliner ada pepatah bijak yang penting jalani saja, segera buka lapakmu dan learning by doing (belajar sambil jalan,Red) nanti akan tahu apa-apa yang perlu dibenahi dan dikembangkan kedepan. “Ya Alhamdulillah, Warung Kebon Kalasan ini satu-satunya usaha saya dengan modal sendiri tidak berhutang. Tidak seperti usaha sebelumnya yang harus hutang dan semua berakhir dengan mengenaskan, dulu saya hanya keluar modal awal sekitar Rp 25 juta,” tegasnya.

Berawal dari membuat gazebo kecil dan menu hanya soto dan pecel. Seiring waktu berubah menjadi usaha kuliner yang lebih lengkap. Menurutnya, usaha kuliner memang harus memiliki spesifikasi, khususnya tempat. “Kuliner dengan menu modern mungkin lebih memilih ruko atau tempat yang cocok untuk itu. Tapi kalau menu tradisional seperti ini mungkin lebih cocok dengan nuansa alam. Menu juga yang saya sukai dan saya tawarkan dan ternyata laku,” ucapnya.

Warung Kebon Kalasan seolah terjelma dari kepribadian Erni. Warung dengan konsep sederhana, tradisional namun mengasyikkan. Buka mulai pukul 07.30 – 16.30 selalu saja ramai pengunjung, terlebih di libur akhir pekan. Pemasaran awal dari mulut ke mulut, mengundang relasi untuk sekedar mencicipi, akhirnya mulai berani mempromosikan produk di media sosial.

Mempermudah operasional, Erni membagi fungsi dapur dan pelayanan, semua diatur sedemikian rupa agar supaya tidak ribet dan memperlambat pekerjaan. “Saya juga selalu katakan kepada semua karyawan, bahwa usaha ini bukan milik saya, tetapi milik karyawan semua. Kami sama-sama partner yang saling membutuhkan. Sudah seperti keluarga dan harus maju bersama,” ujarnya.

Kunci rahasia lainnya, memanjakan pelanggan atau konsumen seperti tinggal di rumah sendiri. “Selain mempertahankan rasa, pelayanan harus ditingkatkan. Ketika pelanggan yang datang harus bisa cepat terlayani. Untuk memberikan kenyamanan jika sudah kenal harus panggil nama, sehingga mereka merasa diterima seperti di rumah sendiri,” ucapnya. (tom/din/er)

Lainnya