Selamatkan Generasi, Bagi-Bagi 1.000 Alquran

Selamatkan Generasi, Bagi-Bagi 1.000 Alquran
Bagi Gus Ahil, gerakan bagi-bagi Alquran berjalan natural. Jika semua natural, ke depan ada harapan besar untuk lahirnya program-program kebaikan lainnya.

Radar Purworejo Pendidikan adalah soal yang halus. Tidak bisa dipegang dan diurus dengan tangan besi. Asimilasi juga bukan soal darah, tetapi soal pikiran dan perasaan. Pemahaman yang amat dalam ini terpancar dari sosok HM Tashilul Manasik SPsi MPd. Pria kelahiran Salatiga, 26 Mei 1994 merupakan putra kedua KH Dawud Masykuri Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Al Maunah Plaosan Purworejo.

Tumbuh di keluarga yang sarat pendidikan, Gus Ahil sapaan akrab Tashilul Manasik luwes di kalangan anak-anak muda yang gaul milenial. Kesehariannya tidak hanya mengisi pengajian di pondok tetapi juga menjalar bersama komunitas. Maka tidak heran jika dia sering terlihat seperti anak muda pada umumnya. Melepas sarung dan peci duduk di cafe untuk meranah permasalahan yang ada di Purworejo. Khususnya untuk generasi muda.

Baginya, kalau sarungan pecian terus tidak bakal bisa membaur. Dengan seperti ini dia bisa lebih santai. Akhirnya dia mencoba pelan-pelan, aktifnya di Ansor. Dia mulai meranah, dan ternyata banyak segmen yang perlu disentuh. “Termasuk yang di luar jalur organisasi yang tidak lain untuk hal-hal kebaikan,” ucapnya, kemarin (12/3).

Gus Ahil akhirnya membuat embrio kumpulan anak-anak muda yang mau. Jumlahnya tidak banyak tetapi kompak dan bisa diajak sharing. Awalnya ia mengaku tidak ada kesengajaan, diajak membentuk program dengan dengan nama #JalanKita. Tepatnya pasca Pilbup 2020 di daerah Somongari, Kecamatan Kaligesing untuk membantu simbah-simbah yang tidur di kuburan.
Setelah ke sana, kegiatan selesai ada tokoh pemuda yang menawarkan program bagi-bagi Alquran. Akhirnya dia menyepakati. Tepat ketika dia ada acara dengan alumni Lirboyo di Wonosobo. Dia lupa dan ditagih program itu. Dia kemudian berpikir, apakah ini jalan yang harus lakukan untuk kebaikan yang lahir secara natural. Akhirnya Bismillah, dalam waktu mepet dia share ke Instagram bahwa butuh Alquran 100 dan ternyata Allah memudahkan. “Begitu diposting langsung banyak yang transfer bahkan yang awalnya targetnya hanya 37 A-quran dan 25 Iqro, mampu tembus 125 Al-Quran dan 125 Iqro untuk dibagikan ke anak-anak di Somongari,” ucapnya.

Setelah itu Gus Ahil berpikir, jika gerakan tersebut selesai dalam satu kegiatan di Somongari saja, maka akan kurang bisa memberi kemanfaatan kepada yang lain. Menemukan embriao kumpulan anak-anak muda yang mau dan saling menguatkan #JalanKita diteruskan. “Waktu itu saya sempat ingin menggunakan nama gerakan Satu Shaf, ibarat orang muslim kalau Shafnya rapi kan bergerak untuk kebaikan, tetapi itu sudah ada yang memakai. Akhirnya saya terus berpikir dan ketemu #JalanKita,” ujarnya.

Setelah menemukan nama, sekretaris GP Ansor Purworejo ini terus berpikir titik fokus. Sebab semisal membantu orang dalam bencana itu baik sekali namun biasa, sementara karena merasa dilahirkan di keluarga yang fokus di ranah pendidikan, Gus Ahil merasa harus tetap menjaga budaya pendidikan.

Mengukur kemampuan dan usianya yang masih sangat muda, dia merasa belum mampu jika harus turun melakukan pendampingan, merasa belum punya sekolah formal, Ponpes juga hanya pondok pesantren membawa pemikirannya untuk tetap bisa menyentuh atau menyemangati generasi muda di Purworejo.

“Jadi #JalanKita ini semacam perkumpulan anak muda yang sedang belajar untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik, ikhtiar belajar memberikan kemanfaatan untuk sesama walau hanya tidak seberapa, saling menguatkan, saling mengingatkan bahwa ibarat peribahasa “Wong Urip Gur Mampir Ngombe”. Ngopi sambil memperbaiki diri, jalan-jalan sambil belajar “Peduli”, diskusi sambil melengkapi apa yang kurang atau perlu dimengerti,” tuturnya.

Disinggung Gerakan 1.000 Qur’an dan Iqro untuk Generasi Emas, Gus Ahil menjelaskan, begitu pentingnya perhatian kepada generasi muda terutama anak-anak dalam hal keilmuan. Terlebih banyak di desa-desa bahkan pelosok, semangat anak-anak menuntut ilmu agama sangatlah tinggi. Ilmu agama sangatlah penting, karena dengan tertanamnya ilmu agama, menjadikan generasi masa depan yang berilmu dan berakhlak.

“Akhlak adalah kunci dalam membentuk karakter seorang anak, dengan harapan menjadikan generasi emas di masa depan. Semoga kita semua diberikan keistiqomahan berbagi semangat dengan #JalanJariyah Alquran dan Iqro’ untuk generasi masa depan kita. Setiap huruf yang dibaca dan lafadzkan, akan terus mengalir pahala kebaikan untuk semua,” katanya.

Pergerakan Gus Ahil mulai muncul ke permukaan. Dia turun langsung ke bawah menyalurkan titipan dari orang-orang, khususnya di daerah yang anak mudanya memang perlu disemangati. Menurutnya orang tua sebetulnya sangat mampu untuk membeli Alquran atau Iqro untuk anaknya, tetapi hanya tidak kober saja. “Di Somongari harga satu butir durian bisa untuk beli satu Alquran itu ibaratnya, tetapi belum kober saja. Nah kita wajib menyemangati anak-anak termasuk guru ngajinya,” katanya.

Gus Ahil mengaku, belum lama ini mendapat pesan atau nasihat dari Pengasuh Ponpes An Nawawi Berjan, KH Chalwani terkait bencana aqidah dan bagaimana mengantisipasi pergerakan kelompok radikal yang anti NKRI. “Saya saat itu juga mencoba memberi penjabaran bahwa yang harus saya sentuh juga orang-orang yang ada di luar, dimana bencana moral itu harus diselamatkan, orang-orang fokus membantu bencana alam, tetapi bencana moral yang lebih besar seolah terabaikan, Jokowi menggaungkan Revolusi Mental, nah adanya bencana alam itu juga diawali dengan adanya bencana moral yang parah, nah bagaimana caranya  untuk menanggulangi bencana moral itu,” ucapnya.

Turun menyebarkan kitab suci Alquran dan Iqro hanya satu cara dari beribu cara, minimal tokoh muda di daerah setempat bisa semangat, guru ngaji Kiai Kampung semangat. “Kalau anak-anaknya semangat maka ada jaminan mereka memiliki akhlak yang baik, menyimpan memori ketika kelak dewasa bahwa waktu kecil dulu pernah dikasih Al Quran oleh anak-anak muda yang gaul. Ya sesederhana itu,” selorohnya.

Seiring perjalanan waktu, plotingnya dan diskusi dengan banyak orang membuat banyak titik fokus yang bisa disentuh, setelah grand desainnya bagi-bagi 1000 Quran dan Iqro, ia memiliki rencana untuk gerakan kebaikan berikutnya dengan harapan bantuan teman-teman untuk kebaikan. “Sebab saya tetap tidak bisa berjalan sendiri. Tapi luar biasa, banyak kejadian unik dalam aksi pertama saya, waktu itu dompet saya lupa saya letakkan di atas mobil, isinya uang untuk membayar Alquran yang akan disumbangkan, kok ada yang mengejar dengan sepeda motor hanya untuk memberi tahu. Saya juga terharu ketika ada ibu-ibu bersyukur sekali anaknya telah diberi Alquran, saya menemukan arti bagaimana dakwah itu tidak perlu memukul tetapi merangkul,” ujarnya.

Sekayuh melakukan kegiatan sosial yang memiliki titik temunya, ia juga menitikberatkan pada pendidikan untuk mempersiapkan generasi kedepan. Menurutnya akhlak itu kunci, jika anak kecil anak muda akhlaknya baik, itu jelas karena pendalaman agamanya yang bagus. “Ibarat mengajinya semangat dengan kita memberikan Alquran kan ngajinya jadi semangat. Kemudian anak-anak mendapat akhlak yang baik pemikiran ke depan juga lebih baik. Kalau yang muda atau tua yang didekati sangat sulit, sebab jika bisa itu mungkin mergo (karena) hidayah,” selorohnya lagi.

Gus Ahil kembali menegaskan, gerakan bagi Alquran berjalan natural, itulah #JalanKita, dan jika semua natural maka ke depan ada harapan besar untuk lahirnya program-program kebaikan lainnya.

Jika ada isu yang tak kalah menarik, yakni memperjuangkan Kiai Kampung yang telah mentransfer ilmu agama dengan tulus Ikhlas. “Kalau ingat isu guru honorer yang gajinya kecil, saya juga batin Kiai Kampung itu babar blas tidak digaji, ekonominya juga mungkin di bawah, ada bantuan dari pemerintah tetap tidak sebanding dengan perjuangan beliau-beliau, namun mereka tidak pernah mengeluh saya rasa itu perjuangan mereka sangat perlu diangkat,” ucapnya

Korelasi dengan aksi bagi-bagi Alquran, sambungnya, ternyata saat turun langsung ke bawah ketika anak-anak mendapatkan Alquran hati para Kiai Kampung juga terangkat, “Mungkin mereka juga merasa bangga, setelah Lillahi Ta’ala berjuang untuk Gusti Allah dan agama,  ada jawaban, mereka merasa ditolong bukan untuk diri mereka sendiri, tetapi perjuangan untuk menumbuhkan ilmu agama kepada murid-muridnya menjadi anak-anak untuk mengajinya.  Istilahnya mungkin mereka digaji dengan kemareman, itu sudah sangat bersyukur beliau-beliau itu, saya merasakan itu,” ucapnya.

Gus Ahil bahkan punya ide, mengajak anak-anak muda untuk selalu mengingat guru ngajinya. Bisa dengan tradisi bareng-bareng menjenguk mantan guru SD atau mengaji dengan membawa hadiah bukan bantuan, ‘Itu sepertinya juga menarik, sebagai sebuah penghormatan. Bukan bantuan tetapi hadiah atau giveaway,” selorohnya lagi.

Gus Ahil memang dikenal sebagai pribadi yang suka bergaul, melakukan perbuatan atau hal yang berbeda, ia juga mengaku mengidolakan sosok Bupati Trenggalek (Mas Ipin) yang setiap kali giat turun ke bawah, masuk kampung tidur dengan warga dengan sederhana tanpa hiruk pikuk protokoler.

Menyimak riwayat pendidikannya, Gus Ahil lama tinggal di Kediri, selain Kuliah di IAIN Kediri ia juga mondok di Lirboyo, ia cukup terwarnai, ia juga mengakui bahwa lepas MTs 1 Purworejo ia belum menemukan jati diri, baru ketika masuk ke MAN Purworejo ia mulai bersentuhan komunitas, bahkan dulu dikenal dengan gank-gank.

Gus Ahil sudah mulai menunjukkan kecakapannya, ia membentuk sebuah embrio yang diberi nama komunitas Jibril (Jiwa Brandal Ingat Ilahi), komunitas itu ia pimpin sendiri, dan waktu itu ia masih duduk di bangku kelas I MAN. Banyak sekali anggotanya, dan disitulah ia mulai menemukan komunitas anak muda yang cukup beragam.

“Dulu itu beberapa kelompok ada yang di jalanan, nah Jibril ini yang lebih ingat Ilahi lah katakan saja, dan itu yang kebawa sampai sekarang, di #JalanKita ini saya juga ingin memiliki kelompok yang luwes seperti itu, pada titik poinnya yakni dakwah, karena menurut saya semua orang itu tetap butuh didakwahi untuk kebaikan,” ucapnya.

Selesai Jibril, dan dimarahi sang Bapak karena ketahuan ikut main band, tiba saatnya ia melanjutkan pendidikan ke Kediri. Sebelum berangkat ke kediri Gus Ahil berpikir, harus memberikan tinggal di Purworejo sebelum berangkat ke Kediri untuk masalah kebaikan. Akhirnya ia membuat komunitas muda bersholawat.

“Saya berangkat ke Kediri harus meninggalkan hal yang baik, karena saya akan lama di Kediri, maka saya bikin solawat se Kabupaten waktu itu undangan kami sebar mendatangkan Kiai dan Habaib dan akhirnya terciptalah komunitas pemuda Ahbaabul Musthofa Purworejo. Jadi saat saya tinggal ada tradisi pesantren yang tertinggal di sini,” katanya.

Gus Akhil kini sudah pulang ke Purworejo, ia ingin membangun romantisme gerakan yang selama ini ia titipkan, berbeda dengan gerakan lain, maka dipilihlah penampilan yang tetap luwes, “Walaupun di rumah saya tetap sarungan pecian mengajar santri, tetapi di luar saya ingin lebih soft dan nyaman, kalau pesantren jelas di rumah ngisi pengajian dan kalau duduk sama simbah-simbah yang pembahasannya tidak seperti ini, bahas soal dosas siksa dan neraka,” selorohnya.

Gus Ahil mengaku bertemu kembali dengan orang-orang baik, membesarkan embrio #JalanKita dengan tetap berafiliasi ke NKRI. “Saya tidak pernah bawa nama NU, Banser, tapi Muhammadiyah kalau mau ikut tidak masalah yang penting NKRI, jangan sampai ada yang mudah hijrah untuk mengutuk pemerintah, mudah klaim bughat pemerintah, karena semua ini dinamika, saya pingin anak-anak muda gaul di Purworejo itu tidak tergauli oleh yang kurang baik, tetap harus NKRI,” tegasnya.

Selama pandemi Gus Ahil juga memilih jalan yang lain, ketika warga sibuk mengetatkan pemasangan portal, ia menginisiasi memberikan bantuan kepada warga yang sulit ekonominya (lapar).

Menyimak riwayat pendidikan Gus Ahil juga cukup unik, setelah taman TK Masyithoh, ia masuk SD N Purworejo, jika umumnya melanjutkan ke SMP N 2 Purworejo kemudian SMAN 1 Purworejo dan menjadi orang, Gus Ahil selepas SD masuk ke MTs N 1 Purworejo, kemudian MAN, lantas berangkat ke Kediri ambil Kuliah Psikologi Islam IAIN Sunan Ampel Kediri sembari mondok di Lirboyo hingga tamat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan S2 Pendidikan Agama Islam di IAIT (Tribakti Lirboyo)

Ia juga pernah menjadi Ketua BEM Psikologi Islam Kediri, sempat aktif juga dalam Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia. Pernah juga sebagai Korwil Pengabdian Masyarakat Mahasiswa Psikologi Jawa Timur, Bali dan Sumbawa hingga mendapat kesempatan mempelajari budaya anak-anak di Bali, Sumbawa, Sidoarjo, Surabaya yang membuatnya benar-benar paham apa arti pengabdian masyarakat

Ia juga pernah aktif di LSM Suar untuk mengawal dan memperjuangkan hak-hak warga di lokalisasi di Kediri tersebut. Memberikan edukasi kepada anak-anak kecil disana, hingga menemukan arti pentingnya memberi nafkah halal bagi anak-anak. (tom/din/er)

Lainnya