Siswa Berjemur sebelum Masuk Kelas, tanpa Istirahat

Siswa Berjemur sebelum Masuk Kelas, tanpa Istirahat
SIAP UJI COBA: Siswa Kelas XII SMK Negeri 1 Purworejo tengah mengikuti ujian praktik di kompleks sekolah setempat, kemarin. (HENDRI UTOMO/Radar Purworejo)

RADAR PURWOREJO – Pemerintahan Provinsi Jawa Tengah merencanakan pelaksanaan uji coba pembelajaran tatap muka selama dua pekan mulai 5 hingga 16 April mendatang. SMKN 1 Purworejo, MAN Purworejo, dan SMAN 1 Purworejo ditunjuk untuk melaksanakannya. Seperti apa persiapannya?

Pandemi virus korona (Covid-19) berdampak di sega bidang kehidupan. Tak terkecuali bidang pendidikan. Kegiatan belajar mengajar (KBM) secara fisik dihentikan untuk digantikan KBM secara virtual. Meski, transfer ilmu yang paling efektif dilakukan secara langsung atau tatap muka.

Pemprov Jateng brniat segara menggelar pembelajaran tatap muda. Uji coba dilaksanakan selama dua pekan mulai 5 hingga 16 April mendatang.

Ada tiga sekolah di Kabupaten Purworejo yang ditunjuk. Yakni, SMKN 1 Purworejo, MAN Purworejo, dan SMAN 1 Purworejo.

Saat ini SMK Negeri 1 Purworejo telah mempersiapkan diri menghadapi uji coba PTM. Terlebih, sekolah ini merupakan peraih juara pertama Lomba Kesiapan Pembelajaran Tatap Muka Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020.

“Kami sudah lama mempersiapkan PTM. Mulai dari menyusun tim sekolah, rapat koordinasi dan menyiapkan sarana prasarana,” ucap Kepala SMKN 1 Purworejo Indriati Agung Rahayu kemarin (30/3).

Dijelaskan, SMK Negeri 1 Purworejo juga sudah menyusun prosedur operasional standar yang terdiri 23 poin. Semuanya sudah disimulasikan. Pengelola sekolah juga telah menyusun kurikulum dan jadwal berkoordinasi dengan instansi terkait.

“Kami rapat presentasi dengan Forkompimcam Banyuurip dan Puskesmas Banyuurip. Koordinasi juga kami lakukan dengan kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Purworejo selaku ketua Satgas Covid-19 Kabupaten Purworejo,” jelasnya.

Menurutnya, pendampingan dari Puskesmas Banyuurip sudah dikuatkan. Bahkan, mereka sudah melakukan penandatanganan nota kesepahaman. Jika ada siswa atau guru yang sakit maka pengelola sekolah akan langsung menghubungi puskesmas.

Sekolah juga intensif berkomunikasi dan berkonsultasi dengan Kapolres Purworejo dan Dandim 0708/Purworejo. “Saya juga konsultasi ke Bupati Purworejo dan mendapatkan arahan untuk mematuhi prokes dan ada pendampingan dari kepala BPBD,” ujarnya.

Berdasarkan prosedur operasional standar protokol kesehatan, ditegaskan, siswa harus cuci tangan pakai sabun dengan alat keran model injak. Tangan tidak menyentuh apa-apa.

Petugas Satgas Covid-19 dari sekolah juga selalu berjaga. “Siapapun akan melalui skrining. Petugas akan mengecek suhu siswa maupun guru. Jika ada suhu di atas 37 derajat (Celcius) mendapat tanda merah dan harus masuk ruang isolasi. Jika suhu bisa kembali normal dengan tanda hijau, baru diizinkan masuk,” tegasnya.

Dalam uji coba yang dilakukan di kelas praktik, Indriati menjelaskan, siswa dalam kondisi steril dan sehat saat masuk kelas. “Kami mematuhi prokes. Di tengah anak-anak praktik, kami akan cek suhu lagi. Kalau ada yang di atas 37 derajat (Celcius), kami beri tanda merah dan langsung masuk ke ruang isolasi. SOP saat pulang sama dengan saat siswa datang,” ucapnya.

Diungkapkan, SMK Negeri 1 Purworejo memiliki 1.200 siswa. Jumlah siswa yang mengikuti uji coba PTM sekitar seratus siswa. Kelas praktik di bengkel dibatasi 6 sampai 10 siswa per kelas.

Siswa yang masuk PTM harus sehat, naik kendaraan sendiri, dan jika naik angkutan umum harus menggunakan Trans Jateng.

Sebelum PTM dimulai, siswa harus berjemur. “Kami juga mengecek siswa tinggal bersama siapa. Bagi yang di pondok, kami belum izinkan ikuti simulasi,” katanya.

Terkait siswa kelas X yang rata-rata belum berusia 17 tahun dan belum memiliki surat izin mengemudi diminta untuk diantar orang tuanya. “Mereka biasanya diantar oleh orang tua. Bagaimana jika siswa rumah jauh? Itu yang masih menjadi kendala yang tengah dicarikan solusinya,” ujarnya.

Guru desain interior dan teknik furnitur kelas XIII Klasono menyatakan, siswa di kelas yang dibimbingnya sedang melaksanakan ujian praktik. Setiap kelompok terdiri delapan siswa. Sejumlah siswa terlihat sedang membuat meja komputer.

“Semoga siswa bisa masuk sekolah seperti biasa biasa. Pelajaran siswa harus teori dan praktik. Skill siswa harus melalui pelajaran praktik. Jadi, siswa tidak bisa hanya teori saja. Siswa yang sedang menempuh ujian praktik kelas 13, sudah pernah praktik selama dua tahun. Tetapi, untuk kelas 10 belum pernah pelajaran praktik sama sekali,” katanya.

Persiapan uji coba PTM juga dilakukan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purworejo. Guru maupun siswa wajib mengenakan masker, mencuci tangan pakai sabun, dan menjaga jarak.

“Kami menyiapkan tempat cuci tangan pada beberapa sudut ruangan. Anak-anak saat datang harus cuci tangan pakai sabun. Cek suhu tubuh kalau biasa (di bawah 37 derajat Celcius) bisa masuk kelas masing-masing,” ucap Kepala MAN Purworejo Khoirul Uwam.

Diterangkan, persyaratan siswa yang mengikuti uji coba PTM pada 5-16 April adalah sehat, pakai motor sendiri, diantar orang tua, dan jalan kaki atau bersepeda. Hal terpenting yakni siswa tidak naik kendaraan umum untuk menuju sekolah.

Siswa yang tinggal pondok di sekitar madrasah tetap diizinkan masuk dengan syarat jalan kaki menuju sekolah. “Guru-guru MAN Purworejo juga sudah divaksin tahap pertama dan tahan kedua kemarin (30/3). Sehingga saat PTM semua guru sudah menerima vaksin Covid-19 dua dosis. Madrasah ini bekerja sama dengan Dinkes Purworejo dan ditunjuk Rumah Sakit Amanah Umat sebagai pendamping,” ucapnya.

Sebagai madrasah di bawah Kementerian Agama, Khoirul menyatakan, pihaknya sudah diperintah Kantor Kemenag Kabupaten Purworejo dan Kantor Kemenag Provinsi Jateng untuk bersiap menyambut PTM. “Sekitar Oktober 2020 kami diperintah Kemenag kabupaten dan provinsi mempersiapkan diri untuk PTM. Kami sudah siap,” ujarnya.

Wakil Kepala Bagian Kurikulum MAN Purworejo Arif Baehaqi menambahkan, jumlah siswa ada 953 orang. Setiap kelas terdapat 36 siswa. Siswa yang sedang menempuh ujian akhir ada 318 orang.

Dalam pelaksanaan PTM, siswa akan mendapatkan 12 mata pelajaran (maple) per minggu. “Siswa menerima empat mapel peminatan, yang agama lima maple, ditambah tiga mapel umur terdiri bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dan matematika. Setiap mapel akan diajarkan dua jam pelajaran. Jadi, dalam sepekan siswa mendapatkan 24 jam pelajaran,” katanya.

Ditambahkan, setiap mata pelajaran berdurasi maksimal 30 menit. PTM tidak ada istirahat.

Saat pergantian guru, ungkapnya, guru pengganti sudah harus berdiri di depan kelas dahulu. Hal itu dimaksudkan untuk meminimalisasi interaksi antarsiswa.

Selain itu, MAN Purworejo sudah membuat buku saku berisi SOP PTM dalam pandemi Covid-19. “Buku saku tersebut berfungsi untuk sosialisasi kepada siswa. SOP mulai dari rumah sampai siswa pulang ke rumah masing-masing,” katanya.

Dikatakan, selama ini pelajaran daring yang dilakukan menerapkan kurikulum darurat. Sekolah menerapkan lima jam pelajaran sehari. Dengan aplikasi e-learning madrasah, siswa bisa mengakses apa saja. Semuanya berbasis website dan model dari Kemenag.

Dia berharap siswa tetap harus dijamin untuk menorehkan prestasi saat pandemi. “Ada beberapa prestasi di antaranya Porda Kabupaten Purworejo berhasil juara pertama untuk pencak silat dan bela diri kempo. Sedangkan bidang teknologi inovasi yang diadakan Universitas Soedirman Purwokerto, berhasil meraih juara pertama,” katanya.

Dalam bidang inovasi, siswa MAN Purworejo juga ambil bagian dalam lomba robotik yang diselenggarakan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Mengangkat tema Teknologi Pemilahan Buah Tomat oleh Penyandang Tunanetra Berdasar Kematangan, Berdasar Adunino dan Sensor Warna. “Dengan alat robotik tersebut, penyandang tunanetra bisa mengetahui buah tomat itu mentah, setengah matang, atau matang,” terangnya.

SMA Negeri 1 Purworejo juga sudah bersiap. Kepala SMA Negeri 1 Kabupaten Purworejo Nur Aziz mengaku siap melaksanakan PTM.

Pihaknya membuat beberapa pos. Di antaranya, pos siswa masuk sekolah, masuk kelas, dan masuk toilet. Sarana prasarana pun telah disiapkan seperti tempat cuci tangan, hand sanitizer, alat perlindungan diri (APD), dan desinfektan untuk penyemprotan.

“Semua kesiapan dari segi protokol kesehatan, baik sarpras dan administrasi, telah diverifikasi puskesmas. Kami telah menyediakan Ge-Nose buatan Universitas Gadjah Mada Jogjakarta sebagai sarana tracing dan testing guru maupun siswa agar jika ada yang terpapar bisa teridentifikasi,” katanya.

Guru dan karyawan sudah menjalani vaksinasi. Total ada 70 guru. Sebanyak 61 guru sudah divaksin. Sedangkan dari 28 orang karyawan, tercatat ada 23 orang yang sudah divaksin lengkap.

Uji coba pembelajaran tatap muka akan difokuskan kepada siswa kelas 10. “Kelas 10 berjumlah sebelas kelas. Akan tetapi, yang mengikuti uji coba lima kelas. Pembelajaran akan dibagi dua sesi sehari. Setiap kelas 36 siswa. Setiap sesi hanya untuk 18 siswa,” katanya. (tom/amd)

Lainnya