Butuh Sentuhan Petani Muda

Butuh Sentuhan Petani Muda
INTEGRAL: Sejumlah peserta mengikuti Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Petani Muda dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Purworejo dalam Membudidayakan, Pengolahan, dan Pemasaran Kopi di Ganesha Convention Hall Gedung Wanita Purworejo Kamis (1/4). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Pengembangan potensi kopi Kabupaten Purworejo belum maksimal. Sebab, petani muda atau kalangan milenial belum banyak berkiprah.

Milenial berusia 19 hingga 39 tahun masih lebih fokus sebagai produsen atau pengolah hasil kopi. Padahal, mereka sejatinya melek teknologi.

“Petani kopi di Purworejo harus mampu mengadaptasi perubahan zaman dengan terus berinovasi. Sehingga, budi daya dan pengolahan hasil bisa lebih efisien, efektif, berkualitas, dan terintegrasi,” ucap Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jateng VI Vita Ervina saat membuka Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Petani Muda dan Penyuluh Pertanian Kabupaten Purworejo dalam Membudidayakan, Pengolahan, dan Pemasaran Kopi di Ganesha Convention Hall Gedung Wanita Purworejo Kamis (1/4).

Bimtek ini merupakan hasil kerja sama Badan Penyuluh dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian melalui Polbangtan YoMa. Kegiatan ini sebagai wujud nyata dan bentuk komitmen kehadiran pemerintah dalam peningkatan pertumbuhan dan penguatan kapasitas calon wirausaha muda pertanian dan para penyuluh pertanian.

“Bimtek angkatan IV kali ini dipusatkan di Kabupaten Purworejo. Sebelumnya secara berturut di Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo. Bimtek tidak hanya diikuti petani muda, melainkan juga para penyuluh pertanian,” jelasnya.

Hadir dalam pembukaan antara lain Sekretaris UPPM Politeknik Pembangunan Pertanian Jogjakarta Magelang Nur Prabewi dan Kabid Perkebunan Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Purworejo Ari Sulistyani.
Peserta bimtek mendapatkan berbagai materi dari sejumlah narasumber. Ada materi teknik budidaya kopi, teknik pascapanen dan quality control, hingga teknik pemasaran dan seduh kopi.

Bimtek yang diikuti ratusan peserta dari kalangan petani muda dan penyuluh pertanian dari Kabupaten Purworejo. Kegiatan ini diharapkan menjadi bekal pengembangan komoditas kopi di Kabupaten Purworejo.

“Purworejo dengan topografi wilayah beriklim tropis basah dengan suhu antara 19-28 Celcius memiliki potensi yang besar untuk pengembangan kopi, khususnya robusta,” papar Vita.

Dijelaskan, Purworejo lebih dikenal sebagai lumbung padi dan kedelai. Namun, beberapa dataran tinggi seperti kawasan Gunung Pupur, Mentosari, Rawacacing, dan Perbukitan Menoreh sangat potensial untuk pengembangan kopi.

”Sementara kopi merupakan komoditas berpotensi tinggi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” paparnya.

Budaya ngopi sangat lekat di masyarakat Indonesia. Tak terkecuali di Kabupaten Purworejo.

Akhirnya kopi dituntut memiliki kualitas tinggi dan mempunyai keunikan tersendiri di setiap daerah. Di Kabupaten Purworejo, ada Kopi Seplawan dan Kopi Brunosari dengan jenis robusta. Banyak peminat kedua varian kopi tersebut sehingga prospektif jika digarap optimal.

Menurut Vita, banyak generasi muda mengolah dan mempromosikan kopi khas Purworejo. “Saya tahu di sini ada Komunitas Pergerakan Masyarakat Pecinta Kopi (Krema Kopi) dengan kegiatan yang keren. Menjamin petani untuk tidak ragu menanam kopi. Tidak hanya sebagai komoditas yang menghasilkan, tetapi juga sebagai konservasi alam. Mencintai kopi sekaligus melestarikan alam,” jelasnya.

Menurutnya, upaya peningkatan produksi dan mutu kopi harus dilakukan secara konsisten dan integral. Itu mulai pemilihan bibit unggul, proses tanam, pemupukan mengutamakan pupuk organik, pengolahan hasil, dan pemasaran biji atau bubuk kopi sampai ke konsumen.

Kopi Purworejo dapat diupayakan mampu bersaing dari segi kualitas dan harga di tingkat nasional. Bahkan, mampu menembus mendunia.

Untuk itu, perlu pola pikir maju dan aktif petani muda untuk pembangunan pertanian. “Mulai dari penanaman dan pemeliharaan, pengolahan, branding, packaging, dan juga pemasaran baik melalui networking maupun digital online, harus dilaksanakan secara integral,” ujarnya.

Sementara itu, Nur Prabewi menyatakan, pembangunan sumber daya manusia sangat penting dalam pengembangan pertanian. Saat ini petani usia tua menggunakan cara-cara tradisional. Produktivitasnya pun semakin minim.

Menurutnya, butuh dukungan dan peran aktif petani muda dengan segala kapasitasnya. “Keterlibatan petani muda diharapkan menjadi motor penggerak percepatan agrobisnis dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

Owner Kopi Djo Ahmad Sukron menegaskan, budaya ngopi sudah ada sejak dulu. ”Artinya, ngopi itu eksis, mengikuti perkembangan zaman maka yang dibutuhkan yakni inovasi, baik dari segi kemasan dan rasa. Market, cara blow-up, dan banyak lagi teknik pemasarannya,” ungkapnya.

Menurutnya, muara dari kopi adalah untuk kesejahteraan masyarakat. Khususnya petani. ”Produsen juga harus mendorong petani untuk menghasilkan produksi yang baik dalam segi kuantitas dan kualitas. Masing-masing harus tahu posisi,” tegasnya. (tom/amd)

Lainnya