Geliat Kampung Pande Besi Kuno di Tengah Modernisasi Zaman

Geliat Kampung Pande Besi Kuno di Tengah Modernisasi Zaman
Tukijo tak berniat alih profesi meski kini banyak himpitan yang mendera para pande besi Dusun Klopo. Dia tetap akan terus menjadi pande besi.

TERIK matahari menyambut kedatangan koran ini di Dusun Klopo, Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, Kulonprogo, kemarin (8/4). Padahal jarum jam baru menujukkan pukul 11.00. Secara umum tak ada yang berbeda kampung ini dengan daerah lain di Kulonprogo. Hamparan sawah dan tegalan tersaji di pinggiran dusun. Masuk ke dalam desa pun sama suasananya.

Yang agak menarik adalah suara dentingan besi berbenturan. Suara ini sangat kerap terdengar. Malah seperti bersahutan. Sebuah bangunan modern, mirip ruko tanpa cat berukuran lebar delapan meter dan panjang sekitar 15 meter menjadikan jujukan pertama koran ini. “Sentra Pande Besi Bina Karya” tertulis dalam papan yang tertancap di depan ruko.

Suasana ruko itu sepi dan terlihat tertutup. “Biasanya Mas. Tapi keliahatannya tutup mungkin karena hari ini sedang pasaran jadi tutup,” ujar seorang perempuan usia kisaran 30 tahunan yang kebetulan tengah menyapu halaman rumah persis di depan ruko tersebut.

Dia kemudian mengarahkan ke beberapa lokasi serupa lainnya. Namun setelah menuju lokasi yang disebut, ternyata tutup juga. “Pokoknya kalau ada suara deng-deng dekati saja. Di sana mesti ada kegiatan pande besi,” lanjut perempuan itu.

Ya, sejak 1800-an kampung itu sudah menjadi sentra pande besi di wilayah Kulonprogo. “Dari dulu sudah banyak pande besi di sini. Tapi sekarang hanya belasan saja yang masih menekuni profesi itu. Dan mayoritas dari pande besi itu sudah menggunakan mesin tempa, bukan lagi secara tradisional. Tapi masih ada satu yang tradisional. Itu keponakan saya,” ujar seorang lelaki berusia 70-an yang ditemui koran ini di salah satu workshop pande besinya.

Langkah kaki koran ini kemudian berayun menuju lokasi yang ditunjuk lelaki tersebut. Lokasinya hanya sepelemparan batu. Terlihat rumah panjang sederhana yang beratap genteng lawas. Rumah terletak di pinggir jalan desa. Tak ada pintu yang menutup workshop itu. Tumpukan arang terlihat dari depan rumah.

Begitu masuk, ada tiga orang lelaki tengah menajamkan sabit. Sementara satu orang lainnya terlihat tengah membakar besi di sebuah tungku besar. Hawa panas langsung menyergap tubuh begitu masuk lebih dalam ke ruangan. “Saya memang dari awal tidak memakai mesin tempa untuk pekerjaan sehari-hari. Semua saya lakukan dengan menggunakan tangan. Mulai dari memotong besi, membentuk hingga mengasah semuanya masih manual. Hanya saya pakai blower listrik untuk menyalakan api,” ujar Tukijo, 50, pemilik workshop pande besi itu kepada koran ini.

Tukijo menjadi satu-satunya pande besi di kampung itu yang masih menggunakan cara-cara manual. Sementara yang lainnya sudah beralih menggunakan teknologi modern. Teknologi mesin modern sebagai alat bantu pande besi mulai masuk di kampung tersebut sekitar dua tahun silam. Ada pande besi kampung di situ yang berinovasi menggunakan mesin. Kemudian banyak pande besi lainnya yang tertarik menggunakan alat bantu mesin.

“Kalau yang modern itu pakai mesin tempa Mas. Biasanya menggunakan genset untuk mengayunkan besi saat membentuk alat pertanian dari besi. Itu memang lebih cepat dan tak perlu orang banyak. Satu orang saja cukup,” kata dia.

Lelaki yang merupakan warga asli kampung tersebut beralasan menggunakan cara manual lebih cocok di hatinya. Dia merasa kalau menggunakan mesin modern kurang puas dengan hasilnya. “Saya sama sekali belum pernah mencoba pakai alat modern Mas. Tapi saat saya melihat teman-teman yang pakai alat modern kelihatannya kurang sreg saja,” ujar dia.

Ilmu yang dikuasai Tukijo berasal dari ayahnya yang juga pande besi tradisional di kampung itu. “Saya dan dua saudara saya belajar pande dari bapak. Semuanya sekarang jadi pande besi. Cuma yang dua sudah pakai alat modern. Hanya saya yang masih bertahan dengan cara lama,” ujar dia.

Tukijo tak hanya mengandalkan ilmu pande dari turunan bapaknya. Ternyata dia sempat menimba ilmu di Temanggung. Dia menetap tiga hari di Temanggung. Di sana dia juga balajar membuat perkakas besi dengan cara tradisional. “Di sana hebat-hebat. Saya sendiri sampai sekarang belum bisa menghasilkan barang yang kualitasnya sama persis di Temanggung. Tapi alhamdulillah hingga saat ini tak ada pelanggan saya yang komplai,” tukas dia.

Alat- alat yang biasanya dihasilkan Tukijo mayoritas adalah untuk pertanian. Seperti parang, sabit, dan cangkul. Hasil karya ini kebanyakan dibikin dulu kemudian dipasarkan. Tapi ada beberapa  yang sengaja dibikin berdasar pesanan. Pelanggannya mayoritas dari lingkungan kampung dan desa setempat. Maklum daerah itu masih mengandalkan pertanian sebagai mata pencaharian pokok.

Kini para perajin besi di Dusun Klopo tengah tergencet oleh serbuan alat besi yang berasal dari Tiongkok. “Sekarang Rp 30 ribu sudah dapat parang, atau sabit. Kalau cangkul memang masih agak mahal. Sementara sabit dan parang bikinan saya biasanya dijual Rp 60 ribu per bilah. Tentu sangat merugikan kami sebagai pande besi lokal,” ujar dia.

Barang-barang asal Tiongkok ini sudah masuk ke pasar-pasar tradisional. Termasuk pasar-pasar yang selama ini menjadi jujukan pada pande besi Dusun Klopo. Dan parahnya lagi, konsumen lebih memilih barang impor Tiongkok tersebut. “Ya bagaimana lagi harganya lebih murah. Kalau kualitas sebenarnya bagus yang bikinan kami. Tapi yang apa mau dikata kami kalah di harga,” ujar dia.

Untuk bahan baku sebenarnya tidak sulit didapat. Dia biasanya mendapat pasokan bahan dari pedagang khusus bahan baku. Beberapa dia cari dari besi loakan. Terlihat beberapa besi bekas teronggok di bengkel milik Tukijo. Seperti besi bekas rel kereta dengan panjang satu meter. “Ini bahan yang bagus. Biasanya kalau yang dari rel ini untuk bahan cangkul. Ini kuat mas. Karena besinya cukup tebal,” ujar dia sembari memamerkan potongan besi bekas rel kepada koran ini.

Tukijo tak berniat alih profesi meski kini banyak himpitan yang mendera para pande besi Dusun Klopo. Dia tetap akan terus menjadi pande besi. (nan/laz/er)

Lainnya