Kolor Ijo Curi Pakaian Dalam Pink

Kolor Ijo Curi Pakaian Dalam Pink
MENYIMPANG: TS dan RH, pelaku pencurian pakaian dalam perempuan saat dikeler di Mapolres Purworejo kemarin (9/4). (HENDI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Pelaku pencurian pakaian dalam perempuan yakni TS alias Tri, 28, meringkuk di sel tahanan Mapolres Purworejo. Warga Desa Kroyo, Kecamatan Gebang, Kabupaten Purworejo, tersebut terancam hukuman penjara dalam waktu lama. Dia bisa berada di sel tahanan hingga selama lima belas tahun.

Pelaku pencurian pakaian dalam perempuan ini disebut warga sebagai kolor ijo. Banyak warga Desa Kroyo sering kehilangan pakaian dalam sejak 2018 silam.
Selain mengamankan dua tersangka, polisi juga menyita barang bukti. Dari bukti yang ada terungkap kedua pelaku banyak mencuri pakaian dalam berwarna pink.

Di antaranya, kaos dalam warna pink, satu buah celana dalam warna pink, satu baju tidur lengan panjang warna pink, dan satu celana tidur panjang warna pink. Ada pula satu bustehouder (BH/bra) warna krem.

“Kami juga amankan satu buah sprei warna pink dan satu buah selimut warna hijau. Pakaian itu digunakan untuk menyaru dan target sasarannya yakni pakaian dalam wanita,” ungkap KBO Reskrim Polres Purworejo Iptu Kusen Martono di dampingi Kasubbag Humas Iptu Madrim kemarin (9/4).

TS mengakui semua perbuatannya kepada polisi. Dia juga mengaku tak beraksi sendiri. Dia mencuri pakaian dalam perempuan bersama tersangka lain berinisial RH alias Gidil, 30, warga Desa Kroyo.

Bahkan, TS dan RH tak hanya mencuri pakaian dalam perempuan. Mereka, ternyata, juga mencabuli anak di bawah umur.

“Dari hasil pemeriksaan, kedua pelaku juga mengakui pernah melakukan perbuatan cabul kepada dua anak di bawah umur di Desa Kroyo. Pihak korban juga sudah melaporkannya ke polisi,” paparnya.

Kasus hilangnya pakaian dalam warga Desa Kroyo sempat viral tiga tahun lalu. Namun, pelakunya baru terungkap saat ini.

TS dan RH dijerat melanggar pasal 76 E jo pasal 82 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2016 Tentang Perubahan kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak. Ancaman hukumannya yakni penjara maksimal lima belas tahun. (tom/amd)

Lainnya