Menilik Suka Duka Para Vaksinator Covid-19

Menilik Suka Duka Para Vaksinator Covid-19
Wakil Gubernur DIJ Paku Alam X menyapa para tenaga medis yang sedang melakukan tugas vaksinasi.

Tenaga kesehatan (nakes) memiliki tanggung jawab besar dalam menuntaskan pandemi Covid-19. Menjadi vaksinator dalam vaksinasi masal Covid-19, tugas mereka tak sekadar menyutikkan vaksin. Apa peran lainnya?

Terpilih sebagai petugas vaksinasi menjadi kebanggaan bagi Dian Wisnuwati. Petugas medis dari Puskesmas Mlati I, Sleman ini bertugas melaksanakan penyuntikan peserta vaksin masal di Jogja Expo Center (JEC) beberapa waktu lalu.

Mulai dari teman sejawatnya atau para petugas kesehatan (nakes) hingga pelayan publik sudah disuntik vaksin olehnya selama menjadi vaksinator. Pelaksanaan vaksinasi di JEC, menjadi sasaran terbanyak yang harus ia suntik. “Sehari targetnya 2.500 peserta dibagi dua sesi pagi dan siang sampai pukul 16.00,” katanya kepada Radar Jogja.

Ribuan orang dengan berbagai reaksi saat divaksinasi pun sudah dihadapi. Tetapi, tidak menurunkan semangatnya sebagai garda terdepan dalam menghadapi pandemi di Indonesia ini. Menurut dia, ada yang takut. Tapi takutnya cuma sama jarum suntik aja. “Tidak ada yang sampai menolak, jadi tidak ada trik khusus,” ujarnya.

Penyuntikan bagi pelayan publik Aparatur Sipil Negara (ASN), hingga pekerja media. Sebab, pada teknisnya vaksinator yang ada digilir dengan vaksinator dari puskesmas atau rumah sakit tertentu se-DIJ.

Meski begitu, sebagai nakes di Puskesmas ia juga melayani vaksinasi secara jemput bola di instansi-instansi tertentu. Biasanya, sasaran penyuntikan jemput bola ini antara 100-180 peserta vaksin yang disuntik. Misalnya, jemput bola dilakukan di Kelurahan atau sekolahan-sekolahan. Dengan jumlah tenaga pendidik yang lebih banyak. “Kami mempertimbangkan wilayahnya, kalau misalkan jauh dari puskesmas dan pelaksanaan vaksinasi ya kami yang mendatangi,” jelasnya.

Para vaksinator ini juga telah mendapat sertifikat sebagai petugas vaksinasi. Sebelumnya telah mengikuti pelatihan vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan. “Keempat meja vaksinasi itu sudah dilakukan pelatihan semua. Dari mulai pendaftaran, skrining, pelaksanaan vaksinasi, dan observasi KIPI,” terangnya.

Begitu juga dengan, Mulyani Herkrisna Mukti, salah satu petugas vaksinasi dari Rumah Sakit Bethesda Jogja. Meskipun memang sudah menjadi tugasnya sebagai seorang tenaga medis, ia merasa bangga terpilih sebagai seorang vaksinator. “Sebelumnya saya sudah siap kalau terpilih sebagai vaksinator. Puji Tuhan bangga,” katanya.

Sebagai vaksinator, sudah menjadi kewajibannya untuk menjelaskan kepada peserta vaksin terkait timbulnya KIPI yang menjadi efek dari imunisasi. Namun begitu, masyarakat dikatakan tetap antusias untuk divaksinasi. Tidak ada penolakan yang terjadi satupun yang ditemui. “Semangat dan antusiasme masyarakat menjadi energi bagi kami. Kami juga ikut senang, saat banyak masyarakat yang datang dan ikut vaksinasi,” jabarnya.

Selain sebagai vaksinator, perempuan 46 tahun itu juga bekerja digarda depan penanganan Covid-19 selama ini yakni sebagai penanggungjawab ruang ICU khusus menangani Covid-19. Meski dikatakan lelah, lantaran selama bertugas di ICU harus mengenakan APD level 3 kala menangani pasien  yang rata-rata dirawat tak henti-henti antara 9-10 orang per harinya. “Tidak mungkin tanpa APD. Kalau lelah pasti tapi karena ini bagian dari pelayanan kami, jadi ya kami lakukan dengan senang hati,” jabarnya. “Semoga dengan vaksinasi ini, pandemi segera berakhir. Jadi kita bisa melakukan pelayanan seperti biasa tanpa ada jarak dengan pasien dan tanpa APD lengkap,” tambahnya. (pra/din/er)

Lainnya