Tiga Hari Sekali Kebakaran

Tiga Hari Sekali Kebakaran
Kejadian kebakaran di wilayah Sampang, Sempor akibat korsleting listrik pada Kamis (8/4).Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini.

Radar Kebumen Selama dua tahun terakhir, kasus kebakaran di wilayah Kabupaten Kebumen mencapai 100 kasus setiap tahun. Dari jumlah itu, jika dirata-rata, kebakaran terjadi setiap tiga hari sekali.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kebumen Agung Pambudi menjelaskan, kebakaran paling banyak didominiasi oleh merambatnya api dari pembakaran genting yang lokasinya berada dekat rumah. Selain itu, korsleting listrik akibat tidak standarnya kabel juga menjadi penyebab kebakaran. “Serta lupa mematikan kompor,” kata Agung kemarin (11/4).

Saat ini, petugas pemadam kebakaran (damkar) yang dimiliki Satpol PP Kebumen tidak mencapai 100 orang. Jumlah tersebut sangatlah terbatas. Mengingat, pekerjaan damkar juga sebagai penyelamatan. Bukan hanya untuk memadamkan api saja. “Misal ada yang terjebak di lantai tiga saat kebakaran, adanya pohon tumbang, hingga operasi pembasmian sarang tawon,” lanjutnya.
Pekerjaan tersebut, kata Agung, harus didukung dengan keahlian petugas.

Hanya saja, diklat dan penambahan skill petugas damkar masih sangat minim. Hal ini karena anggaran yang diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Kebumen juga terbatas dan harus dialokasikan untuk keperluan lain. “Biasanya, petugas mengakalinya dengan latihan sendiri. Seperti turun dari gedung lantai tiga untuk penyelamatan korban,” bebernya.

Untuk bisa menekan kasus kebakaran, lanjut Agung, sosialisasi ke masyarakat juga diperlukan. Seperti memberikan edukasi terkait langkah apa yang dilakukan saat adanya kebakaran gas. Cara ini, sebaiknya dilakukan secara langsung. Karena tidak semua masyarakat desa khususnya orang tua yang menggunakan media sosial. “Seperti penjelasan untuk membuka jendela agar gas tidak tertahan dalam ruangan, dan tidak menghidupkan listrik. Sehingga tidak menimbulkan percikan api dan kebakaran,” jelas Agung.

Luasnya wilayah Kebumen, juga menjadi kendala saat jauhnya lokasi kebakaran. Selain di posko utama, unit mobil kebakaran juga disiapkan di perwakilan damkar. Berada di wilayah Prembun, Gombong dan Petanahan. Response time dari petugas, adalah 15 menit dengan jarak tempuh sekitar 7,2 kilometer. “Kalau jauh dan kebakaran besar, satu unit pasti akan kewalahan. Meskipun unit mobil lainnya segera menyusul saat terjadi kebakaran,” ungkapnya.

Agung berharap, ke depan, aduan masyarakat untuk layanan darurat juga bisa dibenahi. Misalnya kebakaran, nantinya akan ada ambulan yang turut dikirimkan bersama dengan mobil damkar. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi hilangnya nyawa masyarakat karena penanganan yang lamban.
Dari laporan terakhir, kebakaran terjadi pada Kamis (8/4) di Desa Sampang, Sempor akibat korsleting listrik. Api melahap rumah Ibu Misem dan mengakibatkan 75 persen rumah nonpermanen itu ludes, alat dapur dan padi 200 kilogram terbakar. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian ditaksir mencapai Rp 8 juta. (eno/din/er)

FAKTA KEBAKARAN DI KEBUMEN:

  • Kebakaran paling banyak didominiasi oleh merambatnya api dari pembakaran genting yang lokasinya berada dekat rumah.
  • Korsleting listrik akibat tidak standarnya kabel.
  • Lupa mematikan kompor.
  • Petugas pemadam kebakaran (damkar) Satpol PP Kebumen tidak mencapai 100 orang.
  • Luasnya wilayah Kebumen, menjadi kendala.
  • anggaran yang diberikan juga terbatas dan harus dialokasikan untuk keperluan lain.

Lainnya