Kuliner Jadul Pawiro Ranti, Nasi Brekat Bungkus Daun Jati

Kuliner Jadul Pawiro Ranti, Nasi Brekat Bungkus Daun Jati
Sri Suyatmi, 60, penjual nasi brekat warga Padukuhan Tawarsari, Wonosari, sedang melayani pembeli.

Prospek bisnis kuliner memang tak ada matinya. Asal rasa dan rupa menggugah selera, menu zaman dulu (jadul) seperti nasi brekat bungkus daun jati, memiliki pangsa pasar tersendiri.

Penjual menu nasi brekat ini bernama Sri Suyatmi, 60, warga Padukuhan Tawarsari, Kalurahan Wonosari, Kapanewon Wonosari. Adalah bungsu dari empat bersaudara keturunan Pawiro Ranti, pedagang ulung palawija asal Wonosari itu membuat menu nasi brekat.

Rupanya si ibu itu pewaris kuliner sejati. Setelah terbukti meneruskan usaha orang tua membuat abon sapi dan kerupuk, menu baru nasi brekat pun laris manis tanjung kimpul alias laris banget.

Start awal menu kicikan daging, lanjut bikin nasi berkat,” kata Sri Suyatmi saat ditemui di rumah yang sekaligus dijadikan tempat jualan beberapa waku lalu.

Dikatakan, konsumen lokal selain masyarakat umum banyak pelanggan datang dari perkantoran lembaga pemerintah dan perbankan. Pendek kata, menu olahannya dinikmati dari berbagai kalangan.

Isi menu olahan bungkus daun jati apa terdiri atas nasi, mi, oseng, srundeng, serta lauk berupa telur, daging sapi atau ayam. “Peminatnya juga dari luar Gunungkidul seperti, Solo, Bantul dan Kota Jogja,” ujarnya.

Saking larisnya, tidak sedikit menu miliknya dipasarkan secara online oleh pembeli melalui akun media sosial (medsos) masing-masing. Tidak sedikit pembeli dari luar kota memesan melalui telepon lalu diambil, maupun pesan antar atau drive thru. Tak jarang melayani pembeli asal Jakarta. Pengiriman nasi brekat dititipkan ke bus AKAP yang melayani trayek ke lokasi dekat dengan pembeli. “Tidak basi sampai Jakarta. Asal cara mengemasnya benar,” ungkapnya.

Olahan nasi brekat, baik nasi maupun pelengkapan tak akan basi selama 1 x 24 jam. Teknik menyiapkan melalui proses mendinginkan nasi dengan cara ‘di-ngi’ (dikipas menggunakan kipas anyaman bambu berukuran besar). Setelah benar-benar dingin, baru dikemas dengan dibungkus daun jati. Dengan begitu, sampai di kota tujuan kondisi nasi dan lauk pelengkapnya masih dalam kondisi baik.

“Dibantu enam pekerja, mulai pukul 03.00 dini hari memasak 25 kilogram beras, sekaligus mengolah bahan-bahan masakan yang lain,” ujarnya.

Minimal per hari pihaknya bisa menjual 200 bungkus nasi brekat. Terkadang jumlah penjualan sekali tempo dapat jauh melebihi jumlah penjualan rata-rata harian jika ada pesanan skala besar.

Mengenai harga, ada dua pilihan. Mulai Rp 8 ribu hingga Rp 10 ribu. Selain menu nasi brekat, juga disediakan menu olahan khas desa lain. Ada puli, tahu, tempe baik dibacem maupun goreng serta apem. “Asal mau berusaha dan berinovasi, jualan apa pun ada peminatnya,” ujarnya.

Dia mengaku bersyukur di tengah pandemi Covid-19 usaha kuliner miliknya masih bisa eksis. Mengenai adaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi, pihaknya berusaha maksimal menaati protokol kesehatan (prokes). Menyediakan sarana cuci tangan, mengingatkan jika ada kerumunan melebihi ketentuan bagian dari upaya meminimalisasi persebaran virus korona. “Semoga pandemi segera berlalu,” pintanya dalam doa.

Sementara itu, seorang pembeli, Yanto mengaku baru pertama singgah ke warung  Pawiro Ranti. Pengalaman pertama begitu menggoda, kata dia. Tempatnya sederhana namun nyaman. Bersama teman-temannya bisa beristirahat usai perjalanan.

Lokasi dan menu jualan nasi brekat, menurutnya, Instagramable. Terbukti, baru beberapa menit diposting ke medsos, mendapat respons meriah dari nitizen. Menurutnya, hal ini dapat dijadikan tolak ukur bahwa menu tersebut sangat diterima pasar. “Semoga bisa berkunjung ke sini lagi,” ucap mahasiswa di Jogja ini. (laz/din/er)

Lainnya