Batasi Pengunjung, Seminggu Buka Tiga Kali

Batasi Pengunjung, Seminggu Buka Tiga Kali
Pasar Ramadan Langenastran dibanjiri pengunjung. Tak hanya makanan dan minuman khas saat Ramadan, di lokasi ini banyak penjual pakaian dan aksesoris.

JOGJA Kasus Covid-19 di Kota Jogja selama sembilan minggu terakhir terbilang stabil, tidak mengalami kenaikan maupun penurunan. Satgas Kota terus berupaya menurunkan kasus, salah satunya dengan memperketat pelaksanaan pasar sore Ramadan yang masih menimbulkan kerumunan.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, potensi penyebab kasus baru yang muncul tiap minggu tidak mengalami kenaikan maupun penurunan karena masih ada kontak erat dalam keluarga. Bisa diperoleh dari kantor atau adanya kontak erat dengan perjalanan luar kota dan dari tempat yang berpotensi sebaran virus.

“Kasus Covid-19 saat ini belum beranjak turun lagi. Kita semua sedang mencoba untuk menurunkan kasus baru yang terjadi,” kata HP kemarin (16/4). Salah satu upayanya bakal memperketat lagi pelaksanaan pasar sore Ramadan yang hingga kini masih berpotensi memunculkan kerumunan.

Meskipun Satgas Kota telah menyusun aturan guna antisipasi itu, kerumunan masih tidak bisa dihindarkan. “Ada opsi-opsi yang sedang kami buat, misalnya pembatasan hari buka. Bisa seminggu tiga kali,” ujarnya. Atau aturan lain pembatasan jumlah pengunjung dengan melakukan penutupan sejumlah arus jalan yang berakses pada kerumunan.

Dengan demikian ada batas maksimal yang boleh dan bisa masuk area pasar sore Ramadan. “Dan pembatasannya adalah dengan jumlah yang dipastikan tidak menimbulkan kerumunan,”  jelasnya.

Wakil Wali Kota Jogja ini bakal segera menerapkan kebijakan pengetatan yang memungkinkan untuk diterapkan pada pelaksanaan pasar sore Ramadan. Minggu ini ditargetkan melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan sebelumnya.

Dikatakan, tidak sedikit pasar sore Ramadan yang bisa menjalani protokol kesehatan (prokes)  yang tidak menimbulkan kerumunan. Tetapi, ada juga pasar sore Ramadan yang menjadi perhatiannya saat ini masih belum bisa mengatasi kerumunan. “Artinya meskipun panitia sudah mencoba, pada kenyataannya masih menimbulkan kerumunan. Perlu dievaluasi dan dilakukan pengetatan mekanisme dan caranya,” terangnya.

Selain itu, mantan wartawan ini juga mengapresiasi kepada takmir masjid yang menyelenggarakan salat tarawih dengan pembatasan jumlah dan penerapan prokes tinggi. Serta kesadaran masyarakat untuk tidak membentuk kerumunan atau menghindari kerumunan. “Sebab jika abai dan tidak disiplin prokes, maka yang terkena anggota keluarganya,” tambahnya.

Dia menyebut setiap minggu sekitar 150-an kasus baru yang muncul. Hal ini perlu ada perhatian serius Satgas Kota agar bisa menurunkan. Meski begitu, vaksinasi yang sudah mencapai 90 ribuan penerima mencakup semua kalangan adalah upaya agar sebaran semakin berkurang.

“Saat ini kami juga akan perkuat monitoring potensi kerumunan di RT/RW dan aktivitas masyarakat. Kebijakan PPKM mikro adalah upaya membatasi dan monitoring wilayah supaya sebaran tidak terjadi di wilayah permukiman,” katanya. (wia/din/er)

Lainnya