100 Piring Tiap Hari, Plus Krecek, Mi Lethek, dan Santan

100 Piring Tiap Hari, Plus Krecek, Mi Lethek, dan Santan
Pengurus masjid menyiapkan bubur lodeh yang disajikan dengan piring. Warga yang mengikuti takjilan menerapkan prokes ketat.

Bantul Saat matahari condong ke arah barat, aroma gurih mulai menyebar di sekitar Masjid Sabilurrosyaad di Dusun Kauman, Kalurahan Wijirejo, Kapanewon Pandak, Bantul. Nuansa hangat, yang tak terhidang pada Ramadan tahun lalu.

Masjid ini memang istimewa. Berdiri sejak abad ke-16, masjid konsisten membagikan bubur lodeh sebagai sajian berbuka puasa. Alih-alih membosankan, bubur lodeh justru menyelip rindu akan hadirnya bulan suci Ramadan.

Warga Dusun Kauman memang terbiasa menyantap bubur untuk menu berbuka puasa. Tradisi ini dikenal oleh warga sejak masa kanak-kanak dan diturunkan oleh leluhurnya. Tidak heran, banyak warga yang datang membawa serta buah hatinya saat takjilan.

Ada pula warga yang hanya mampir sebentar ke masjid. Mengulungkan mangkuk untuk meminta bubur, lalu pulang. “Ini ngangenin (bubur yang dibuat pengurus Masjid Sabilurrosyaad, Red). Di sini buburnya beda dengan yang lain. Jadi Ramadan itu, khas rasanya ya itu (bubur lodeh, Red), yang bikin kangen,” cetus Salis Siswanti, salah seorang warga yang hadir dalam takjilan sore itu (16/4).

Salis juga datang ke masjid dengan membawa buah hatinya. Tidak segan perempuan 48 tahun ini pun menenteng dua mangkuk plastik. Sedikit tersipu, dia mengungkap, ternyata dia memintakan bubur bagi anggota keluarganya yang tidak bisa datang sendiri untuk takjilan. “Karena sekarang masih pandemi, jadi yang boleh datang terbatas,” ungkapnya.

Ketua Takmir Masjid Sabilurrosyaad Hariyadi menuturkan, takjil bubur lodeh merupakan tradisi yang memang dilestarikan. Menurut kepercayaan, tradisi ini merupakan warisan Panembahan Bodo. “Kalau tidak buka dengan bubur, rasanya tidak enak. Tapi di sisi lain. takjil dengan bubur sarat dengan pesan atau nilai adiluhung,” ujarnya.

Pertama, bubur berasal dari kata bibirin. Dalam bahasa Arab, bibirin berarti hal yang bagus. Artinya, mereka atau umat yang masuk ke masjid nanti akan mendapat hal yang bagus, yaitu ajaran agama Islam. Kedua, bubur juga bermakna beber. Maksudnya, umat yang ke masjid selain mendapat bubur juga akan mendapatkan penjelasan ajaran agama Islam.

Ketiga, bubur juga bermakna babar, di mana memiliki pertimbangan ekonomis. Sebab dengan bahan sedikit, semua bisa mendapatkan bubur yang dibagi. “Itu babar, harapannya seperti itu, agama Islam bisa merata bagi seluruh kalangan baik secara strata sosial dan ekonomi,” jelasnya.

Terakhir, tekstur bubur yang lembut pun dimaknai sebagai perlambangan. Dalam mengajarkan agama Islam harus lemah lembut. Tidak boleh dengan kekerasan. “Sehingga mudah dicerna, mudah dipahami dan diamalkan. Seperti halnya bubur yang cocok dengan perut kita saat buka puasa,” kata pria yang juga menjabat Carik Wijirejo itu.

Sementara pemilihan sayur lodeh, ternyata menyesuaikan misi keraton. Di mana sayur lodeh perlambang introspeksi diri. “Sayur lodeh merupakan simbol perintah keraton bahwa masyarakat harus introspeksi. Biasanya kalau ada gejolak sosial atau masyarakat, itu pada nyayur lodeh,” paparnya.

Tiap harinya  pengurus masjid menghidangkan sekitar 100 piring bubur lodeh. Bubur tersaji dengan tambahan krecek, mi lethek, dan telur santan kuning. Warga yang hadir dalam takjilan diatur duduknya dengan jarak sekitar satu meter. Warga juga diwajibkan menggunakan masker. (din)

Lainnya