Siapa Saja Boleh Nyumbang, Siapa Saja Boleh Ambil

Siapa Saja Boleh Nyumbang, Siapa Saja Boleh Ambil
IKHLAS: Takjil dan makanan gratis yang disediakan di Gerobak Cinta Ramadan Desa Krandegan saat Ramadan kemarin (21/4). (JIHAN ARON VAHERA/ADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOEJO – Pemerintah Desa Krandegan di Kecamatan Butuh, Kabupaten Purworejo terus berupaya menggerakkan warga untuk saling membantu. Warga dapat berpatisipasi melalui program Telu Nulung Siji hingga Gerobak Cinta versi Ramadan.

“Sejak adanya pandemi tahun lalu, kami memetakan warga kami, dan kami beri istilah Telu Nulung Siji. Yang artinya, tiga keluarga menolong satu keluarga.”
Pernyataan itu dilontarkan Kepala Desa Krandegan Dwinanto kepada Radar Purworejo Rabu (21/4). Dia mengaku memetakan warga menjadi tiga kelompok. Yakni, kelompok hijau, kuning, dan merah.

Kelompok hijau yaitu keluarga mampu dan bisa membantu warga lain. Kelompok kuning merupakan kelompok warga tidak mampu tetapi masih bisa makan. Kategori kelompok merah yaitu warga tidak mampu yang kesulitan makan secara layak.

“Untuk itu, hingga kini kami masih mengoperasikan dapur umum kami untuk keluarga merah. Sedangkan keluarga yang mampu bisa membantu berupa uang, makanan siap saji, ataupun bahan makanan,” ujar dia.

Dana untuk dapur umum berasal dari infak dan sedekah dari warga Desa Krandegan maupun donatur lain. “Jumlah KK (kepala keluarga) yang kami berikan makan rutin itu ada lima puluh KK. Lainnya sukarela, yang diletakkan di Gerobak Cinta kami. Bisa seratus hingga dua ratus begitu (makanan),” ungkap Dwinanto.

Gerobak Cinta biasanya digunakan untuk berjualan snack. Gerobak Cinta menampung dagangan hasil olahan ibu-ibu kelompok boga desa tersebut. “Khusus di bulan Ramadan ini, Gerobak Cinta ini kami alihfungsikan karena kegiatan berjualan snack sementara diliburkan,” katanya.

Kala Ramadan ini, Gerobak Cinta digunakan sebagai tempat display aneka makanan, minuman, dan snack menu berbuka puasa. Makanan dan minuman tersebut bagikan secara gratis kepada warga yang membutuhkan. “Siapa saja boleh menyumbang, siapa saja boleh mengambil,” terang dia.

Ketika hari pertama beroperasi saat Ramadan, makanan yang distribusikan sebanyak 75 dus ukuran jumbo serta 30 bungkus es buah dan dawet. “Mengacu tahun lalu, makin hari akan makin bertambah sampai ke angka ratusan set makanan siap saji, insyaallah,” paparnya.

Dwinanto berharap semangat gotong royong yang sudah terbentuk di Desa Krandegan akan terus berjalan dan terjaga. Bukan hanya saat pandemi saja. Tapi, juga setelah pandemi berlalu. Sebab, program-program tersebut menjadi salah satu upaya untuk mengentaskan kemiskinan.

Salah seorang pengurus Tim PKK Desa Krandegan Fitria Ambarini mengaku senang dengan program-program yang ada di desanya tersebut. “Asyik dan senang, ya. Kami kan juga sudah terbiasa bareng-bareng di PKK untuk pekerjaan sosial begitu. Kalau tidak melakukan, jadi ada yang kurang. Jadi, ketika kami diminta untuk ikut andil dalam program ini, kami bersyukur dan senang,” sebut dia.

Fitria menyebutkan, timnya yang ada di dapur umum bertugas mengolah segala jenis makanan yang akan diedarkan kepada warga. Mereka bekerja setiap hari.
Biasanya mereka mengolah makanan mulai pukul 06.00 dan diantarkan ke warga sekitar pukul 11.00. Sedang saat Ramadan, mereka mulai mengolah makanan pukul 11.00 dan distribusikan pukul 16.00.

“Kami bagi tugas. Setiap hari kami juga variasikan menunya agar tidak bosan. Nanti kalau sudah selesai masak, sebagian diantar ke warga, sebagian diletakkan di gerobak (Gerobak Cinta),” tandas Fitria. (han/amd)

Lainnya