Mudah Dibudidayakan, Cocok Ditanam di Gunungkidul

Mudah Dibudidayakan, Cocok Ditanam di Gunungkidul
Petani tanaman Porang warga Padukuhan Sumberejo, Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo, Senen menunjukkan tanaman porang yang memasuki fase istirahat akhir pekan lalu.

Gunungkidul Tanaman yang bernama latin Amorphophallus Muelleri ini juga banyak tumbuh di Bumi Handayani. Porang kini jadi primadona. Karena nilai ekonomisnya tinggi. Termasuk permintaan untuk ekspor ke luar negeri.

Masyarakat awam sering terkecoh dengan tanaman porang tersebut. Sebab ada beberapa jenis tanaman lain yang sangat mirip dengan porang. Yakni suweg, iles-iles, dan walur. Ketiga tanaman itu sama dengan porang yakni tumbuhan liar di hutan atau ladang.

Namun kali ini Radar Jogja ingin mengajak pembaca langsung berkunjung ke lokasi budidaya porang di Padukuhan Sumberejo, Kalurahan Karangmojo, Kapanewon Karangmojo.

Pada lahan 2,5 hektare seorang warga, Senen menanam porang bekerjasama dengan salah satu perusahaan di Jogjakarta. Dengan sistem sewa, Senen sekaligus memelihara sekitar 110 ribu batang atau sekitar 7 sampai 8 kwintal bibit yang ditanam sejak November 2020.

“Saat ini  tanaman porang masuk fase dorman (fase istirahat, daunnya layu sehingga tampak seolah-olah mati) dan hijau lagi pada bulan November,” kata Senen.

Dia mengaku sejauh ini telah mengirim hasil panen ke perusahaan. Buah dipanen sebelumnya dikeringkan dalam suhu ruang, kemudian disemai sebelum menjadi bibit. Menurutnya, tidak ada kendala berarti dalam bisnis budidaya porang. Menurutnya porang cocok ditanam di Gunungkidul. Hanya saja, karena curah hujan tahun ini cukup tinggi menyulitkannya untuk membersihkan rumput. “Selain membersihkan rumput, juga menambah sedikit pupuk kimia, dan penyemprotan menggunakan fermentasi urin kelinci,” ujarnya.

Kapan mulai panen? Senen memperkirakan November 2022. Jika sudah demikian mulai hitung-hitungan hasil. Dikatakan, setiap satu batang porang menghasilkan 7 sampai 10 kg umbi, dan dijual antara Rp 9.000 sampai Rp 11.000. Untuk pemula kendalanya bibit mencapai Rp 250 ribu sampai Rp 300 ribu per kilogram “Menanam porang mirip bisnis memelihara ayam buras. Sedikit atau banyak perawatannya sama,” terangnya.

Berbeda dengan petani porang di Karangmojo, sejumlah warga Kapanewon Patuk sedang berburu porang di hutan. Namun karena pengetahuan terbatas mereka sering ‘tertipu’. Sulit membedakan mana suweg, iles-iles, dan walur. Ketiga tanaman itu sama dengan porang yakni tumbuhan liar di hutan atau ladang. “Ada pengepul, kami jual ke mereka,” kata Erwan seorang warga Patuk.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul Raharjo Yuwono mengatakan, tanaman porang mulai ditanam petani sejak beberapa tahun terakhir. Mulai populer tetapi masih sedikit peminatnya. Bisnis porang memerlukan biaya cukup besar. “Lahan terluas porang ada di  Kapanewon Purwosari dengan luasan lahan 12,1 hektare, lalu Kapanewon Patuk dengan luasan lahan 10 hektare dan Rongkop seluas 8 hektare. Untuk kapanewon lain bervariasi  antara 0,1 hektar sampai 2 hektare,” kata Raharja Yuwono.

Bagi masyarakat petani yang ingin menanam porang pihaknya berbagi tips. Hendaknya menanam porang di bawah pohon tegakan, untuk lahan produktif lebih baik untuk tanaman pangan. Panen porang cukup lama, tidak bisa untuk cadangan makanan. Padat modal, 1 hektare modalnya cukup tinggi, sehingga perlu menggandeng investor.(din/er)

Lainnya