TA Musafri, setelah Tak Diperpanjang PSIM Jogja

TA Musafri, setelah Tak Diperpanjang PSIM Jogja
TA Musafri melatih SSB dan sesekali mengisi kursus privat sepak bola.

JOGJA Talaohu Abdul Musafri menjadi salah satu pesepak bola yang sudah mengantongi lisensi pelatih C AFC. Lisensi tersebut dia peroleh saat mengikuti kursus kepelatihan di Bali November tahun lalu. Untuk mempraktikkan ilmu yang didapat, kini pemain 39 itu fokus melatih SSB di Jogjakarta.

Ya, usai kontraknya tak diperpanjang PSIM Jogja, Musafri banyak menghabiskan waktu untuk menjaga kebugaran. Sekaligus melatih SSB dan sesekali mengisi kursus privat sepak bola. Sebut saja SSB ABBA football club dan viral.id. “Ya, ngelatih dan ngisi waktu luang saja dan paling sesekali latihan mandiri,” kata Musafri kepada Radar Jogja, Senin (26/4).

Karena belum memiliki SSB tetap, pemain asal Ternate, Maluku Utara itu harus berpindah-pindah saat melatih. Namun, hal tersebut tak menjadi masalah bagi Musafri. Sebab, dia sadar ada kewajiban bagi para pemain yang baru saja mendapatkan lisensi C. Yakni, membuat modul program latihan dan melatih setidaknya 20 jam. “Jadi saya melatih anak-anak karena tugas harus buat log book 14 kali latihan usia 10-13 tahun. Kebetulan di kampung juga ada usia 15 tahun ke atas, ya sambil belajar,” jelasnya.

Kini, sudah hampir tiga bulan pemain kelahiran 19 Februari 1982 itu melatih SSB. Dalam sepekan, eks penyerang timnas itu biasa melatih sebanyak tiga kali; Selasa, Kamis, dan Sabtu. Yang pasti, Musafri mengaku enjoy menjalani rutinitasnya saat ini, apalagi setelah gantung sepatu dia memang berkeinginan menjadi pelatih.

Hanya, saat ini, mantan pemain PS Barito Putera itu belum tertarik membangun SSB sendiri. Meski, sebetulnya banyak tawaran datang dari rekan-rekannya. “Sudah ada beberapa yang ngajak buka SSB atau akademi gitu tapi saya masih fokus sepak bola, InsyaAllah kalau saya sudah siap terjun langsung mudah-mudahan bisa terealisasi,” harap Musafri.

Melatih anak-anak usia dini menjadi tantangan tersendiri bagi Musafri. Apalagi, ini merupakan pengalaman pertamanya melatih. Yang menjadi kesulitan yaitu soal persiapan program dan mengkoordinasikan latihan. Mulai dari menyiapkan peralatan hingga mendesain program latihan. “Kan yang menyiapkan kita sendiri tapi Alhamdulillah ketika sudah mulai latihan apalagi sudah beberapa kali saya merasa enjoy dan melatih buat saya memiliki daya tarik tersendiri,” paparnya.

Perlahan namun pasti. Selain menyelesaikan kewajiban, Musafri ingin dapat pengalaman dan bisa benar-benar mengerti ilmu yang didapatnya di kursus kepelatihan. “Saya ambil lisensi ya memang arahnya untuk kesana (jadi pelatih, Red). Semoga keinginan bisa tercapai tentunya kan pengin untuk satu tujuan memajukan sepak bola Indonesia,” tandas eks pemain Sriwijaya FC itu.

Saat ini, Musafri saat ini sedang tidak membela klub manapun usai kontraknya habis di PSIM pada Januari lalu. Tapi, jika kompetisi kembali diputar dia ingin bisa kembali berkostum PSIM. Selain sudah merasa nyaman, faktor keluarga menjadi salah satu pertimbangannya bertahan di Kota Gudeg. “Kalau sama PSIM belum ada, terakhir komunikasi sudah lama dan itu juga sifatnya karena kontrak sudah selesai pemain bebas,” pungkasnya.(ard/din/er)

Lainnya