Lawan Provokator, Warga Wadas Cinta Damai

Lawan Provokator, Warga Wadas Cinta Damai
MENOLAK ANARKIS: Masyarakat Terdampak Desa Wadas (Matadewa) memasang spanduk di sejumlah titik strategis di Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, kemarin (28/4). (Hendri utomo/radar purworejo)

RADAR PURWOREJO – Warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, yang tergabung dalam kelompok Masyarakat Terdampak Desa Wadas (Matadewa) memasang spanduk di sejumlah titik strategis kemarin (28/4). Mereka menolak semua bentuk provokasi yang berpotensi memunculkan kegaduhan dan kericuhan.

Spanduk berisi ajakan kepada warga untuk waspada dengan semua bentuk provokasi. Khususnya, provokasi dari luar Kabupaten Purworejo.

Ada beragam tulisan yang terpampang di spanduk. Di antaranya, kami warga Desa Wadas jangan diprovokasi dan masuknya orang luar di Desa Wadas telah mengganggu ketenteraman keamanan desa yang selama ini penuh kedamaian.
Ada pula spanduk yang menegaskan warga Desa Wadas siap melawan orang luar yang tidak bertanggung jawab dan sengaja mengadu domba masyarakat.

“Pemasangan spanduk ini dilakukan warga sebagai representasi Wadas yang cinta damai dan tidak ingin ada anarkisme seperti yang terjadi dalam bentrok warga dan aparat belum lama ini,” ucap Ketua Matadewa Sabar kemarin (28/4).

Menurutnya, kericuhan yang terjadi saat itu merupakan dampak dari adanya aksi provokasi dari orang luar yang tidak bertanggung jawab. “Niat kami bukan untuk membuat aksi tandingan. Kami asli Wadas, cinta damai dan tidak ingin ada anarkisme,” ujarnya.

Sabar menjelaskan, perbedaan pendapat atau sikap dan pilihan merupakan hal wajar terjadi dalam iklim demokrasi. Setiap proyek pembangunan tentu ada pro dan kontra. Termasuk dalam penambangan batu quarry di Desa Wadas sebagai material pembangunan Bendungan Bener.

“Orang yang kontra dan pro sama-sama punya hak karena hidup berdemokrasi. Presiden saja kalau ada usulan dari rakyat masih bisa dipikir-pikir,” jelasnya.

Sabar mengklaim, jumlah warga Desa Wadas yang mendungkung rencana penambangan sekitar 70 persen dari jumlah keseluruhan. Namun, mereka tidak berani menunjukkan sikapnya. Sebab, mereka ingin menjaga agar tidak terjadi konflik horizontal.

Kelompok masyarakat yang sejak awal kontra dengan program pembangunan ni juga sudah diajak berdialog. Meski, tidak ada tindak lanjut sampai sekarang.

“Saya rasa bisa diselesaikan tanpa harus anarkis. Mari duduk bersama dan berdialog,” tegasnya.

Ditegaskan, siapapun yang membela maupun tidak membela boleh masuk Desa Wadas. Nemun, tentu dengan cara yang baik dan benar.

Siapapun yang terendus hanya ingin membuat kisruh Desa Wadas maka dipersilakan untuk keluar. “Warga juga sudah sepakat akan mengusir dengan bantuan petugas keamanan,” tegasnya. (tom/amd)

Lainnya