Korban Tsaqif Belum Ditemukan

Korban Tsaqif Belum Ditemukan
Hari kedua pasca dua korban terseret ombak  tim SAR gabungan masih lanjutkan pencarian di Pantai Menganti kemarin (31/5).

Radar Kebumen  Pencarian korban terseret ombak di Pantai Menganti, Kebumen hingga kemarin (31/5) masih nihil. Penyisiran korban korban Tsaqif Zahid Zindagi, 3, dilakukan melalui darat dan laut.

Bakohumas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen Heri Purwoto menjelaskan tingginya ombak mencapai 4 meter menjadi kendala pencarian korban melalui laut. Karena ombak yang tinggi, perahu yang diturunkan hanya dua unit milik SAR Lawet Perkasa.

Sedangkan penyisiran melalui darat, sudah dilajukan hingga pantai Pasir, Jetis, dan Logending. “Dalam jarak satu kilometer, kami bentuk pos pantau untuk pengamatan,” kata Heri kemarin (31/5).
Informasi terkait belum ditemukannya korban, juga disebarkan melalui rukun nelayan di pesisir pantai Kebumen hingga Purworejo. Selain itu, informasi juga disebarkan kepada pelaku wisata di wilayah pantai. “Total personel yang diturunkan mencapai 60 orang,” lanjutnya.
Hari ini (1/6), pencarian akan dilanjutkan kembali. Pencarian akan difokuskan ke wilayah timur karena arus laut cenderung ke arah itu. Meski demikian, wilayah barat pantai Menganti juga tetap akan dilakukan penyisiran. Jika cuaca memungkinkan, unit perahu akan diterjunkan lebih banyak dibandingkan kemarin (31/5) untuk menyisir melalui laut. “Penyelaman belum dimungkinkan karena gelombang tinggi dan medan yang ekstrem,” bebernya.
Sementara itu, Kasubbag Humas Polres Kebumen Iptu Tugiman menuturkan tim dibagi menjai tiga untuk pencarian korban. Pencarian dihentikan pukul 17.00 dan akan dilanjutkan hingga satu minggu ke depan. “Kalau satu minggu belum ditemukan, pencarian akan dihentikan,” ungkap Tugiman.
Sementara itu, BMKG sejak tanggal 30-31 Mei telah menyebar pengumuman terkait gelombang tinggi 4-6 meter. Di Samudera Hindia Barat dan Sumatra, termasuk kawasan Pantai Selatan Kebumen. Masyarakat diminta waspada hal itu dikarenakan sistem tekanan rendah 1006 hPa di wilayah Samudera Hinda dan 1008 hPa di Samudra Pasifik timur Filiphina. Hal ini akan memengaruhi angin bergerak dari selatan ke barat berkecepatan 5-30 knot. Sedangkan di Indonesia bagian Selatan, angin bergerak dari Timur ke tenggara dengan kecepatan 5-25 knot. Hal itu menyebabkan gelombang tinggi dan berisiko terhadap perahu nalayan dan wisatawan. (eno/din/er)

Lainnya