Hendak Jenguk Saudara yang Sakit di Majenang, mampir ke Pantai

Hendak Jenguk Saudara yang Sakit di Majenang, mampir ke Pantai
Zakiyah, ibu sekaligus nenek korban laka laut di Pantai Mengantin, Kebumen saat di kediamannya, Padukuhan Mejing Wetan RT 10 RW 05, Ambarketawang, Gamping, Sleman, kemarin (1/6)

Sleman Kehidupan hanyalah titipan Allah SWT. Tidak ada yang tahu kapan kembali. Begitu Zakiyah dan keluarga ikhlas melepas kepergian anak keduanya Alan Fajar Mutaqien, 32, dan cucunya, Tsaqif Zahid Zindagi (3,5). Mereka adalah korban laka laut di Pantai Menganti, Kebumen, Minggu (30/5).

Suasana duka menyelimuti keluarga Zakiyah, 59. Di rumah sudut jalan, menghadap ke Timur itu. Tepatnya di Padukuhan Mejing Wetan RT 10 RW 05, Ambarketawang, Gamping, Sleman. Warga silih berganti menyambangi rumah Zakiah. Mengucapkan belasungkawa, menguatkan dengan memberi semangat moril bagi keluarga korban. Radar Jogja pun disambut hangat siang itu. Zakiyah secara terbuka menceritakan kecelakaan laut kala itu.  “Semua sudah takdir Yang Kuasa, keluarga sudah ikhlas,” ucap Zakiyah menyambut kedatangan Radar Jogja, kemarin siang (1/6).

Tak menunjukkan raut kesedihan Zakiah dan keluarga justru tampak kuat dan tabah. Zakiyah menceritakan, saat itu dia dan keluarganya (suami dan anak cucunya) hendak menjenguk saudara yang sakit di Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Karena masih pagi, anak-anaknya mengajak jalan-jalan ke pantai wilayah Kabupaten Kebumen. Dimulai pantai Suwuk. Kemudian berlanjut ke Pantai Menganti.

Di Pantai Menganti, mereka sempat bermain air. Lalu mereka sepakat menaiki pikap memlintasi Jembatan Merah objek wisata tersebut. Tak selang lama mereka kembali menuju bascamp awal mereka berkumpul. Saat kembali, dua putra dan satu cucunya memilih belok ke kiri menuju tebing karang, dimana di lokasi tersebut terdapat tulisan zona aman. Jauh lebih tinggi dari permukaan air laut.

Saat itu, mereka melihat pemandangan pantai dari atas tebing karang itu. Alan Fajar Mutaqien yang merupakan adik dari Juan Awaludi Ikhsan tengah menggendong Tsaqif Zahid Zindagi anak pertama Juan. Mereka hendak berfoto membelakangi pantai. Naasnya, seketika ombak besar datang menghempas ketiganya. Saat ombak pertama itu, tangan Juan sempat meraih Alan. Satu tangannya pegangan karang dengan kuat. Namun, begitu ombak ke dua, pegangannya terlepas. Dan dilanjutkan ombak ke tiga, mereka menggulung Alan dan Tsaqif. Keduanya hanyut, hanya Alan yang tampak mengapung di ombak sekitar tebing itu. “Saat itu Juan shock masih mencari-cari ke duanya. Lalu kami bergegas memanggil SAR dibantu pengunjung lainnya,” ungkap perempuan menginjak lansia itu.

Kejadian pukul 09.00 itu seketika membuat pengunjung lainnya panik turut mencari keberadaan anak dan putranya. Karena tampak mengapung tak butuh waktu lama Tim SAR melakukan evaluasi. Sekitar 30 menit, korban berhasil di evaluasi dalam keadaan meninggal dunia (MD).”Saat diperiksa tim medis, korban belum sempat meminum air laut. Meninggal karena benturan keras di kepala bagian kiri hingga menyebabkan pendarahan,” kata Zakiyah. Saat jenazah berhasil di evakuasi, tangan jenazah dalam posisi layaknya menggendong keponakannya itu.

Kemudian, jenazah Alan dipulangkan dari Kebumen pukul 13.00 dan dimakamkan Minggu sore (30/5) di Padukuhan Mrisi, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Sementara korban bernama Tsaqif ditemukan kemarin (1/6) sekitar pukul 09.00 tak jauh dari lokasi. Sekitar pukul 11.00 jenazah di pulangkan dari kebumen menuju rumah duka di Utara Dongkelan, Krapyak Kulon, Panggungharjo, Bantul.

Alan bagi Zakiyah merupakan anak yang berbakti kepada orang tuanya dan penyayang keluarga. Dia sosok yang bertanggung jawab dan santun. Terhadap Tsaqif, seperti anak sendiri. Mereka sangat dekat. Alan sendiri berprofesi sebagai guru di SD Kuttab Al Fatih Jogjakarta. Sementara Tsaqif, merupakan balita cerdas dan aktif. Bahkan di usianya yang masih dini, dia memiliki rasa keingintahuannya yang tinggi. Tertarik dengan perkereta-apian dan memiliki daya ingat tinggi. “Tsaqif sering menginap di sini (rumah Zakiyah, red) diajari bahasa arab oleh pamannya. Dia sedikit-dikit mengerti Bahasa Arab. Setiap hari diputarkan materi kaset tentang pengetahuan yang dibuatkan khusus oleh pamannya itu,” ungkapnya.

“Kami banyak berdoa saja dan istighfar,” pungkasnya.(laz/din/er)

Lainnya