Ribuan Anak Menderita Stunting

Ribuan Anak Menderita Stunting
TUMBUH KEMBANG: Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Purworejo Fatimah Verena Prihastyari membuka sosialisasi stunting di Aula Kantor PKK Kabupaten Purworejo kemarin (4/6). (Hendri utomo/radar purworejo)

RADAR PURWOREJO – Anak yang mengalami gangguan pertumbuhan akibat kurang mendapat asupan gizi (stunting) masih ditemui di Kabupaten Purworejo. Bahkan, jumlahnya terungkap mencapai lebih dari tiga ribu anak.

Hal itu disebabkan kurangnya asupan gizi dalam waktu lama sejak bayi dalam kandungan. “Berdasarkan data jumlahnya mencapai 3.589 anak atau 8,22 persen jumlah keseluruhan 43.664 anak di Kabupaten Purworejo,” ucap Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Purworejo Fatimah Verena Prihastyari dalam sosialisasi peningkatan kesehatan masyarakat dengan sosialisasi stunting di Aula Kantor PKK Kabupaten Purworejo kemarin (4/4).

Ditegaskan, persoalan stunting patut menjadi perhatian. Sebab, salah satu penyebanya yakni ibu hamil yang kurang memperhatikan asupan makanan bergizi.

Untuk itu, perlu intervensi pada seribu hari pertama kehidupan (HPK) balita. “Itu saat yang terpenting dalam hidup seseorang. Seribu HPK itu mulai perkembangan janin dalam kandungan, hingga usia anak dua tahun. Kesehatan dan kecerdasan seseorang ditentukan di situ,” tegasnya.

Menurutnya, PKK yang berperan dalam pembinaan keluarga harus mempunyai kader dari tingkat pusat sampai daerah. Kader harus bisa menyalurkan setiap informasi kepada setiap keluarga. Termasuk informasi terkait stunting.

“Sebagian anak, sampai usia delapan belas tahun, biasanya masih menghabiskan delapan puluh perse waktunya bersama keluarga. Mereka masih membutuhkan orang tua dan kehangatan keluarga. Sukses anak juga tidak lepas dari kehangatan keluarga,” ujarnya.

Ketua Pokja IV PKK Wiwit Sugiharto menyatakan, sosialisasi peningkatan kesehatan masyarakat dengan sosialisasi stunting ini dalam rangka mendukung visi misi Bupati Purworejo Agus Bastian. Khususnya. Dalam upaya meningkatkan daya saing sumber daya manusia unggul secara luas.  “Jadi, sosialisasi stunting sangat dibutuhkan,” ucapnya.

Ditegaskan, PKK harus memahami persoalan stunting. Terutama terkait dampak dan cara pencegahannya.

Kader PKK di desa harus ikut mendampingi dan mengamati setiap ibu hamil. Hasil pengamatan kemudian dilaporkan.

Setelah kelahiran, bayi dengan berat badan rendah harus dilakukan pemantauan. Sebab, hal itu merupakan salah satu indikator stunting.

Stunting bisa diakibatkan kurangnya gizi yang seimbang. “Tidak harus beli. Bisa memanfaatkan makanan lokal yang ada di lingkungan,” tegasnya. (tom/amd)

Lainnya