Pernah Jualan Ayam hingga Giatkan Penjualan Lewat Online

Pernah Jualan Ayam hingga Giatkan Penjualan Lewat Online
Perajin perhiasan perak di Kotagede, Jogjakarta menyelesaikan produknya. Kotagede sampai saat ini dikenal sebagai sentra kerajinan perak ternama.

Jogja Terpuruknya perekonomian saat pandemi Covid-19 memengaruhi sejumlah sektor. Tak terkecuali bagi para perajin perhiasan. Berkat optimisme untuk terus berkarya, mereka mulai pulih perekonomiannya. Seperti apa kiat sukses mereka bertahan selama pandemi?

Optimistis, itulah yang ditanamkan perajin perhiasan Custom Kotagede, Burhanudin untuk memulihkan kembali produksi perhiasannya. Usaha olah terampil perhiasan emas, palladium, platinum, dan perak itu sempat merasakan terpuruk dalam penjualannya di tengah kondisi sulit pagebluk korona. “Pertama pandemi order mulai menurun, anjlok sampai 90 persen,” katanya di rumah yang menjadi tempat produksi perhiasan di Purbayan, Kotagede, Rabu (9/6).

Dia bahkan sempat vakum dan tidak berkegiatan apapun. Dari biasanya dalam kondisi normal bisa mampu memproduksi 5-10 cincin setiap bulannya. Memasuki, tahun pandemi tepatnya tiga bulan pertama yakni Maret, April, dan Mei sama sekali tidak ada orderan masuk yang otomatis nol pendapatan. “Dari tiga bulan itu nggak ada orderan sama sekali. Langsung kita berfikir jangan hanya menuruti keadaan, kalau begini terus kami nggak bisa hidup,” ujarnya.

Segala daya upaya dilakukan demi tetap bisa menjalankan kehidupan sehari-harinya yang ditopang dari pendapatan utama hasil pembuatan perhiasan itu. Optimistis, meski tidak ada pendapatan dari hasil perhiasan yang diproduksi. Sebab, sepinya orderan juga imbas dari toko-toko perhiasan yang menjadi pokok utama penopang perajin perhiasan itu juga sepi konsumen. Sampai akhirnya, dengan kondisi sulit seperti itu terpaksa, ia mengumpulkan limbah emas untuk dijual supaya membantu menopang kehidupan sehari-harinya bersama keluarga. “Hingga saya jual limbah emas hanya untuk bertahan hidup. Bagaimana caranya supaya nggak mengeluarkan banyak tabungan, walaupun hanya sedikit,” jelasnya.

Memang, laki-laki 57 tahun itu juga biasa menjual limbah emas yaitu cairan yang berisi emas menempel pada sampah-sampah. Pada saat pembuatan emas selalu ada penyusutan yang secara langsung resikonya menjadi limbah karena tidak bisa dicari secara langsung.

Tetapi, limbahnya selalu menunggu agar terkumpul banyak untuk dijual. Pada saat itu, terpaksa berapapun berat limbah yang dikumpulkan langsung dijual kepada orang yang berkompeten bisa mengolah limbah emas tersebut. Dikatakan, bahwa limbah emas yang dikumpulkan satu demi satu ialah yang sering menempel pada sebuah benda seperti tisu misalnya, kemudian dikumpulkan. Saat itu, mampu terjual Rp 5 Juta sampai Rp 6 juta. “Sengaja kami simpan limbahnya karena lumayan bisa untuk tabungan. Kadang kalau belum banyak, belum banyak nilainya,” terangnya.

Ternyata, tidak cukup itu saja. Burhan sapaan akrabnya bersama sang istri juga pernah melakoni profesi lain menjadi pedagang ayam kampung, kuliner, buah-buahan dan bumbu-bumbu dapur. Padahal kegiatan ini belum pernah dilakoni sebelumnya. Tepatnya saat puasa tahun lalu. “Tiap hari kami mutar ada 100 ekor ayam terjual pernah. Ayam kampung yang sudah dipotong dan masih fresh. Dari pagi sampai sore luar biasa capeknya,” tandasnya.

Seiring berjalannya waktu, bapak empat anak bersama istrinya itu pada titik lelah. Profesi yang belum pernah dilakoni sebelumnya itu ternyata tidak bertahan lama. Sekiranya, hanya sampai Lebaran 2020 lalu. Berangkat dari segala upaya dan inovasi yang terus dilakukannya. Promosi kembali digulirkan dengan mengoptimalkan media sosial atau online. Memposting produk-produk perhiasan yang sedang promo atau memberikan harga terjangkau.

Ataupun mengirim pesan melalui WhatsApp ke customer atau pelanggannya yang dinilai berpotensi untuk menawarkan jasa. Pelayanan makin ditingkatkan sesuai kemauan pelanggan. Sekadar hanya mereparasi perhiasan hingga melakukan order dengan harga seminimal mungkin yakni Rp 350 ribu. Sebelumnya, harga paling minimal yang dibanderol ialah Rp 600 ribu – Rp 750 ribu untuk sepasang cincin kawin. Orderan dari konsumen mulai terlihat walau hanya sedikit. “Sampai segitunya, customer meminta budget paling minimal karena ada pernikahan cuman mereka pengennya yang budget minim. Ya kita nuruti konsumen supaya bisa jalan semua,” katanya.

Dampak pandemi, juga ternyata menggiring konsumen untuk menjual apapun perhiasan yang dimilikinya karena terpojok ekonomi. Namun, kebanyakan toko perhiasan tidak bersedia menerima kembali lantaran stok penjualan emas yang masih banyak atau belum mampu terjual. Di samping, dampak pandemi banyak sekali toko perhiasan yang tutup sementara. Apapun dilakoninya, termasuk dengan menerima kembali emas dari konsumen tersebut. “Saya welcome mau jual apa saja yang penting logam bisa didaur ulang kita terima dengan nilai logam tersebut. Ya kita eneng-enengke membeli barang tersebut untuk diolah lagi,” jabarnya.

Sampai akhirnya, segala daya upaya dari Perajin binaan Dinas Perindustrian, Koperasi, dan Usaha Kecil Mikro (UKM) Kota Jogja itu ternyata membuahkan hasil. Gayung bersambut, Juli mulai ada kebangkitan meski belum dirasa maksimal tetapi bisa rutin. Kebangkitan ekonomi semakin tinggi lagi, hari demi hari mulai ada konsumen dengan memesan perhiasan di atas harga Rp 5 juta hingga sekarang. “Setelah lebaran kemarin ini mulai bangkit lagi, perbandingan dengan yang sebelumnya bisa jalan 75 persen. Kami kerja apa saja, dilakoni,” ucapnya.

Saat Radar Jogja mendatangi rumahnya Rabu (9/6) di Boharen KG III RT33/RW08 No 656 Purbayan, Kotagede, Jogja terlihat aktivitas kesibukan Burhan tengah memproduksi perhiasan. Rumahnya yang mungil dan bergang-gang terlihat satu staf tengah menunggu ruangan yang terisi satu etalase berisi emas ready stok. Di antara staf atau karyawan lainnya terdampak dirumahkan, namun selepasnya mereka justru tidak kembali karena telah mandiri lebih layak. “Dari sini mereka lulus pinter buat perhiasan, tinggal satu admin kita,” imbuhnya.

Istrinya, Nurmiyati menambahkan sudah menjadi resiko kala tidak hanya sekadar mencari karyawan melainkan sekaligus punya niatan untuk membekali ilmu ke mereka agar bisa lebih layak selepas bekerja di tempat usahanya.

Kebangkitan ekonomi tak hanya dirasakannya bersama sang suami melainkan juga kepada karyawan-karyawannya. Bagi dia, ini menjadikan nilai plus kala terpuruk masih mampu membantu yang lain. Selepas dari keterpurukan, ternyata bisa bangkit bersama-sama dengan para karyawannya. “Sekarang bapak cuma produksi sendiri. Kita belum cari karyawan lagi, karena masih bisa kami tangani. Tapi mereka masih bisa kita ajak kerjasama,” ungkapnya.

Sampai saat ini, omset yang didapat sudah mencapai Rp 50 Juta sampai Rp 100 Juta daripada selama awal-awal pandemi tahun lalu. Produk yang paling banyak diminati konsumen ialah sepasang cincin berlian dengan harga fantastis antara Rp 10 Juta sampai Rp15 juta. Pun orderan paling rumit juga dikerjakan dengan harga kisaran Rp 1,5 juta. Kali ini, pendapatan yang masuk paling banyak didapatkan dari orderan online halaman instagram milik @nursilver_jewellery.

Konsumen tidak hanya dari wilayah Jogja melainkan sudah menggeliat merata seluruh Indonesia. “Closingnya dari instagram lebih banyak sekarang. Dari konsumen menengah ke atas,” jelasnya yang menyebut pernah juga ekspor hingga Malaysia dan Jepang.

Sampai sekarang, toko dan tempat produksi perhiasan itu tergabung dalam satu rumah saja. Ia lebih memfokuskan melakukan promosi penjualan melalui online dibandingkan offline. Konsumennya tidak hanya lingkup DIJ melainkan menyebar seluruh Indonesia hingga ekspor. Tadinya, memiliki 1 toko yang sudah beroperasi hampir 6 tahun. Namun, telah ditutup 1 tahun yang lalu akibat pandemi ini. “Akhirnya kita tutup dulu sampai sekarang eksis di online, dari online mulai bangkit. Untuk beli perhiasan custom bisa langsung kesini atau online,” imbuhnya. (din/er)

Lainnya