Warga Minta Perluasan TPST Ke Timur

Warga Minta Perluasan TPST Ke Timur
Warga bersama sejumlah anggota DPR RI dan DPRD DIJ yang melakukan kunjungan ke lokasi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, kemarin (9/10).

BANTUL Pada dasarnya, warga Padukuhan Ngablak, Kalurahan, Kalurahan Sitimulyo, Piyungan, Bantul tidak menolakn terkait rencana perluasan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan. Tapi warga meminta perluasan dilakukan ke sisi Timur, bukan ke Barat.“Boleh berkenan tapi di sebelah timur,” cetus Juru bicara warga sekitar TPST Piyungan, Maryono kepada Radar Jogja usai kunjungan sejumlah anggota DPR RI di TPST Piyungan Selasa (8/6).

Warga merekomendasikan lokasi tersebut lantaran TPST Piyungan sebelumnya sudah melakukan perluasan. Perluasan tersebut dilakukan ke sisi Timur yang menggunakan lahan seluas 1,9 hektare. “Jadi tinggal melanjutkan,” ucapnya,

Penolakan perluasan di sisi Barat didasari karena dekat dengan permukiman. Setidaknya ada tiga RT yang akan terdampak langsung. Ditambah dua RT lain secara tidak langsung terhadap aktivitas pengelolaan sampah di lokasi tersebut. Di kawasan itu sekitar 60 KK di tiap RT-nya.

Bila perluasan tetap dilakukan di lokasi dengan luas sekitar enam hektare ke arah barat, warga juga akan kehilangan dua mata air yang digunakan oleh empat RT. Lahan hijau di lokasi tersebut juga akan hilang. “Tanahnya juga subur,’’ paparnya.

Salah satu warga Ngablak, Sobirin menambahkan, lokasi perluasan TPST ke Timur justru dekat dengan tempat pengelolaan limbah pabrik. Sehingga TPST menggunakan aliran yang sama. “Jadi tidak mengganggu dan tidak perlu membuat aliran baru. Kalau di Barat, itu nanti ada lahan hijau, ada mata air, dekat permukiman, pasar. Pasar jadi tumpuan ekonomi masyarakat,” bebernya.

Aspirasi warga Ngablak ini mendapat perhatian dari anggota Komisi V DPR RI, Sukamto. Dia pun menerima aduan warga. “Sekaligus menyelesaikan permasalahan dengan baik. Kami takut, ada dua kelompok. Satu setuju, satu menolak,” ujarnya.

Baginya, masyarakat yang memiliki dua pendapat justru mengkhawatirkan. Oleh sebab itu dia hadir, bermaksud menyatukan pendapat. “Saya minta ke DPR DIJ. Supaya nanti jadi mediator untuk menyelesaikan ini dengan baik. Ada permasalahan pokoknya, masyarakat tidak setuju perluasan di sebelah barat. Mintanya ke Timur,” ucapnya.

Perwakilan Komisi C DPR DIJ, Gimmy Rusdin Sinaga pun menyambut baik. Politisi PDIP itu meminta warga Ngablak segera mengatur pertemuan dengan komisinya. Gimmy pun meminta perwakilan Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP-ESDM) turut hadir. “Makin cepat makin baik. Kita ngobrol. Supaya benar selesai, harus kita ketemu. Komisi C siap,” tegasnya.

Kepala Bidang Cipta Karya Dinas PUP-ESDM DIJ Arief Azazie Zain menjelaskan, masa depan TPST Piyungan sudah berakhir. Sebab sistem pengelolaan sampah yang digunakan merupakan open dumping atau sanitary landfill. “Cuma ditumpuk,” kata dia.

Untuk itu, teknologi pengelolaan yang digunakan selanjutnya akan berubah. Menggunakan incinerator, sampah dapat diolah menjadi semacam batu bara dan dipakai untuk pembangkit listrik. Itu sebabnya, Dinas PUP-ESDM mengadakan perluasan tanah sekitar tujuh hektare ke area barat. “Untuk lokasi pengolahan dengan teknologi. Lalu Dinas PUP-ESDM meminta luas tanah yang sekitar 1,9 hektare (di timur, Red). Fungsinya adalah sebagai masa transisi,” jelasnya. (fat/din/er)

Lainnya