Pagi Sepi, Sore Penuh Pengunjung Lokal

Pagi Sepi, Sore Penuh Pengunjung Lokal
Pengunjung berfoto di objek wisata waduk Sempor. Pengunjung di Waduk Sempor di pagi hari jauh lebih sedikit dibandingkan sore hari.

RADAR KEBUMEN Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro di wilayah Kabupaten Kebumen tidak begitu berdampak pada sepinya minat masyarakat untuk berkunjung ke objek- objek wisata (obwis).

Seperti halnya di obwis Waduk Sempor. Meskipun ada pembatasan pengunjung hingga 30 persen, pengunjung lokal akan tetap memenuhi obwis saat sore hari.
Petugas tiketing obwis Waduk Sempor Turyono menjelaskan, pengunjung di Waduk Sempor di pagi hari jauh lebih sedikit dibandingkan sore hari. Di pagi hingga siang hari, rata-rata jumlah pengunjung di Waduk Sempor mencapai 100 orang. Jumlah ini menurun drastis saat masa libur lebaran yang mencapai lebih dari 200 pengunjung saat pagi hari.

Selain untuk berwisata, pengunjung di pagi hari didominasi oleh masyarakat yang berolahraga.
Penjagaan dan pengawasan pengunjung, kata Turyono, bisa dilakukan di waktu pagi-sore hari. Saat jam kerja usai, petugas tidak bisa melakukan penjagaan secara maksimal. Meskipun ada petugas yang berjaga di waktu sore, namun hal ini dirasa tidak maksimal saat pengawasan berlangsung. Mengingat saat sore hari, masyarakat lokal cenderung datang untuk menikmati waktu sore bersama teman dan keluarga. “Jadi kalau sore penuh, sedangkan saat pagi sepi,” ungkap Turyono kemarin (13/6).
Pembatasan 30 persen, kata Turyono, tidak berlaku di Waduk Sempor saat sore hari. Adanya empat pintu masuk dan tidak adanya penjaga saat sore hari untuk pembayaran retribusi, membuat masyarakat mudah mengakses wilayah Waduk Sempor. Pembayaran retribusi, akan dijaga saat jam operasional dengan biaya Rp 6.500. “Setiap hari, petugas selalu siap dari Dinas Kepemudaan dan Olahraga dan Pariwisata Kebumen, Koramil dan Polsek setempat,” bebernya.
Pembatasan pengunjung sebanyak 30 persen, lanjutnya, seharusnya didasarkan pada penjualan tiket harian sebelum adanya pandemi. Namun sampai saat ini, pihaknya tidak membatasi penjualan tiket di masa pandemi Covid-19. Petugas yang menghentikan pengunjung saat lokasi wisata sudah dinilai penuh. Petugas, juga akan menegur dan menbubarkan masyarakat yang berkerumun dan tidak memakai masker. “Pengunjung yang datang tidak memakai masker, akan diputar balik,” ungkap Turyono.

Terpisah, Staff obwis Benteng Van Der Wijck Emi Musroni mengaku jumlah pengunjung menurun drastis selama masa pandemi Covid-19. Selain masa pandemi, turunnya jumlah pengunjung dikarenakan banyaknya obwis baru. Saat ini, pengunjung Benteng bisa dihitung jari. “Cuma dua sampai tiga pengunjung. Maksimal hanya berapa puluh. Kalau dulu sebelum masa pandemi, setiap haro bisa sampai 100 orang lebih,” tutur Emi.
Belum aktifnya pembelajaran tatap muka, kata Emi, juga berpengaruh pada minimnya minat kunjungan. Hal ini karena Benteng Van Der Wijck wisata sejarah yang biasa banyak dikunjungi siswa sekolah untuk study tour. Untuk bisa menarik pengunjung lokal, saat ini pihaknya tengah mempersiapkan beberapa wahana dan spot menarik. “Saat ini wahana dalam benteng hanya kereta mini, bebek air dan kolam renang. Sempat banyak pengunjung hingga 100 orang saat lebaran lalu,” kata Emi. (eno/din/er)

Lainnya