Bed Penuh, Rumah Sakit Mulai Kewalahan

Bed Penuh, Rumah Sakit Mulai Kewalahan
Peserta mengikuti program vaksinasi massal Covid-19 menggunakan vaksin AstraZeneca, di GOR UNY, Senin (14/6).

JOGJA Alarm tanda bahaya telah dibunyikan. Kasus penularan Covid-19 di DIJ terus mengalami peningkatan secara masif. Klaster baru bermunculan, hampir merata di kota maupun kabupaten  di provinsi ini. Dalam beberapa hari terakhir, angka kasus positif ada di angka 400-an kasus per hari.

Kondisi ini membuat beberapa rumah sakit rujukan Covid-19 di DIJ mulai kewalahan dalam merawat pasien korona yang memiliki gejala berat. Di RS Bethesda Jogjamisalnya, bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit itu sudah 100 persen penuh.

“Untuk pasien dewasa ada 39 bed, semuanya sudah terisi,” ungkap Kepala Bagian Humas dan Marketing RS Bethesda Jogja Adhiyatno Priambodo kemarin (14/6). Ia juga menjelaskan di rumah sakitnya masih ada 12 bed untuk pasien Covid-19. Namun bed itu ditujukan untuk pasien Covid-19 yang masih berstatus anak-anak.

Lebih lanjut Adhiyatno menambahkan, kemarin (14/6) sore ada delapan pasien positif Covid-19 dan bergejala berat yang belum bisa masuk ruang perawatan RS Bethesda. Mereka masih berada di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). “Ada delapan pasien yang masih harus menunggu,” jelasnya.

Agak berbeda dengan RS Bethesda, di RSUD Kota Jogja ini masih ada sekitar 30 persen bed yang tersedia untuk pasien Covid-19. Namun untuk ruangan ICU khusus pasien Covid-19 di rumah sakit ini sudah penuh.

“Untuk pasien Covid-19 terisi sekitar 70 persen, tapi yang ICU kami ada tujuh bed dan itu sudah penuh,” jelas Direktur RSUD Kota Jogja Ariyudi Yunita kepada Radar Jogja.

Peningkatan jumlah kasus positif itu tak lepas dari beberapa klaster baru di DIJ belakangan ini. Salah satunya di Lapas Narkotika Kelas IIA Jogjakarta yang terletak di Pakem. Di mana terdapat ratusan orang yang positif Covid-19.

Gubernur DIJ Hamengku Buwono X memiliki perhatian khusus terhadap fenomena ini. Ia mengajak masyarakat sadar bahwa Covid-19 benar-benar nyata adanya. Pasalnya, masih ada sebagian orang yang menganggap remeh Covid-19 dan menganggap pandemi adalah sebuah rekayasa. “Kita perlu kesadaran bahwa korona itu riil, sehingga orang itu hati-hati,” ujarnya.

HB X lebih lanjut mengaku belum menerima laporan terkait peningkatan tingkat ketersisian tempat tidur atau BOR di RS-RS rujukan Covid-19. Ia pun telah menginstruksikan agar pasien dengan kondisi sedang hingga berat untuk langsung mendapat perawatan di RS. Dengan demikian, penyakitnya dapat segera tertangani dan yang bersangkutan tidak menulari ke individu lain.

Seiring terus berkembangnya kasus Covid-19 di Kota Jogja menyebabkan kapasitas Shelter Bener, Tegalrejo, terisi penuh. Dari 84 bed kapasitas yang ada, tinggal sembilan unit yang tersedia. Ada 14 pasien yang antre untuk masuk ke shelter sejak kemarin (14/6) siang.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, pertambahan pasien positif Covid-19 sebagian besar merupakan orang tanpa gejala (OTG). Sehingga menjadikan shelter menjadi terisi penuh. Rapat pembahasan wacana penambahan shelter pun dilakukan.

“Makanya ini sedang kami bahas (terkait penambahan shelter). Nanti habis ini kami rapat,” katanya kemarin (146/6). Wakil Wali Kota Jogja itu menjelaskan, dimungkinkan akan adanya potensi penambahan shelter selain Shelter Bener Tehalrejo untuk pasien tanpa gejala.

Namun, pertama yang akan dioptimalkan lebih dulu adalah shelter-shelter yang berada di wilayah. Di mana sempat terhenti karena memang kasus di wilayah tersebut cenderung rendah. Shelter di wilayah ini yang akan didorong untuk dibuka lagi, manakala shelter-shelter di wilayah belum ada kapasitas yang terpenuhi.

“Potensi ada penambahan shelter, misal memang ada kasus semakin meningkat mau nggak mau kita harus menambah shelter. Kalau kapasitas di wilayah itu terpenuhi, kita akan berpikir untuk mengembangkan shelter-shelter yang lain,” ujarnya.

Orang nomor dua di Kota Jogja ini tidak menampik jika pertumbuhan kasus di wilayahnya cenderung naik. Mantan wartawan ini menyebut rata-rata pasien yang mendapat perawat meningkat. Biasanya yang dirawat harian itu 300-an, sekarang menjadi 400-an. “Jadi sudah ada kenaikan yang cukup signifikan,” jelasnya.

Antisipasi pun dilakukan untuk menekan pengendalian kasus Covid-19. Jalinan koordinasi atau rapat dilakukan dengan berbagai OPD maupun pihak-pihak terkait, termasuk melihat pertumbuhan atau perkembangan kasus yang ada di Kota Joga.

Meski begitu, berdasar laporan terakhir ruang perawatan yang ada di fasilitas kesehatan masih mampu menampung tambahan pasien korona. Hanya ketersediaan shelter khusus pasien tanpa gejala saat ini wajib jadi perhatian pemerintah, untuk menjamin akses warga.

“Sampai semalam ketersediaan tempat tidur yang ICU itu baru dipakai 77 persen, terus yang non ICU 65 persen. Kita mau rapat, antisipasi bagaimana pertumbuhan sekarang. Tapi yang rumah sakit kan kita menampung pasien dari seluruh DIJ, bukan dari kota saja. Kalau yang shelter, itu khusus warga kota,” tambahnya. (kur/wia/laz/din/er)

Lainnya