Triaman Penjual Album Rilisan Fisik untuk Bertahan

Triaman Penjual Album Rilisan Fisik untuk Bertahan
Triaman mengaku sejak adanya pandemi Covid-19 penjualannya mengalami penurunan dengan jumlah cukup besar. Sebab, semakin sedikit pecinta musik yang datang mengunjungi tokonya.

 Jogja Penjualan album rilisan fisik di Indonesia pernah mengalami masa emas. Itu terjadi di akhir dekade 1990-an dan awal dekade 2000-an. Sejumlah toko di Jogja menyediakannya. Tapi, kini banyak yang tinggal  menjadi kenangan. Triaman dengan Toko Luwes-nya bisa jadi pengobat rindu.

Banyak musisi maupun band Tanah Air yang bisa mencatatkan penjualan lebih dari 1 juta album. Sebut saja, Jamrud, Peterpan, Dewa 19, Padi, Sheila on 7. Ada juga Nike Ardilla, Haddad Alwi & Sulis, serta nama-nama yang lain. Tapi, berkembangnya teknologi di dunia musik membuat banyak perubahan. Cara mendengarkan musik sudah bisa dari gawai masing-masing. Bahkan, pecinta musik juga bisa membeli album rilisan fisik secara digital.

Lalu bagaimana dengan nasib mereka yang menggantungkan hidup dari menjual album fisik? Ya, belasan tahun lalu, toko musik resmi yang menjual album fisik asli, serta pernik-pernik soal musik cukup mudah ditemui. Baik itu di pusat perbelanjaan. Juga ada toko khusus.

Belakangan, toko musik semacam itu kian sulit ditemui. Salah satunya ada di Toko Luwes yang terletak di Krapyak Wetan, Sewon, Bantul itu menjadi satu dari sedikit toko musik yang masih bertahan. Toko tersebut, terletak di sebuah rumah yang agak sulit ditemukan. Letaknya di kampung padat penduduk dan harus melewati gang yang sempit.

Adalah Triaman, pemilik “harta karun” berupa ratusan compact disk (CD), kaset, piringan hitam, buku serta pernak-pernik musik yang lain. Triaman mengaku memulai usaha ini pada 2012 silam. Menurut dia, saat itu penjualan album rilisan fisik di Indonesia mulai menggeliat lagi setelah sepi dihantam fenomena ring back tone (RBT). “Ya mulai usaha di tahun 2012,” kata Triaman di tokonya sembari membersihkan beberapa kemasan CD yang mulai kusam.

Harga rilisan album fisik di toko milik Triaman beragam. Dari yang paling mudah Rp 15.000 hingga mencapai ratusan ribu rupiah. Itu tergantung pada jenis album yang dikeluarkan, apakah jumlahnya memang terbatas. Atau juga bisa karena album langka dari musisi legendaris.

Berjualan sesuatu yang berkaitan dengan dunia musik memberikan kenikmatan tersendiri bagi Tri . Ia mengaku bisa bertemu dengan banyak orang yang tak terduga. Selain itu ia juga bisa terus mempelajari musik dengan berbagai macam genre.

Triaman mengaku sejak adanya pandemi Covid-19 penjualannya mengalami penurunan dengan jumlah cukup besar. Sebab, semakin sedikit pecinta musik yang datang mengunjungi tokonya. Triaman juga kehilangan lapak dengan jumlah cukup besar. Apalagi selama pandemic Covid-19 praktis tidak ada acara musik yang boleh dihadiri oleh banyak orang. “Dulu sebelum pandemi saya bisa gelar lapak di acara-acara musik,” kenangnya.

Praktis selama satu tahun lebih ini, Triaman hanya mengandalkan penjualan via daring. Kendati demikian, ia masih bersyukur lantaran minat pecinta musik untuk mendapatkan album musisi yang mereka cintai masih cukup tinggi. Bahkan, pria 40 tahunan itu menyebut peminat rilisan fisik tidak hanya datang dari DIJ dan sekitarnya saja.

Banyak dari mereka yang datang dari Jakarta, Bandung, juga Surabaya. Bahkan, ada pula pecinta musik dari Malaysia yang sengaja memesan album rilisan fisik musisi Indonesia dari Triaman. “Sejauh ini baru Malaysia kalau yang luar negeri, musik kita kan banyak yang populer di sana,” jelasnya.

Triaman menjual album rilisan fisik dari musisi Indonesia dan musisi dari luar negeri, terutama Amerika dan Inggris. Untuk album rilisan fisik dari musisi Indonesia kebanyakan adalah album keluaran terbaru. Namun, untuk album rilisan fisik dari musisi luar negeri, Triaman mendapatkan nya dalam kondisi bekas.

Indonesia sampai sekarang masih memiliki beberapa masalah kronis di dunia musik. Salah satunya adalah pembajakan. Kendati harus diakui pembajakan tidak semarak dahulu. Adanya regulasi yang mulai ketat ditambah dengan kesadaran pecinta musik terhadap pentingnya membeli album asli jadi penyebabnya. “Belakangan, pecinta musik itu sudah sadar untuk memberikan apresiasi tinggi kepada pencipta musik dengan membeli yang asli,” tandas Triaman.

Bagi sebagian orang, memiliki album fisik memang memberikan kenikmatan tersendiri. Selain bisa dijadikan barang koleksi, album tersebut juga masih bisa dijual di lain waktu. Selain itu, album fisik juga bisa dibawa dan dimintakan tanda tangan dari musisi atau band yang mengeluarkan album tersebut.(din/er)

Lainnya