Batik Tulis Butuh Dukungan Pemkab

Batik Tulis Butuh Dukungan Pemkab
IDEALIS: Perajin batik Widyarsana Garjita, 56, menyelesaikan karya di rumahnya Jalan Sarwo Edi No 9 Kelurahan Pangenjurutengah RT 003 RW 007 Kecamatan/Kabupaten Purworejo, kemarin (20/6). (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Perajin batik tulis di Kabupaten Purworejo perlu dukungan untuk pemasaran. Sebab, saat ini perajin batik tulis diibaratkan bak ayam kehilangan induk. Selama ini tidak ada solusi pemasaran yang jitu dari Pemkab Purworejo.

Bahkan, pemkab justru mengundang tutor batik dari kabupaten lain suatu kali lalu. Padahal, sebetulnya banyak sekali tutor batik yang sangat mumpuni di Kabupaten Purworejo.

“Jika pemerintah berkomitmen pada kesejahteraan para pembatik, mestinya jajaran ASN pemkab pada hari tertentu mengenakan produk batik produksi anak sendiri, seiring dengan pengakuan internasional bahwa seni batik adalah asli seni Indonesia,” jelas Widyarsana Garjita, perajin batik, ditemi di Jalan Sarwo Edi No 9 Kelurahan Pangenjurutengah RT 003 RW 007 Kecamatan/Kabupaten Purworejo, kemarin (20/6).

Menurutnya, hingga kini dia mendampingi 23 desa agar tetap bertahan kreasi dunia batik. Setidaknya ada 16 hingga 20 peserta pelatihan aktif. Meski, kegiatan produksi batik hanya dilakukan saat waktu luang.

Garjita menuturkan, batik merupakan industri rumahan. Perajin batik membutuhkan modal sekitar Rp 1 juta untuk membeli perlengkapan membatik mulai canting, kompor, wadah, dan malam (lilin khusus untuk membatik).

Menurutnya, hal yang lebih penting adalah menyambungkan rantai produsen dan konsumen. Dia terus memberikan pemahaman harga kain batik tulis lebih mahal dipengaruhi banyak hal.

“Kehalusan coretan canting bukan satunya-satunya tolok ukurannya. Namun, juga pemilihan kain sebagai media corat-coretnya juga menentukan harga jual dari hasil karya seni ini,” katanya.

Garjita menyatakan, ironisnya saat terjadi keterpurukan pemasaran produksi batik justru hadir batik industri cetak digital. Ini menyebabkan ruang pasar industri perajin batik tulis semakin sempit.

Kesenjangan harga antara batik tulis dan printing sangat besar. Apalagi, daya beli masyarakat menjadi kunci.

“Hitungan perajin batik dengan kualitas medium harganya berkisar antara Rp 250 ribu sampai Rp 400 ribu per kain, belum ongkos jahit. Sementara industri cetak digital 60 sampai 70 persen lebih murah. Itu yang paling banyak diambil konsumen,” ucapnya.

Dia mengaku tahu betul pangsa pasar batik tulis. Namun, proses poduksi batik tulis tak secepat batik printing.

“Secara tidak langsung, itu tantangan yang ada di depan. Pukulan bagi saya beserta teman pembatik lainnya. Namun, semua harus dihadapi dengan bijaksana. Kami harus terus mengedukasi masyarakat agar bisa membedakan kain batik yang sesungguhnya dengan motif batik hasil industri modern,” jelasnya.

Menurutnya, dua unsur terpenting dalam industri batik tulis. Yakni, malam dan jenis kain yang digunakan.

“Jika menggunakan kain sintetis tentu tidak bisa dikatakan sebagai kain batik dan pasti tidak menggunakan malam,” ujarnya. (tom/amd)

Lainnya