Menangis, Sedih karena Tak Punya Pendapatan Lain

 Menangis, Sedih karena Tak Punya Pendapatan Lain
Panut Sarjiono menunggu lapak dengan harap ada wisatawan yang ingin menggunakan jasa fotonya di Pantai Parangtritis, kemarin (18/6).

Bantul Kendati bukan hari libur, Pantai Parangtritis masih dikunjungi wisatawan. Memang tidak banyak, tapi cukup memberi harap para pelaku wisata. Mencoba peruntungan dengan menggelar dagangan dan menawarkan jasa.

Pandemi Covid-19 menghantam berbagai sektor. Salah satu yang paling terdampak adalah pariwisata. Sempat kembali ramai sekitar tiga minggu belakangan, Pemkab Bantul menetapkan kebijakan untuk menutup semua objek wisata (obwis) yang dikelolanya setiap akhir pekan, terhitung 15 Juni sampai 28 Juni 2021.

Salah satu obwis tersohor di Bumi Projotamansari, Pantai Parangtritis, pun turut ditutup. Sesuai Instruksi Bupati Bantul No 15/Instr/2021 tentang Perpanjangan Kesembilan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Berbasis Mikro di Kabupaten Bantul untuk Pengendalian Persebaran Covid-19.

Padahal ratusan pelaku wisata menggantungkan nafkah dan pendapatan di pantai ini. “Sebetulnya pedih hati. Tapi, ya wong cilik, piye meneh (orang kecil, mau bagaimana lagi, Red),” sebut Panut Sarjiono, seorang penyedia jasa foto di Pantai Parangtritis, pasrah saat dijumpai Radar Jogja di lapaknya kemarin (18/6).

Ayah dua anak ini mengandalkan atau njagakke akhir pekan sebagai hari “panen”. Sementara di hari kerja, Senin sampai Jumat, dia hanya mampu paling banyak mengumpulkan Rp 50 ribu.

Seperti kemarin, sampai pukul 13.00 kakek lima cucu ini baru memperoleh pendapatan Rp 20 ribu. “Tempat wisata ya ramainya Sabtu-Minggu. Kalau hari biasa, orang ngantor dan kerja. Ya, sama saja ditutup,” sesalnya.

Panut khawatir, penutupan obwis oleh pemkab akan berdampak signifikan terhadap pelaku wisata. Sebab berdasar pengalamannya saat di awal pandemi, pria yang memulai usaha jasa foto tahun 1979 ini tidak memiliki pemasukan sama sekali. Bahkan tetangganya sampai ada yang menjual sepeda motor untuk bertahan hidup.

“Kemarin ada tetanggaku yang jual motor buat makan. Dia jualan warung makan kecil-kecilan. Kami tidak punya sumber pendapatan lain, selain pariwisata,” ungkapnya, lirih.

Oleh sebab itu, walaupun Pantai Parangtritis sepi, Panut tetap mencoba peruntungan. Menawarkan jasa foto kepada segelintir pengunjung yang datang. Sebelum ditutup hari Sabtu dan besok.

Salah seorang penjaga warung di Pantai Parangtritis yang enggan menyebut namanya, bahkan sampai menangis. Perempuan 43 tahun ini merupakan pekerja yang dibayar harian. Ditutupnya pantai, otomatis membuatnya kehilangan pendapatan.

“Kalau memang ditutup, mengikuti pemerintah saja,” ujarnya, kemudian tercekat dan mengucap air mata. “Ya gitu. Ada rasa pedih juga,” lanjutnya masih sambil mengusap air mata.

Tukang parkir di Pantai Parangtritis Suharyadi, juga turut merasakan sakit yang sama. Terhadap kebijakan penutupan obwis yang dikelola pemkab di akhir pekan. Ayah dua orang putra ini sempat merasa kembali optimistis dengan profesinya. Sebab tiga minggu belakangan meraup pendapatan yang dirasanya cukup banyak. “Sabtu-Minggu memang banyak pengunjung. Minggu kemarin sampai parkiran penuh,” bebernya.

Pria 36 tahun ini hanya mampu berharap, kebijakan penutupan obwis pada akhir pekan akan berlangsung sementara. Selain itu, Suharyadi pun berharap kebijakan penutupan obwis efektif dalam menekan penularan Covid-19 di tengah masyarakat. Sehingga dirinya dapat kembali beraktivitas seperti sebelum pandemi. “Harapan kami, ya pengen-nya ramai terus. Semoga saja bisa pulih seperti dulu,” ucapnya. (laz/er)

Lainnya