Pede Pakaian Bekas tapi Original

Pede Pakaian Bekas tapi Original
TREN: Sejumlah pengunjung dalam ajang Purworejo Thrift Day #2 di Jodo Plaza Kabupaten Purworejo kemarin. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Peluang bisnis pakaian bekas impor menggigurkan. Kelompok milenial di Kabupaten Purworejo pun melirik usaha pakaian yang kerap disebut awul-awul tersebut.

Hal itu terbukti dengan suksesnya kegiatan bazar Purworejo Thrift Day #2 di Jodo Plaza kemarin (20/6). Kegiatan ini diselenggarakan belasan pemuda yang tergabung dalam Purworejo Thrift Market (PTM).

Istilah trifting dalam bazar tersebut sengaja dipilih karena dinilai tidak asing bagi generasi muda milenial Kabupaten Purworejo. Thrifting adalah kegiatan jual beli barang bekas yang kualitasnya masih bagus.

“Ya, pakaian bekas. Ini event kali kedua yang kami gelar. Alhamdulillah peminatnya terus bertambah,” ucap Fahmi, salah seorang pedagang awul-awul.
Dalam bazar tersebut, sedikitnya ada delapan stand dari enam belas penjual yang menjual hoodie, crew neck, zip hoodie, kemeja, kaos, celana, sepatu, topi, kacamata. Brand yang ditawarkan mulai GAP, Dickies, Nike, Adidas, Uniqlo, Thrasher, dan Pancoat. “Untuk harga kita mulai dari 10 ribu hingga ratusan ribu tergantung kualitas dan merek barang tersebut,” katanya.

Dijelaskan, trifting dengan brand ternama dunia dan kualitasnya masih laik pakai cukup banyak diminati sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, kalangan anak muda kini lebih percaya diri (pede) mengenakan sandangan yang original tapi beli bekas dibanding memakai barang baru tapi tidak original.

“Mindset tersebut menjadi tren di kalangan anak-anak muda yang berbanding lurus dengan terbangunnya pasar thrift market di Purworejo,” jelasnya.

Menurutnya, bazar digelar bukan semata-semata agar dagangan laku. Bazar juga bagian dari kampanye memperkuat branding thrift market agar semakin dikenal dan disukai masyarakat luas. Khususnya, kalangan anak muda.

Fahmi menyatakan, ajang ini rencana dijadikan kegiatan rutin. Terlebih, dampaknya bagi bisnis usaha pakaian bekas semakin menjanjikan.

“Karena pandemi (Covid-19), event ini kami gelar dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Pengunjung di masing-masing stan dibatasi dan kami wajibkan mengenakan masker,” ujarnya.

Mukti Ali, pembeli, mengungkapkan, pakaian bekas dengan brand ternama tidak hanya sebatas gengsi. Pakai bekas tersebut lebih nyaman dikenakan dan awet.

“Lebih percaya diri saja kalau pakai barang asli bukan KW (kwalitas tidak original),” ungkapnya. (tom/amd)

Lainnya