Petani Diimbau Tunda Tanam Palawija

Petani Diimbau Tunda Tanam Palawija
Meskipun sebenarnya masuk kemarau, tetapi hujan masih terjadi di wilayah Sleman. Bahkan intensitasnya masih tinggi.

SLEMAN  Hujan masih mengguyur wilayah Jogjakarta dan sekitarnya, sepekan belakangan ini. Padahal semestinya saat ini sudah memasuki musim kemarau. Hal ini berdampak pada sektor pertanian. Petani di Kabupaten Sleman diimbau melakukan penundaan tanam palawija, sampai kondisi cuaca normal. Curah hujan mereda.

“Secara umum kalau palawija yang sudah ditanam itu nggak masalah. Kalau yang belum ditanam, sebaiknya menunda sampai hujan agak reda,” ungkap Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Siti Rochaya kepada Radar Jogja, kemarin (22/6).

Dikatakan, jika tanaman palawija, seperti jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau dan lain-lain, ini kondisinya sudah ditanam, maka, tidak terlalu berdampak pada pertumbuhannya. Tetapi, jika baru memasuki masa tanam, sebaiknya dilakukan penundaan. Karena air yang menggenang dapat menyebabkan biji tanaman yang disemai menjadi busuk.

Namun sebaliknya. Untuk tanaman padi dengan ketersediaan air ini justru sangat mendukung. Terutama, di wilayah yang irigasinya lancar. Diimbau, pola tanam padi agar dilakukan lebih cepat.

Siti menyebutkan, masa tanam palawija saat ini mencapai 10 hektare. Dari prediksi pola tanam kali ini, sekitar 5.000 hektare (Ha) jagung. Kedelai 150 Ha dan kacang tanah sekitar 4 ribuan Ha.

Nah, hama yang patut diwaspadai, adanya kelembaban tinggi ini, salah satunya wereng batang coklat. Karena dapat merusak tanaman padi, menyebabkan tanaman mengering. Menimbulkan efek seperti terbakar (hopperbrun). “Antisipasinya, petani bekerjasama dengan pengandali organisme pengganggu tumbuhan (POPT) dan agen pengendali hayati. Jika petani menemukan (hama, Red) di lapangan agar segera melaporkan,” ujarnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) DIJ menginformasikan, prediksi puncak musim kemarau masih akan terjadi pada Agustus mendatang. Pada kondisi ini, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas IV Mlati Sleman BMKG DIY Reni Kraningtyas mengimbau, petani agar tidak menanam tembakau pada saat kondisi seperti ini. Karena berdampak pada kualitas tembakau.

Dia menjelaskan, kondisi cuaca iklim di wilayah DIJ saat ini disebabkan adanya pusaran angin tertutup (Eddy) low pressure area (LPA) di sebelah barat Sumatera. Sehingga memicu terjadinya konvergensi atau pertemuan arus angin di lapisan 700 Milibar (Mb),  antara angin dari barat laut dan timur laut di wilayah Jawa. Di samping itu, indek dipole mode index (DMI) bernilai negatif (-0,5) yang artinya, ada suplay uap air  menuju pantai barat Sumatera dan Jawa.

Hal ini menyebabkan suhu permukaan laut  cukup hangat di perairan sekitar Jawa. Yakni mencapai 28 – 30 derajat celcius. Dengan kelembaban udara di lapisan bawah sebanyak 850 Mb. “Kelembaban masih cukup  tinggi yaitu lebih dari 80 persen, yang memicu terbentuknya awan hujan dan mengakibatkan potensi hujan pada Juni ini. Kondisi ini disebut kemarau basah,” katanya.

Dikatakan musim kemarau itu apabila selama 10 hari atau satu dasarian berturut-turut itu, curah hujan kurang dari 50 milimeter (mm). Dan diikuti dua dasarian berikutnya kurang dari 50 mm. Tiga dasarian atau 30 hari itu hujan dibawah 150 mm. “Musim kemarau bisa saja ada hujan dengan kriteria, di setiap dasarian itu kurang dari 50 mm,” pungkasnya. (mel/din/er)

Lainnya