Peduli Kebersihan, Tak Malu Pungut Plastik

Peduli Kebersihan, Tak Malu Pungut Plastik
BERSIH: Penyandang disabilitas membantu mengambil sampah anorganik untuk Bank Sampah Inklusi Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. (JIHAN ARON VAHERA/Radar Purworejo)

RADAR PURWOREJO – Bank Sampah Inklusi (BSI) Desa Kaliharjo memiliki nasabahnya itu dari berbagai kalangan masyarakat. Tak terkecuali para penyandang disabilitas.

Bank Sampah Inklusi (BSI) Desa Kaliharjo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, sangat aktif. Terbentuk pada 2018, BSI tetap aktif hingga saat ini. Bahkan, keberadaannya membuat masyarakat menjadi lebih peka terhadap kebersihan lingkungan.

“Kenapa dinamai BSI? Sebenarnya sama seperti bank sampah yang lain. Namun kalau BSI, dari pengurus atau nasabahnya itu dari berbagai kalangan masyarakat. Mulai anak kecil hingga lansia. Pun para penyandang disabilitas,” ujar Dirut BSI Desa Kaliharjo Arifatul Aini kepada Radar Purworejo Rabu (23/6).

Dia menyebutkan, waktu itu Desa Kaliharjo menjadi salah satu desa yang dirintis menjadi desa inklusi. “Sehingga penetapannya saat itu juga bank sampah inklusi. Dengan harapan, para penyandang difabel juga dapat ikut andil dalam berbagai kegiatan masyarakat. Termasuk bank sampah ini,” kata dia.

BSI merupakan inisiasi dari Yayasan Yakkum, grup RS Bethesda Jogjakarta dan Panti Waluyo Purworejo. “Sampai saat ini kami baru punya nasabah 98, baik perorangan maupun kelembagaan. Kelembagaan tersebut seperti PAUD, SD, SMP, dan seterusnya,” sebut perempuan yang akrab disapa Eni tersebut.
Setiap Selasa BSI tersebut mengambil sampah-sampah ke unit-unit RT. Jumlahnya 12 unit.

Mereka kemudian melakukan pemilahan. “Sebetulnya kami menyepakati untuk buka setiap Selasa. Tetapi, dalam praktiknya terkadang bisa setiap hari. Melihat situasi pengurus. Jika tidak banyak kerjaan, kalau ada yang mau setor, kami layani,” jelasnya.

BSI belum memiliki mesin pencacah plastik untuk mengolah atau mendaur ulang kembali sampah anorganik. Pengolahan sampah yang dilakukan masih sebatas pemilahan. Sampah yang sudah dipilah kemudiah diambil oleh bank sampah induk.

Nasabah yang setor dapat mengambil hakya dalam bentuk uang atau tabungan. “Kalau misalkan lembaga seperti panti asuhan, bentuknya tabungan. Nanti mereka menerimanya saat lebaran begitu,” ungkap dia.

Dia memiliki sebuah keinginan. Dia ingin ke depan anak-anak memiliki tabungan sendiri dari hasil sampah yang mereka kumpulkan. Hal itu dimaksudkan agar mereka sudah terlatih dan peduli terhadap sampah dan lingkungan sejak kecil.

“Misal di jalan melihat sampah, langsung kepingin ngambil. Selain itu, anak-anak kalau punya tabungan sndiri kan senang. Jadi, tidak hanya ibunya saja yang punya,” ungkapnya.

Rencananya BSI akan merambah ke sekolah-sekolah. ”Rencananya akan menyediakan alat sekolah atau jajanan atau apa gitu, dari hasil penukaran sampah itu. Tapi, baru wacana. Kepinginya meningkatnya akan seperti itu,” harap Eni.

Dia menilai setelah ada BSI masyarakat lebih peka dan peduli terhadap lingkungan. Dulu banyak sampah plastik yang bergeletakan di jalan. Limbah kaca ada di mana-mana. Bahkan, banyak warga membuang sampah di sungai.
Kini warga lebih memilih untuk mengumpulkan sampahnya dan menjual ke BSI. Lingkungan menjadi lebih bersih dan nyaman.

“Ibu-ibu kini juga tidak malu untuk mengumpulkan atau memungut plastik. Sebelum adanya BSI, sampah plastik sering dibakar. Kan bisa mengganggu kebersihan udara dan kesehatan. Sekarang beda. Mikir-nya apa-apa bisa jadi uang. Ada nilai ekonomisnya,” tandas dia. (han/amd)

Lainnya