Jaga Pikiran Positif, Menghindari Baca Berita

Jaga Pikiran Positif, Menghindari Baca Berita
Hiskia Andika saat isolasi di Shelter UII, kemarin (27/6). Selama isolasi Hiskia selalu menjaga pikiran agar terhindar dari stres. (FOTO: HISKIA ANDIKA FOR RADAR JOGJA)

Sleman Kemarin (27/6), memasuki hari ke lima, Hiskia Andika menjalani isolasi di Selter Universitas Islam Indonesia (UII). Dia merupakan salah seorang jurnalis yang dinyatakan terpapar Covid-19, setelah puluhan wartawan di DIJ juga terpapar virus asal Wuhan, Tiongkok. Seperti apa kisahnya?

Selepas menjalani aktivitas kerja pada 22 Juni, Hiskia merasakan flu ringan. Untuk mengatasinya, ia pun membeli obat di apotek terdekat.

Dia sempat mengalami gejala demam. Tetapi tidak kehilangan nafsu makan. Maka dari itu, ia tetap beraktivitas seperti biasa. Menulis berita mengejar deadline. Semalam mengonsumsi obat, paginya merasa kembali bugar.

Berbeda dari biasanya, dia tampak bersemangat, karena pada 23 Juni, hari ulang tahunnya ke-24. Bangun tidur pagi-pagi, bergegas mandi, sarapan pagi dengan telur rebus, dan hendak bekerja seperti biasa.  Saat memakai parfum, dia tak dapat mencium aroma parfumnya. Disemprotkan ke bajunya, tidak ada bau. Lalu disemprot ke tanggannya, masih sama.

”Saat flu saya tidak menyadari Covid-19, karena begitu minum obat, badan mulai ringan. Tapi saat tidak dapat mencium bau, saya menduga terpapar Covid-19,” ungkap Hiskia, Warga yang berdomisili di Ngaglik itu dihubungi Radar Jogja, kemarin (27/6).

Mengingat pekerjaannya sebagai journalist yang bekerja di lapangan dan memiliki mobilitas tinggi, dia menyadari rawannya paparan. Di tambah lagi, dia yang kehilangan indera penciuman, sudah menjadi ciri, gejala awal paparan Covid-19. Sehingga dia memutuskan  swab antigen mandiri di RS UAD Maguwo, (23/6).

”Sepuluh menit hasilnya keluar. Kata dokter hasilnya positif, lalu saya pergi ke Puskesmas Ngaglik II untuk meminta surat rujukan Covid-19,” kata dia.

Namun, karena layanan Puskesmas sudah tutup dia memutuskan menghubungi pelayanan melalui telepon dan tak kunjung mendapatkan respon. Lalu dia berinisiatif menghubungi Badan Penaggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman untuk membantu mencarikan informasi selter yang kosong.  Dan akhirnya mendapatkan ruang isolasi di Shelter UII di Kapanewon Ngaglik.

Dia memilih isolasi jauh dari rumah dibandingkan dengan isolasi di rumah. Dia takut, kalau dirinya sebagai pembawa virus bagi orang-orang terdekatnya (keluarga, red).

Pada Rabu sore itu, dia bergegas menuju selter dengan menaiki motor sendiri. Dan mengisolasi diri. Menjaga psikisnya, imunnya, dan memanfaatkan waktunya untuk beristirahat. Jika bosan dia selingi dengan menonton film dan bermain game.

Di ruangan berukuran sekitar 2,5 x 4 meter itu dia menjalani isolasi diri. Sepi, hanya ditemani ranjang kosong, sebuah lemari dan meja kursi. Sesekali keluar, untuk menjemur badan, ketika pagi hari. Lalu juga ke toilet yang berjarak kurang lebih 10 meter dari ruang isolasi. ”Pagi hari terkadang olahraga. Kalau yang dihindari, baca berita dulu,” ucapnya.

Sementara itu untuk meningkatkan imunitas dia rutin mengkonsumsi vitamin. Pemeberian dari warga dan pelayanan kesehatan setempat.

Selama isolasi dia masih belum dapat mencium bau. Meski sedikit khawatir dengan keadaannya lantaran terpapar, namun dia mencoba berfikir positif  bahwa semua akan baik-baik saja. Adanya paparan (Covid-19) ini, dia mengajak semua orang untuk benar-benar menjalani protokol kesehatan (prokes). Meskipun sudah mendapatkan vaksin, belum tentu menjauhkan dari paparan Covid-19 ini. ”Karena kesehatan mahal harganya. Dan korona itu nyata,” ujarnya.

Hiskia menyebutkan, isolasi di selter UII dilakukan selama sepuluh hari. Empat hari setelahnya, barulah dilanjutkan isolasi mandiri di rumah dan diakhiri dengan menjalani tes pollymerase chain reaction (PCR). (bah/er)

Lainnya