Hamparan Bunga di JJLS Pantai Samas, Riwayatmu Kini

Hamparan Bunga di JJLS Pantai Samas, Riwayatmu Kini
Pekerja di Romantic Garden mengenggam beberapa kelopak bunga untuk dijadikan bibit. Sebelum juragannya mencabut semua tanaman bunga.

BANTUL  Jalan Jalur Lingkar Selatan (JJLS) Pantai Samas, di Padukuhan Tegalsari, Kalurahan Srigading, Sanden, Bantul pernah naik pamor jadi spot selfie. Dulu ramai pengunjung dan wisatawan. Tapi, ini bukan lagi hanya sepi, hiruk pikuk pariwisatanya sudah benar-benar mati.

Sebelum pandemi, JJLS Pantai Samas merupakan salah satu jalanan yang elok. Tiap sisinya, berhias bunga warna-warni nan cantik. Bahkan mampu menyunggingkan simpul senyum bagi yang memandang. Lalu ketika matahari bersinar cerah dan angin bertiup sepoi, menjadi waktu paling tepat untuk mengabadikan diri dengan berswafoto.

Hamparan bunga yang disusun rapi itu kini tinggal kenangan. Sejak pandemi menerjang, praktis kegiatan pariwisata perlahan surut. Pemberlakukan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat semakin mematikan geliatnya. “Jadi tidak terurus karena tidak ada pengunjung,” ujar Rusdianto yang saat ditemui Radar Jogja tengah menyiram lahannya yang kini ditanami bawang merah.

Mengandalkan tanah Sultan Ground pria 41 tahun ini pernah meraup rezeki dengan berbudidaya bunga. Kira-kira sekitar tahun 2018, Rusdianto bersama istrinya memulai spot foto dengan latar bunga yang dibudidayakannya. Pria yang berharap segera dianugerahi momongan ini pun membagi peran dengan istrinya. “Dulu, saya yang merawat dan menyiram bunga. Istri saya yang menjaga tiket dan jualan bibit,” kenangnya satir.

Ya dulu, Risdianto dan istrinya rata-rata dapat mengantongi uang sekitar Rp 500 ribu per hari. Tapi kini, warga Padukuhan Unan-Unan RT 25 ini harus puas dengan pendapatan Rp 4 juta per dua bulan. Itu pun belum dipangkas biaya pupuk dan benih bawang merah yang kini ditanamnya. “Ya bisa balik modal saja sudah senang,” ujarnya di sela langkah saat memindah sumber air penyiraman. “Istri saya, sekarang cuma di rumah,” imbuhnya setelah terpasang.

Sementara Ika Narti Naningrum, masih sempat mencoba peruntungan. Perempuan 37 tahun ini membuka tutup usaha budidaya bunga yang dikelolanya. Ibu tiga orang anak ini membuka usahanya tiap musim liburan. “Bunga selama pandemi tetap buka saat momen liburan, seperti lebaran sama tahun baru,” tuturnya ketika dihubungi Radar Jogja.

Sementara di luar musim liburan, Ika memilih untuk menanduri lahan yang dikelolanya dengan bawang merah dan cabai. Berbeda dengan tahun-tahun lalu. Di mana Ika membudidayakan bunga sepanjang tahun. “Sekarang kan cuma satu periode musim tanam saja,” sebutnya.

Ika kemudian membandingkan, penghasilannya di tahun 2020 dan 2021 dengan tetap membuka usaha budidaya bunga. Menurutnya, perbedaannya sangat jauh. Meskipun Ika enggan menyebut penghasilannya di tahun 2020. Tapi pada liburan kali ini, Ika paling banyak mendapat Rp 800 ribu dalam satu hari. Sementara pada hari biasa hanya Rp 250 ribu. Padahal, Ika tinggal satu-satunya pembudidaya bunga yang bertahan di JJLS Pantai Samas saat ini.

“Akhir-akhir ini (budidaya bunga, Red) nggak menutup untuk biaya operasional. Hari ini (kemarin, Red) terakhir buka bunga, besok (hari ini, Red) sudah mau saya cabut. Mau saya ganti cabai sama bawang merah,” ungkap perempuan yang dalam kesehariannya juga berdagang bibit sayuran itu. (din/er)

Lainnya