Jogjakarta Tambah Selter hingga Siapkan RS Covid-19

Jogjakarta Tambah Selter hingga Siapkan RS Covid-19
Bregada wisata membawa sejumlah poster di kawasan Malioboro mengingatkan kepada warga untuk di rumah saja.

JOGJA  Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja berencana menyiapkan selter tambahan unit isolasi terpusat di Rumah Susun Sederhana (Rusunawa) Gemawang, di wilayah Sleman. Selter Gemawang milik Pemprov Jogjakarta ini siap digunakan pekan depan.

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) mengatakan, kini tengah dilakukan berbagai persiapan di Rusunawa Gemawang sebelum siap digunakan. Termasuk melakukan berbagai perbaikan fasilitas sarana dan prasarananya.

“Mulai minggu depan kami akan membuka selter Gemawang di wilayah Sleman. Saat ini sedang dilakukan perbaikan dan renovasi seperlunya,” kata HP kepada wartawan kemarin (5/7).

Wakil Wali Kota Jogja itu menjelaskan, Rusunawa Gemawang dengan kapasitas 34 kamar ini diperuntukkan terutama bagi penderita dengan kondisi rumah yang tidak layak untuk pelaksanaan isolasi mandiri (isoman). Dengan catatan merupakan orang tanpa gejala (OTG) yang mendapat rekomendasi isoman dari puskesmas setempat.

“Tapi sebenarnya Selter Bener maupun wilayah masih jalan. Selter Bener keluar masuk terus ya, selalu berubah dalam waktu singkat. Kemarin masih ada tiga unit,”  ujarnya.

Meski begitu, beberapa wilayah lain juga akan disiapkan untuk menambah selter lagi demi mengantisipasi jika terisi penuh. Termasuk disiapkan beberapa semacam balai RW atau RK, gedung pertemuan, GOR di kemantren. Asrama atau kos-kosan yang belum dipakai, bisa diajukan oleh wilayah untuk dijadikan sebagai tempat isoman atau selter. Termasuk rumah dinas Mantri Pamong Praja. “Jadi memang dari sisi ketersediaan masih cukup, tapi tetap kami siapkan yang di Gemawang,” jelasnya.

Selain itu, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) juga menawarkan tiga hotel sebagai selter dan satu hotel sebagai karantina mandiri. Sampai saat ini selter yang disediakan sudah berjalan. “Artinya untuk isolasi mandiri, semoga masih tercukupi,” terangnya.

Terkait bagaimana memenuhi ketersediaan ruang perawatan Covid-19, rencana rumah sakit (RS) darurat belum menjadi opsi utama. Sampai saat ini keterisian bed occupancy rate (BOR) mencapai 97 persen untuk ICU, non-ICU 85 persen dan IGD 87 persen.

Pemkot memilih strategi pertama dengan memperbanyak kapasitas di masing-masing rumah sakit hingga maksimal. Hingga sekarang tujuh RS rujukan masih terus menambah kapasitas bed-nya. Pada awal Juli lalu kesanggupan akan menambah sampai 71 bed. Saat ini masih untuk memenuhi rencana itu.

“Jadi selama rumah sakit di Jogja masih terus menambah, kami upayakan pemenuhan bed pasien dengan cara penambahan bed itu di masing-masing rumah sakit,” tambah Heroe.

Pemkot pun telah menyiapkan beberapa skenario jika kebutuhan bed semakin meningkat. Opsi pertama, mendirikan tenda untuk 50 bed di RSUD Kota Jogja di Wirosaban. Terlebih jika masih kurang, dimungkinkan meminjam tenda kapasitas 50 bed dari Korem 072/Pamungkas.

Opsi kedua, jika diperlukan penambahan bed lagi namun beberapa rumah sakit rujukan tidak mampu, maka RS Pratama Jogja nantinya akan diubah menjadi RS Covid-19. “Sehingga sekarang sedang kami perbaiki, insya Allah dua bulan ini bisa selesai untuk segala sesuatu di RS Pratama,” tambahnya.

Sementara itu Wakil Ketua Komisi D DPRD Kota Jogja Krisnadi Setyawan menyebut, penggunaan selter isolasi di Rusunawa Gemawang merupakan langkah strategis. Termasuk berdasarkan keputusan bersama dengan DPRD Kota Jogja. Hal itu melihat makin terbatasanya selter isoman di Kota Jogja. “Meski lokasinya di Sleman, tapi bisa mengurangi beban selter di kota,” ungkapnya.

Politisi Partai Gerindar itu juga tidak khawatir dengan jumlah tenaga kesehatan dengan penambahan selter. Menurut dia, dari pendataan, nakes dari Dinas Kesehatan dan Public Safety Center Kota Jogja masih mencukupi. Pun masih ada back up dari personel Dinas Sosial dan Tagana Kota Jogja. Justru yang dikhawatirkannya adalah ketersediaan oksigen maupun tabungnya. Apalagi Pemkot Jogja belum bisa menyediakan secara mandiri. Masih mengandalkan pasokan dari supplier. “Kekhawatiran jika tiba-tiba kasus melonjak seperti kemarin,” katanya.

Untuk itu, dia meminta pemkot untuk tegas melaksanakan aturan dalam PPKM Darurat ini. Terutama dalam melakukan pembatasan mobilitas sosial. Menurut dia, akan menjadi percuma jika tidak dilakukan pembatasan mobilitas karena potensi penularan paling besar saat ini dari sana. “Mau tambah selter berapa pun tidak cukup kalau mobilitas masyarakat tak dibatasai,” pesannya.(wia/laz/din/er)

Lainnya