Tutup Sementara Lima Pasar Tradisional

Tutup Sementara Lima Pasar Tradisional
Sejumlah anggota Satpol PP Kota Jogja berjaga-jaga di sekitar Pasar Kranggan, Kota Jogja, kemarin (8/7).

JOGJA  Sebanyak lima pasar tradisional yang tidak menjual bahan kebutuhan pokok ditutup sementara, mulai hari ini (8/7). Penutupan itu dilakukan selama pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat Jawa-Bali hingga 20 Juli mendatang.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja, Yunianto Dwi Sutono mengatakan keputusan untuk menutup sementara pasar tradisional yang menjual barang non esensial itu setelah melihat perkembangan dan kondisi di lapangan. Dengan harapan, PPKM darurat bisa memberikan hasil lebih optimal untuk mencegah penularan dan pengendalian kasus Covid-19. “Penutupan sementara akan dilakukan mulai hari ini (8/7),” katanya kemarin (7/7).

Yunianto menjelaskan lima pasar tradisional yang ditutup sementara tersebut yaitu Pasar Beringharjo Barat, Pusat Bisnis Beringharjo yang menjual fesyen dan souvenir. Pasar Klitikan yang menjual barang bekas, Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (Pasty), serta Pasar Sepeda Tunjung Sari. “Kalau Pasar Beringharjo Barat dan Pusat Bisnis Beringharjo sudah ditutup sementara sejak PPKM darurat resmi diberlakukan pada 3 Juli lalu,” ujarnya.

Selain itu, tindakan tegas juga diambil Disdag Kota Jogja untuk menutup sementara atau menghentikan aktivitas luberan pedagang di luar pasar selama PPKM Darurat. Saat ini luberan pedagang yang sudah mulai ditutup yaitu di Pasar Kranggan Jalan Poncowinatan.

Dikatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Mantri Pamong Praja di wilayah tersebut. Dikarenakan kewenangannya menjadi domain wilayah. ”Dari hasil koordinasi, maka luberan pedagang di luar pasar yang berjualan di jalanan juga ditutup,” jelasnya.

Sementara, untuk luberan pedagang di pasar lain seperti Pasar Sentul, Demangan, Kotagede, dan Patangpuluhan juga akan menyusul ditutup sementara.

Penutupan luberan pedagang di luar pasar merupakan hasil koordinasi dengan kemantren dan Satpol PP Kota Jogja. Selain untuk mencegah munculnya kerumunan, penutupan aktivitas luberan pedagang di luar pasar dilakukan karena seluruh bahan kebutuhan pokok yang dijual pedagang di luar pasar juga bisa diperoleh di pedagang di dalam pasar.  “Jika ada yang melanggar ditertibkan, nggak main-main,” tandasnya.

Sedangkan, di dalam pasar tradisional pun juga tetap dilaksanakan aturan kapasitas maksimal 50 persen untuk pedagang dan pengunjung.

Terpisah, Koordinator Paguyuban Pedagang Pasar Beringharjo Barat, Bintoro mengatakan seluruh pedagang sangat kooperatif dan tidak ada protes sama sekali untuk menutup sementara kiosnya selama PPKM Darurat. Ini dilakukan secara gotong royong untuk mendukung keputusan pemerintah bisa mencegah penularan Covid-19 dan mengendalikan angka kasus yang terus melonjak. ” Harapan kami setelah selesai kami bisa buka pasar dan kembali pulih. Paling tidak bisa memberikan hasil yang optimal,” katanya kepada Radar Jogja sembari menyebut yang ditutup mulai lantai 1-3 Pasar Beringharjo Barat.

Meski begitu, sekalipun Pasar Beringharjo Barat tutup sementara tidak ada aktivitas jual beli karena termasuk yang tidak menjual bahan kebutuhan pokok. Para pedagang tetap masih bisa melakukan transaksi kepada konsumen melalui jual beli online. Sebagian besar mereka telah memiliki pelanggannya masing-masing. Sembari menunggu kebijakan PPKM Darurat usai, mereka tetap berjualan online. “Mereka biasa tetap online atau dibuat story di WhatsApp, pelanggan tinggal pesan barang yang mereka inginkan,” terangnya.

Diharapkan, kebijakan PPKM darurat cukup 17 hari saja sampai 20 Juli mendatang dan tidak diperpanjang. Sebab, selama pandemi ini para pedagang dibuat ketidakpastian kapan pandemi ini akan berakhir. Pun berpengaruh terhadap pendapatannya yang tidak menentu. (wia/din/er)

Lainnya