Pernah Sehari 50 Jenazah, Sempat Ingin Menyerah

Pernah Sehari 50 Jenazah, Sempat Ingin Menyerah
Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman Lilik Resmiyanto saat ditemui Radar Jogja di lokasi kemarin (11/7).

Sleman Relawan dalam membantu penanganan pemakaman jenazah Covid-19 patut diacungi jempol. Meski sempat kewalahan menghadapi lonjakan kasus kematian karena korona, kini para relawan sedikit bernapas lega. Semua demi kemanusiaan.

Suara sirine ambulans menggema masuk ke halaman parkir Posko Dekontaminasi Kabupaten Sleman. Buru-buru delapan orang berbaju hazmat segera turun dari mobil. Seorang petugas yang pakaiannya tak kalah lengkap, menyemproti satu per satu ke delapan orang itu. Satu per satu menceburkan dirinya ke dalam ember dengan posisi berdiri dan tangan terangkat.

“Itu proses pembersihan. Rutinitas setelah pemakaman jenazah,” ungkap Koordinator Posko Dekontaminasi Covid-19 BPBD Sleman Lilik Resmiyanto saat di lokasi kemarin. Proses pembersihan dilakukan dua kali. Kemudian mereka melepas satu per satu piranti alat pelindung diri (APD).

Hazmat sekali pakai, langsung dilepaskan. Selanjutnya, para relawan dipersilakan mandi dan mengganti pakaian masing-masing sebelum kemudian beristirahat.

Lilik menjelaskan, menjadi relawan yang terpenting harus bahagia. Tidak tebang pilih, semua yang membutuhkan harus dilayani. Tak bermuluk, tujuannya demi kemanusiaan.

Ya, selain tenaga kesehatan (nakes) tim relawan pemakaman jenazah ini dibuat sibuk. Tingginya lonjakan kasus positif Covid-19 di Bumi Sembada, membuat relawan kewalahan. Pasalnya, dengan jumlah relawan yang terbatas harus menghadapi permintaan pemakaman pasien yang meninggal dunia.

Cukup tinggi selama Juli ini. Hingga per kemarin (11/7) pemulasaraan jenazah hingga pemakaman ada 82 kasus meninggal saat menjalani isolasi mandiri di rumah. Lalu untuk pasien meninggal di rumah sakit, terdapat 350 pemakaman. “Dalam sehari rata-rata delapan jenazah,” sebutnya.

Tingginya permintaan pemulasaraan ini, sampai-sampai satu tim menyelesaikan lima sekaligus dalam satu waktu. Tim pemulasaraan sebanyak empat regu ini beriringan melakukan tugasnya. Sementara  tim pemakaman ada tujuh regu. Satu regu masing-masing berisi delapan orang. “Kalau mobil ambulancs ada enam unit. Kalau yang besar, kita bisa angkat dua peti sekaligus,” terangnya.

Kondisi paling parah terjadi sepekan ini. Karena permintaan pemakaman dalam sehari bisa sampai 50 jenazah. Sampai-sampai relawan kewalahan dan merasa ingin menyerah. Hingga akhirnya pemerintah setempat melaui bupati Sleman melayangkan surat edaran untuk membentuk relawan pemakaman di setiap satgas kalurahan.

Alhamdulillah perlahan teratasi. Yang kemarin layanan menumpuk, kini dapat diback-up relawan kalurahan dan kapanewon,” ujarnya. Sehingga, kini pemakaman jenazah dapat tertangani dengan cepat.

Adapun yang menjadi kendala, pada saat jenazah siap dimakamkan, namun liang lahat belum disiapkan. Sementara masih banyak layanan yang harus segera teratasi. Ini yang membuat pemakaman menjadi molor waktu. Tetapi seiring adanya relawan di kalurahan, semua segera teratasi.

Edukasi relawan terus digencarkan. Dia berharap, suka duka berubah menjadi asa. Memutus mata rantai, melawan pandemi bersama-sama, untuk kemudian hidup normal kembali. (laz/din/er)

Lainnya