Terlibat Asmara, Mantan Kades Didenda Rp 500 Ribu

Terlibat Asmara, Mantan Kades Didenda Rp 500 Ribu
TERBUKTI: Sidang terbuka tindak pidana ringan dugaan penganiayaan dengan terdakwa Endar Sutrisno di Pengadilan Negeri Purworejo kemarin (15/7). (Hendri utomo/radar purworejo)

RADAR PURWOREJO – Mantan Kepala Desa (Kades) Kalitanjung, Kecamatan Ngombol, Endar Sutrisno, 52, dinyatakan bersalah melakukan pidana penganiayaan ringan dalam sidang tindak pidana ringan (tipiring) di Pengadilan Negeri (PN) Purworejo kemarin (15/7). Dia dijatuhi hukuman denda sebesar Rp 500 ribu atau penjara selama empat hari.

Endar terbukti menampar seorang perempuan. Yakni, Supriyani, 42, Korban masih aktif menjabat sebagai kepala dusun (Kadus) di Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip.

Sidang dipimpin hakim tunggal Jhon Ricardo. Terdakwa di dampingi penasihat hukumnya Dewa Antara.

Sementara itu, korban Supriyani di dampingi Ketua LSM Temperak Sumakmun. Tiga dari empat saksi hadir memberikan kesaksian.

Berdasarkan fakta persidangan, Endar terbukti menampar Supriyani sebanyak dua kali menggunakan tangan kosong. Peristiwa ini terjadi di depan rumah Supriyani di Desa Bajangrejo, Kecamatan Banyuurip, pada Jumat (21/5).

Dalam persidangan itu terungkap Endar menyatakan selama ini telah menjalin asmara dengan Supriyani selama lebih kurang empat tahun terakhir. Bahkan, mereka telah melakukan hubungan layaknya suami istri.

Pengakuan itu dikuatkan salah seorang saksi. Saksi itu mengaku kerap mengetahui Endar dan Supriyani berduaan.

Namun, Supriyani menyangkal. Dia membantah keras pernyataan Endar dan seorang saksi tersebut.

Humas PN Purworejo Samsumar Hidayat mengungkapkan, berdasarkan fakta-fakta persidangan, perbuatan terdakwa terbukti memenuhi unsur perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 352 KUHP tentang penganiayaan.

“Terdakwa dijatuhi hukuman denda Rp 500 ribu. Jika denda tidak dibayar maka diganti dengan kurungan selama empat hari,” ungkapnya.

Dalam putusan sidang perkara tindak pidana ringan (tipiring) tersebut, dijelaskan, hakim tidak membuat pertimbangan secara lengkap sebagaimana perkara yang diadili dengan pidana biasa. Hakim hanya menjatuhkan amar putusan sebagaimana di dalam template putusan untuk perkara tindak pidana ringan. “Ya, sesuai amar putusan itu, karena ini tipiring,” jelasnya.

Usai persidangan, Supriyani menegaskan sudah menyampaikan semua fakta yang dialami. Menurutnya, terdakwa tidak hanya melakukan penamparan. Terdakwa juga mengintimidasi sejumlah anggota keluarganya pascakejadian tersebut.

Termasuk ada kesepakatan memberikan biaya pengobatan akibat penamparan senilai Rp 20 juta. Namun, kesepakatan itu diingkari.

“Saat itu menyatakan sendiri mau memberikan biaya pengobatan. Ternyata sampai sekarang tidak dilaksanakan. Saya menginginkan terdakwa dihukum seberat-beratnya. Setahu saya, KDRT saja hukumannya berat. Padahal, itu yang melakukan suami atau istri. Apalagi, dia (terdakwa) kan orang lain bagi saya,” ucapnya.

Sementara itu, Endar bersama penasihat hukumnya menyatakan menerima dan bersedia menjalankan putusan hakim. Dia mengakui adanya hubungan asmara yang mengarah pada perselingkuhan sebagaimana terungkap dalam sidang.

“Ya, sesuai keterangan saksi-saksi dan terdakwa dalam persidangan tadi, semua kan sudah terungkap ada hubungan asmara,” ucap Dewa.

Dewa membenarkan sudah ada upaya mediasi. Termasuk upaya membayar biaya pengobatan Rp 20 juta.

Menurutnya, kliennya tidak merealisasikannya karena dinilai tidak masuk akal. “Nah, karena tidak memenuhi Rp 20 juta itu, akhirnya Pak Endar dilaporkan penganiayaan seperti yang terungkap dalam persidangan tadi. Harapannya ke depan sudah saling damai dan masing-masing bisa menata hati,” ucapnya. (tom/amd)

Lainnya