Karaokean dan Senam di Los hingga Galang Bansos

Karaokean dan Senam di Los hingga Galang Bansos
Aktivitas karaoke yang dilakukan para pedagang Pasar Bantul untuk mengusir bosan saat menunggu pembeli kemarin.

Bantul Baru pukul 10.30, los-los di Pasar Bantul sudah sepi pembeli. Membuang bosan, Mimpi Sedih pedagang akan Kerinduan pasar kembali ramai, dilakukan dengan berdendang ria.

“Kaauuuu, pergi. Setelah aku serahkan, kasih suciii. Itulah nasib, dirikuu,” ucap seorang ibu berjilbab dan setelan warna abu-abu saat mendendangkan Mimpi Sedih yang dipopulerkan penyanyi Emilia Contessa. Menggenggam mikrofon di tangan kanan, tangan kirinya yang berhias dua gelang dan cincin emas terkadang menjerat kabel mik. Sebuah masker medis tampak melingkar di lehernya. Sementara matanya fokus tertuju pada layar gawai yang terhubung dengan aplikasi Youtube.

Didekati Radar Jogja, perempuan berkacamata itu sama sekali tak bergeming. Beberapa saat ditunggu, justru pedagang lain yang tadinya tiduran, bangkit dan datang menghampiri. “Maaf, ada yang bisa saya bantu,” ujar  perempuan yang mengenakan baju hijau dan jilbab coklat menawarkan diri. Saat berkenalan, perempuan 53 tahun ini tertawa. “Nama kita sama,” sebutnya kemudian.

Ya, perempuan itu bernama Siti Fatimah. Bu Siti, begitu biasanya ia disapa, dan beberapa rekan pedagang di Pasar Bantul kehilangan langganan. Beberapa pelanggan yang bertahan, hanya membeli separuh dari kuota normal.

Membuang bosan sekaligus sebagai pelipur lara, tercetuslah ide di benak Bu Siti untuk membawa perangkat alat karaoke. “Karaokean, biasa lima atau enam orang. Kami pada suka nyanyi. Selama pandemi ini untuk mengisi waktu. Jualannya sepi, daripada gosip nggak ada gunanya. Kami nyanyi untuk hiburan,” beber Bu Siti sesekali tertawa.

Dengan bernyanyi, diakui Bu Siti, perasaannya menjadi lega. Hal ini dipercaya olehnya dapat meningkatkan imun. Lantaran perasaannya bahagia meski pendapatannya menurun. Pemasok bahan bagi pedagang gorengan ini agak menyesalkan kebijakan PPKM Darurat. Di mana menetapkan aktivitas pedagang kaki lima harus tutup pukul 20.00. Padahal, jam tersebut justru sedang ramai-ramainya pembeli.

“Beginilah, cuma untuk mengisi waktu luang. Dari pada rasanya lama sekali menunggu pembeli. Biasanya laris, pandemi ini berkurang banyak. Apalagi sekarang sudah dibatasi. Ya, untuk meningkatkan imun. Kami senang-senang, happy,” ujarnya, sembari menunjuk diri dan para rekannya.

Ucapan Bu Siti sempat berhenti sebentar. Memperhatikan rekannya yang berbaju abu-abu berhasil menyelesaikan satu lagu, tapi kemudian terbatuk-batuk. Usai meminum air mineral, rekan Bu Siti kemudian tertawa. Posisinya kini digantikan pedagang perempuan lain berbaju hitam dan masker merah yang mengikat rambutnya bergaya ponytail.

Yo duet,” ujar seorang bapak bertopi loreng mendekat. Mereka kemudian menyanyikan sebuah lagu yang dikondangkan oleh Rhoma Irama, Kerinduan. Seorang pedagang lain berbaju hijau pun turut mendekat dan ikut berjoget. Namun tetap mengambil jarak aman sekitar dua meter.

Memastikan semua kembali berjalan lancar, Bu Siti pun melanjutkan perbincangan. Kegiatan karaoke ternyata digelar setiap hari sejak pukul 09.00. Siapa pun boleh menyumbangkan suaranya, tanpa dipungut biaya alias gratis. “Nggak usah bayar. Kan cuma buat senang-senang. Tapi pukul 11.00 kami mulai beres-beres untuk tutup,” pesan warga Bambanglipuro, Bantul, itu.

Selain karaokean, Bu Siti dan beberapa pedagang juga menggelar senam sehat tiap hari Kamis dan Minggu. Melalui Paguyuban Laras Manunggal, para pedagang Pasar Bantul pun rutin memberikan bantuan.

“Kami ada sekretariat paguyubannya. Kami juga menggalang dana untuk bantuan sosial (bansos) bagi sesama pedagang yang tertimpa musibah dan ke yatim piatu. Bukan cuma nyanyi-nyanyi saja,” bebernya. (laz/din/er)

Lainnya