Pernah Ditembak di Papua, Meninggal karena Korona

Pernah Ditembak di Papua, Meninggal karena Korona
Bambang Purwaka dikenal sebagai dosen idola di Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta.

SLEMAN Dosen Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta Bambang Purwaka telah berpulang, kemarin (14/7). Dia meninggal dunia usai positif Covid-19 di RSUP dr. Sarjito. Namanya besar dikenang sebagai pejuang rakyat Papua.

Ambulans dari TRC BPBD DIJ tiba di pemakaman keluarga UGM Sawitsari, Depok, Sleman dari RSUP Dr Sardjito, sekitar pukul 17.00, kemarin sore (14/7). Dengan protokol yang ketat dan APD lengkap, personel TRC BPBD DIJ memakamkan jenazah Bambang Purwaka.

Banyak kalangan yang merasa kehilangan. Tapi karena pandemi, tak banyak yang datang melazat. BagibRektor UGM Prof. Ir Panut Mulyono, sosok Bambang merupakan sosok yang gigih memperjuangkan kesejahteraan rakyat Papua. Meski dia tinggal di Jogja, tetapi jiwanya untuk orang Papua. Dia menanggap Papua seperti tanah kelahirannya. “Saya tahu persis kedekatannya itu, bagi beliau seperti rumahnya sendiri,” ungkap Prof. Ir Panut dihubungi Radar Jogja, kemarin (14/7).

Bambang pernah menjadi ketua kelompok kerja (Pokja) Papua. Bahkan rumahnya (Bambang, red) yang berada di Jogja  digunakan untuk mendidik anak-anak generasi muda Papua, yang nantinya dapat bersekolah di Jogja. Misalnya saja, mahasiswa yang hendak belajar di UGM, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dan lainnya. Dia memiliki dedikasi tinggi dalam pemerataan pendidikan anak-anak Papua.”Dia sangat intens sekali mendidik anak-anak Papua,” katanya.

Panut pun salut dengan sosoknya yang begitu mencintai rakyat Papua. Oleh Bambang, dia pernah diminta bertemu dengan bupati dari Papua di Fisipol beberapa waktu lalu. Pertemuan itu membahas tentang bagaimana mempercepat kemajuan pendidikan. Bambang sangat peduli dengan pendidikan Papua dan berjuang memajukan Papua. Bahkan demi kemajuan wilayah Indonesia paling timur itu Bambang mengusulkan skema baru di dalam otonomi khusus Papua. “Tentang bagaimana dana itu sampai rakyat secara baik. Dia punya usulan itu,” ungkap Panut.

Panut mengaku cukup kagum dengan semangat Bambang. Dia  mengatakan sangat mengenal Bambang. Bahkan kerap berdiskusi dan mengobrol melalui whatsapp.

Bahkan pada Oktober tahun lalu, Bambang pernah menjadi anggota tim investigasi ke Papua. Dia bergabung dengan tim gabungan pencari fakta (TGPF) Intan Jaya. Pada 9 Oktober, dia tertembak oleh kelompok kriminal bersenjata yang saat itu melakukan penyerangan di distrik Hitadifa, Intan Jaya Papua.

Insiden itu terjadi pada saat Bambang hendak perjalanan pulang menuju rumah tempat dia beristirahat. Setelah dia melakukan investigasi dan mendatangi keluarga pendeta Yeremia yang tewas. Dia tertembak mengenai kakinya. Setelah insiden itu dia dilarikan ke Rumah Sakit Umum Darurat (RSUD) Sugapa dan dilakukan perawatan beberapa hari.

Sosok Bambang memiliki peranan penting. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Departemen Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM pada 1987 silam, pada saat itu dia juga menjalani kuliah dobel di UNY. Lalu melanjutkan pendidikan di Murdoch University pada 1995. Dan dia menyelesaikan Magister di Departemen Politik, University Of Western Australia, Perth, Australia pada 2016.

Dia memiliki peran penting di UGM. Sejak 2008 Bambang menjabat sebagai Kepala Pusat Pengembangan Kapasitas dan kerjasama (PPKK) Fisipol UGM. Yaitu lembaga yang aktif melakukan penelitian, pendampingan, advokasi kebijakan dan pelatihan bidang politik dan pemerintahan. Terakhir, kondisinya memburuk dan detak jantungnya melemah. Dia meninggal dunia pukul 09.25 setelah beberapa hari dirawat di RSUP dr Sarjito. “UGM sangat kehilangan,” kata Panut. (pra/din/er)

Lainnya