Kuncinya di Kepala, Kuliti Kambing tanpa Pisau

Kuncinya di Kepala, Kuliti Kambing tanpa Pisau
SPESIALIS: Ahmad Sidiq, 63, warga Sutoragan, RT 04 RW 02, Kecamatan Kemiri saat beraksi menguliti kambing kurban di Sd Al-Madina Purworejo, kemarin. (HENDRI UTOMO/RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Ahmad Sidiq punya keahlian khusus dalam menguluti kambing. Warga Desa Sutoragan, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, ini piawai melepas kulit kambing dengan tangan kosong.

Tangannya terampil. Bergerak cepat menelusuri bagian dalam kulit kambing yang tergantung. Tak lama, kulit pun berhasil dilepaskan dari kambing.
Itulah yang dilakukan Ahmad Sidiq saat menguliti kambing ketika penyembelihan hewan kurban di Kompleks SD Al-Madina Purworejo kemarin (22/7). Warga Desa Sutoragan RT 04 RW 02 ini sudah lebih dari tiga tahun menjadi bagian tim jagal hewan kurban.

Usianya memasuki 63 tahun. Namun, tangannya masih sangat cekatan. Dia menguliti kampung tanpa menggunakan pisau. Hanya menggunakan tangan.
Sidiq pun dikenal sebagai keahliannya tersebut. Dia kerap disebut sebagai ahli menguliti kambing tanpa pisau.

Sidiq mengaku memiliki rahasia tersendiri untuk memisahkan daging dengan kulit tanpa memakai pisau. Terutama, kulit kambing.

“Ya, saya biasa menguliti kambing tanpa pisau. Cukup dengan tangan agar daging tidak ikut dan kulit tidak berlubang. Kulit biasanya masih bisa digunakan untuk kerajinan tangan atau pengganti bedug serta alat perkusi lainnya,” jelasnya

Dicecar soal rahasia menguliti kambing tanpa pisau, Sidiq mengaku belajar teknik itu bertahun-tahun. Dia hanya menyebutkan bahwa kuncinya ada di bagian kepala.

“Yang diikat di atas kepalanya. Jangan dua kaki belakang dan kepala di bawah. Kalau tidak percaya, silakan dicoba,” ucapnya.

Selama Idul Adha 1442 Hijriah kali ini, Sidiq sudah menyembelih dan menguliti enam kambing dan dua sapi. Keahliannya itu banyak diburu.

“Saya biasa diupah Rp 500 ribu sampai Rp 600 ribu untuk satu ekor sapi. Alhamdulillah, meskipun pandemi, menurut saya masih sama saja seperti Idul Adha tahun-tahun sebelumnya,” ucap bapak enam anak ini.

Tidak hanya cepat, Sidiq juga sangat rapi dan bersih dalam mengelola hewan kurban. “Karena dimintai tolong, biasanya saya kan kerjakan sebersih mungkin. Kadang yang tidak biasa, daging bisa kotor bercampur bulu atau tanah. Sapi, misalnya, saat menguliti cukup direbahkan di tanah. Satu sisi selesai dihamparkan untuk kemudian sisi baliknya tanpa alas, dagingnya tetap bisa bersih,” ujar.

Sidiq tidak hanya laris saat Idul Adha. Dia juga kerap diminta warga untuk menyembelih kambing untuk hajatan akikah.

Ketika tidak ada permintaan menyembelih kambing, Sidiq bertani. Dia menghabiskan harinya untuk mengolah sawah.

“Kalau tidak ada yang minta tolong, saya kerja di kualalumpur (bermain lumpur di sawah),” selorohnya.

Pengakuan atas keahlian Sidiq dilontarkan M. Jaelani, 50. Dia merupakan rekan dari Sidiq.

Jaelani selama ini menjadi penyedia hewan kurban sekaligus jagal. Dia sudah genap 15 tahun menjadi jagal kambing untuk memasok kebutuhan daging kambing di Los Pasar Baledono.

Jaelani menyatakan sebenarnya ada banyak cara menguliti kambing. Ada yang dipompa. Kelebihan cara ini kulit lebih lebih dan dapat diolah menjadi kikil. Namun, cara memompa ini membutuhkan waktu lebih lama.

Jaelani mengakui keahlian yang dimiliki Sidiq. Cara “Dia memang spesialis menguliti. Tangannya memang cepat. Pekerjaannya juga selalu beres. Kami selalu menjadi satu tim saat Idul Adha seperti ini,” ucapnya.

Tim jagal yang dikomandani Jaelani juga beranggotakan Khoiriyah. Perempuan ini sangat cekatan dalam urusan memotong daging kurban.

“Mau 25 hingga 30 ekor, dia bisa mengatasi. Untuk urusan memisahkan atau membagi daging sudah menjadi tugas Khoiriyah. Ya, kami saling melengkapi,” ujar Jaelani. (tom/amd)

Lainnya