Menikmati Angkringan Konsep Modern

Menikmati Angkringan Konsep Modern
Meskipun tidak seperti angkringan di pinggir jalan, harga tetap sama dengan menu di angkringan pada umumnya.

Radar Kebumen Anda tahu angkringan? Di beberapa daerah namanya berbeda. Tapi di benak kita tentu sama modelnya. Sama dengan Angkringan Mukti di Kebumen ini. Beroperasi sejak September 2021 lalu, Angkringan Mukti mencoba menarik pelanggan dengan konsep rumah makan modern.

Penyajian makanan yang sepenuhnya dilayani oleh pramusaji. Tapi tidak menghilangkan nuansa Jawa, khas angkringan.
Pengelola Angkringan Mukti Nana Yuliana, 25, menjelaskan, memang pembeli tidak bisa mengambil makanan layaknya di angkringan pada umumnya. Meski demikian, Nana tetap mempertahankan makanan sederhana khas angkringan. Selain menu nasi kucing, wedang, dan sate, juga ada pilihan nasi megono hingga nasi bakar.
Untuk menyesuaikan selera milenial, berbagai camilan ringan dan minuman selain wedang khs angkringan juga turut disajikan. Agar tidak terkesan modern, penyajian makanan memilih menggungakan alat makan enamel. Tak hanya itu, dekorasi juga ditambahkan untuk memperkuat suasana Jawa. Seperti penggunaan kursi anyam, hingga pemasangan lampu teplok. “Meskipun tidak seperti angkringan di pinggir jalan, harga tetap sama dengan menu di angkringan pada umumnya,” jelas Nana kemarin (23/7).
Selain bisa menikmati makanan, pengunjung yang datang juga bisa mengambil foto di spot-spot tertentu. Terlebih adanya tambahan televisi dan radio jadul, lesung serta dokar yang bisa dinaiki oleh anak-anak untuk berfoto. Pada hari Sabtu dan Minggu, semua pegawai akan menggunakan pakaian khas Jawa, yakni lurik dan blangkon.
Angkringan Mukti di Keb adalah cabang dari angkringan di Gombong. Sebelumnya, angkringan yang dikelola kedua orang tuanya sudah ada sejak empat tahun silam. Sebelum berjualan angkringan, orang tua Nana adalah seorang pegawai negeri sipil. Memutuskan untuk pensiun dini, didirikanlah sebuah toko kelontong.
Selama tiga tahun lamanya, angkringan di Gombong tersebut mulai dikenal orang. Bahkan saat awal dibuka, omzet yang didapatkan tidak lebih dari Rp 50 ribu. Saat Nana telah menyelesaikan kuliah di Malang, akhirnya dia mencoba untuk mengembangkan angkringan tersebut. Mengetahui ada rumah kosong di wilayah Kota Kebumen yang dikontrakkan, Nana bersama keluarganya memutuskan untuk mendirikan cabang Angkringan Mukti. “Ini versi lebih besar dan modernnya. Yang angkringan di rumah, kecil namun tetap bisa makan di tempat,” ungkap Nana.
Terdampak pandemi Covid-19, Nana mengaku saat ini tidak banyak yang bisa dilakukan. Angkringan yang terpaksa tutup, membuat Nana untuk fokus ke inivasi produk. Selama ini, makanan di angkringan diolah dan diproduksi sendiri. 80 persen produksi dilakukan di rumah Nana wilayah Gombong. Seperti nasi bakar, nasi megono, sate usus, sate puyuh dan aneka camilan berupa cireng, sempol, ayam, hingga bakpau. “20 persen sisanya diproses di angkringan Kebumen. Seperti proses penggorengan, pembuatan minuman jahe, teh dan wedang lainnya,” bebernya. (eno/din/er)

Lainnya