Peternak Ayam Menjerit, Harga Pakan Melambung

Peternak Ayam Menjerit, Harga Pakan Melambung
Aktivitas di salah satu peternak ayam di Kapanewon Lendah, Kulonprogo.

KULONPROGO  Kenaikan harga pakan ayam kembali terjadi di tengah pademi Covid-19 ini. Para peternak pun terpaksa harus merugi untuk menutup biaya operasional yang tak sebanding dengan pendapatan.

Salah satu peternak ayam petelur di Kulonprogo Ambar Wahyudi mengatakan, kenaikan harga pakan terbilang cukup signifikan. Contohnya untuk komoditas jagung, dari harga semula yang berkisar Rp.4.500 per kilogram kini sudah naik menjadi Rp. 6.000 per kilogram.

Kondisi yang sama juga terjadi untuk jenis pakan konsentrat, dari yang awalnya berkisar Rp. 370 ribu per karung kini naik menjadi Rp.437 ribu per karung. Kenaikan harga pakan itu tidak sebanding dengan harga jual telur yang tetap stabil, yakni berkisar antara Rp 15 Ribu sampai Rp 16 Ribu per kilogram.“Dengan harga jual segitu otomatis kami tombok, bahkan tomboknya bisa sampai Rp. 5 juta per bulan. Boro-boro untung, balik modal aja sudah tidak bisa,” keluh Ambar saat dihubungi Minggu (25/7).

Apabila kondisi tersebut terus berlanjut, Ambar khawatir usaha peternakan ayam petelur miliknya bisa bangkrut. Sebab, keuntungan yang didapat tidak bisa sepadan dengan biaya operasional, salah satunya untuk mencukupi kebutuhan pakan.

Ia pun berharap agar harga  pakan ayam bisa kembali normal. Sehingga harapannya usaha peternakann ayam petelur miliknya tetap bisa terus bertahan di tengah situasi sulit pandemi Covid-19 ini.

Ambar pun mengaku tidak tahu kenapa harga pakan ayam bisa terus meroket selama beberapa minggu ini. Sehingga dia berharap agar pemerintah bisa turun tangan mengendalikan harga pakan yang kian menyulitkan kalangan peternak.“Kami berharap agar harga pakan bisa segera terkendali, sehingga kami tidak terus merugi,” harapnya.

Sebelumnya, adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diakui salah satu tengkulak telur di kapanewon Lendah memang cukup berdampak pada harga jual telur. Puryadi mengungkapkan permintaan telur ayam ras untuk saat ini memang tengah mengalami penurunan cukup drastis. Salah satu penyebabnya, menurut Puryadi karena kebijakan pembatasan. Ia menyebut penurunannya bisa mencapai 40 persen. “Kalau biasanya pedagang itu ambilnya 1 ton, sekarang paling cuma 6 kwintal-an. Sekitar itu,” ujarnya. (inu/din/er)

Lainnya