Petani Mulai Aktifkan Sumur Bor

Petani Mulai Aktifkan Sumur Bor
Salah satu petani, Sutarjo, 36, warga Kabekelan Prembun saat mengalirkan air sumur bor untuk menyiram tanaman terong ungu di lahan sawah miliknya, kemarin. (tom)

PREMBUN, Radar Kebumen-Sejumlah petani di wilayah Kabupaten Kebumen mulai mengaktifkan sumur bor untuk mengairi sawah mereka sejak dua pekan terakhir. Hal itu dilakukan karena hujan sudah jarang turun memasuki musim kemarau dan pasukan air dari irigasi teknis yang semakin menipis.

Salah satunya terpantau di wilayah Kecamatan Prembun. Para petani mayoritas menanam komoditas palawija seperti jagung, ketela, kacang hijau, kacang panjang, kedelai dan sayuran seperti terong, cabai, dan sejenisnya.

“Bagi petani yang penting menanam, masalah harga jual itu urusan belakangan, dari pada menganggur,” ucap salah satu petani,  Sutarjo, 36, warga Kabekelan, Kecamatan Prembun, kemarin (2/9).

Dijelaskan, kebanyakan petani menanam kacang hijau, sementara dirinya memilih menanam terong yang dinilai lebih mudah perawatannya dan tahan hama.

“Saya menanam terong ungu sebanyak kurang lebih 1500 tanaman, biasanya akan berubah setelah 55 hari, karena saluran irigasi kurang mencukupi saya gunakan sumur bor untuk menyiram tanaman,” jelasnya.

Menurutnya, dari pengalaman sebelumnya harga terong bisa mencapai Rp 2000 per kilogram, sementara kacang hijau bisa mencapai Rp 10 ribu per kilogram. Biasanya dijual dengan sistem tebas atau panen di tempat oleh para pengepul.

“Entah besok harganya berapa yang penting tanam dulu, ya karena masa sulit seperti ini yang penting jangan malas, jangan menganggur apa saja kerjakan yang penting halal untuk bertahan hidup,” ujarnya.

Sutarjo hanya satu dari sekian petani yang telah mengaktifkan sumur bor, tidak hanya di desa Kabekelan, pemanfaatan sumur bor untuk mengairi sawah juga dilakukan petani di Desa Sodomukti, Banjaran dan desa desa lain di Kecamatan Prembun.

“Rata rata sama menanam palawija, disini sebetulnya untuk kebutuhan air mudah, bahkan kemarin bisa tanam padi tiga kali dalam semusim, sumur bor pasokan airnya juga banyak, mungkin sampai musim penghujan ke depan masih cukup,” katanya.

Sementara sebelumnya, Kabid Sumber Daya Air (SDA)  Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPU PR) Kebumen, Supangat mengungkapkan, untuk pertanian di Kabupaten Kebumen mengandalkan pasokan air dari Waduk Sempor dan Waduk Wadas Lintang melalui saluran irigasi teknis dengan wilayah seluas 23 ribu hektar meliputi Bedegolan, Kali Gending dan Kedungsamak.

“Debit air mencapai 28 meter kubik per detik dengan luas wilayah yang mendapatkan aliran air mencapai 30.010 hektar di Kebumen termasuk sebagian wilayah Kabupaten Purworejo,” ungkapnya.

Sedangkan untuk mengantisipasi gagal panen, Pihaknya terus melakukan koordinasi agar masa tanam petani tidak tergeser. Hal ini dilakukan agar saat puncak musim kemarau dan masa perbaikan jaringan irigasi, tidak ditemukan gagal panen karena kekeringan.

Terkait daya tampung air di Waduk Sempor yang kian berkurang, pihaknya mengaku telah mengusulkan terkait pengangkatan sedimentasi. Hanya saja, hal tersebut masih belum ditindaklanjuti. “Hal ini karena air waduk tidak hanya digunakan untuk irigasi. Melainkan pembangkit tenaga listrik dan juga kebutuhan air minum,” ucapnya. (tom/bah/er)

Lainnya