Hiburan Tak Lekang Zaman

Hiburan Tak Lekang Zaman
Sejumlah warga Ambal Resmi, Kecamatan Ambal sedang membuat laying-layang. Hampir setiap rumah warga memiliki koleksi layang-layang berbagai jenis.

RADAR KEBUMEN Musim kemarau. Saatnya bermain layang-layang. Salah satunya bisa kita jumpai di  Desa Ambal Resmi, Kecamatan Ambal. Hampir setiap rumah warga memiliki koleksi layang-layang. Setiap hari mereka menerbangkannya. Siang dan malam.
Ya, banyak cara untuk melepas kepenatan. Salah satunya bermain layang-layang. Ngundo (menerbangkan layang-layang,Red) umumnya dilakukan anak-anak. Tapi tidak di desa ini. Tak ada batasan umur memainkannya. Anak-anak, tua-muda, laki-laki. Bahkan perempuan.

Konon menerbangkan layang-layang di desa ini sudah menjadi semacam tradisi.Topografi wilayah Kecamatan Ambal yang dekat dengan pesisir laut selatan sangat mendukung untuk bermain layang-layang. Pasokan angin melimpah. Lahan tempat bermain juga masih luas, baik di sawah, lapangan atau pantai.
Dam yang selalu terdengar di antara layang-layang itu adalah suara orongan (seperti sawangan yang biasa dipasang di burung merpati, Red). Tetapi ukurannya besar. Dipasang di layang-layang, pagi siang sore selalu terdengar. “Sekitar Juli  musim layang-layang sudah dimulai ,” ucap Suparjo, seorang  warga.

Dijelaskan, ada banyak jenis layangan yang diterbangkan warga, jenis bapangan dengan bentuk bulat bermotif bulan sabit pada bagian tengah dengan warna sesuai selera. Layang-layang jenis ini dilengkapi dengan sendaren (sumber suara terbuat dari pita jepang yang dibentangkan dengan rangka bambu melengkung, Red).
Kemudian layang-layang tanggalan, layang-layang jenis ini bentuk sayapnya lebih panjang dengan motif bulan sabit tidak di bagian tengah melainkan di ujung bawah. Layang-layang ini juga memiliki suara, tetapi bukan dengan sendaren melainkan dengan Orongan (alat serupa sawangan burung merpati berukuran besar,red). Layang-layang Brondolan, motif hampir sama dengan Tanggalan bersayap panjang namun pada bagian bawah bentuk nya bukan bulan sabit, lebih mirip sayap capung motif bulat-bulat.

“Ukurannya bervariasi, diameter mulai 1 meter hingga 6 meter, besar-besar dan tidak cukup satu orang menerbangkannya, kadang kalau sudah terbang ditambatkan di pohon, bisa tidak turun tiga hari, malam juga terbang, layang-layang juga dilengkapi lampu warna-warni jadi bisa dinikmati malam hari,” jelasnya.

Rian Adi Nugroho, 26 menambahkan, warga biasanya membuat layang-layang sendiri, kendati beberapa harus beli bahkan sampai luar Kebumen untuk jenis Bapangan. Bahan utama pembuatan layangan raksasa ini dari bambu sebagai rangka utama, kemudian plastik atau kertas khusus serupa mulsa untuk tubuhnya, rangka dibentuk dan disambung menggunakan tali plastik (rafia atau tambang,red).

“Tahap pertama biasa membuat watangannya rangka sayap yang dikaitkan dengan bambu yang lebih tebal dan lebar sebagai rangka tengah. Siapkan plastik atau kertas khusus dan pastikan semua dipasang sesuai ukuran juga motif warna yang diinginkan, direkatkan dengan lem khusus,” ucapnya.

Kemudian untuk sumber suara, Sendaren terbuat dari pita kado atau lebih dikenal dengan pita jepang dipasang pada bilah bambu yang dipasang sedemikian rupa melengkung ke atas dan terpasang di depan, orongan juga sama dipasang di depan. Benang untuk menerbangkan yakni tambang plastik ukuran 2,5 mili, atau senar pancing yang besar.

“Layangan ukuran 1 meter bisa diterbangkan sendiri, tetapi diatas 2 meter minimal 2 orang. Menerbangka layang-layang melihat cuca dan arah mata angin, bisa siang dan malam, layangan ini juga dilengkapi lampu hias warna-warni sehingga indah dinikmati pada malam hari,” katanya.

Satu layang-layang bagi yang sudah ahli membutuhkan waktu 3 jam pengerjaan, orongan juga dibuat sendiri dengan bahan bambu sebagai tabung dan kayu yang dibentuk sedemikian rupa di atasnya. Biasanya rangkap dua, suaranya nyaring sekali. Semua biasanya dibuat sendiri, jika tidak ada waktu warga biasanya beli, banyak perajin layangan jenis ini di Ambal Resmi, kisaran harganya antara Rp 25 ribu – Rp 100 ribu tergantung jenis dan ukuran.

“Layangan disini kebanyakan diterbangkan di lapangan, tapi ada juga yang menerbangkan di sawah atau pantai. Layangan ini tidak untuk diadu seperti layangan kertas kecil dengan benang gelasan, karena memang hanya dinikmati keindahan tarian dan suaranya. Waktu terbaik menerbangkan layang-layang ini siang menjelang sore sekitar sekitar pukul 14.00, selain sudah tidak terik juga tiupan anginnya kenceng,” ungkapnya.

Aryo Seto, 9, Arkan Goji, 9, dan Adit Danuarta, 7, pun tampak sumringah menenteng layang-layang raksasa buatan bapaknya, meskipun ukurannya tidak sebanding, jauh lebih besar daripada tubuhnya. Layangan itu biasa diterbangkan dengan ketinggian 300 mdpl, karena memang idealnya diterbangkan diatas 200 Mdpl. Pada ketinggian itu, diyakini anginnya lebih tenang sehingga posisi layang-layang bisa nterbng stabil.”Lombanya juga ada, biasanya dinilai ketahannya, paling lama turun itu yang menang,” ucap Aryo polos. (tom/din/er)

Lainnya