Tidak Bisa Melihat, Hidup Sendiri di Gubuk Reyot

Tidak Bisa Melihat, Hidup Sendiri di Gubuk Reyot
Bupati Kebumen Arif Sugiyanto didampingi Forkopimda turun langsung menyambangi Darsono, di Beji, Karangrejo, Petanahan, kemarin.

PETANAHAN, Radar Kebumen-Nasib kurang beruntung dialami Darsono, 65, warga Beji,Karangrejo, Petanahan, Kebumen. Puluhan tahun hidup sebatang kara di sebuah gubuk reyot beralaskan tanah. Kondisinya semakin memprihatinkan tiga tahun terakhir akibat matanya sakit dan tidak bisa melihat.

Kondisi itu Darsono mengundang empati Bupati Kebumen Arif Sugiyanto. Bupati menyempatkan diri datang ke rumah lelaki yang lebih akrab disapa warga dengan sebutan Pak Susah ini, kemarin (14/9). Arif didampingi Forkopimda dan Komunitas Sedulur Kebumen. “Pak Darsono betul-betul susah.Kondisi fisiknya juga perlu bantuan kita semua,” ucap bupati.

Penderitaan Pak Susah kali pertama diinformasikan oleh Komunitas Sedulur Kebumen (SK). Sejauh ini, masyarakat setempat khususnya tetangga, juga sudah memberi membantu semampunya. Terlebih setelah Pak Susah tidak bisa melihat dan tidak mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup dan beraktivitas sehari-hari seperti warga pada umumnya.

Menerima informasi itu, pemerintah merasa harus dan wajib memberikan perhatian. Awalnya memang akan dilakukan bedah rumah. Namun dengan berbagai pertimbangan dan kesehatan Pak Susah lebih penting untuk ditangani terlebih dulu. “Kami bawa ke rumah sakit untuk dicek dan operasi mata jika memungkinkan, kemudian dibawa ke panti dulu,” jelasnya.
Kapolres Kebumen  AKBP Piter Yanottama menyebutkan, sudah menjadi kewajiban pemerintah hadir di tengah masyarakat yang memang benar-benar membutuhkan uluran tangan. TNI/Polri mendukung penuh langkah Pemkab Kebumen sesuai dengan tupoksi Polri sebagai pelindung dan pelayanan masyarakat.”Kami juga ada Bhabinkamtibmas yang akan memantau kondisi ini, untuk mencari solusi mana yang perlu sentuhan,” katanya.
Ketua Komunitas Sedulur Kebumen Sugeng Budiyawan menambahkan, sudah menjadi kewajiban ketika ada saudara yang membutuhkan bantuan. “Bisa dilihat sendiri kondisi rumahnya begitu, hidup sendiri dan tidak bisa melihat,’’ ujarnya.
Tetangga Pak Susah, Suwarsih,41, mengungkapkan, sebagai tetangga paling dekat, setiap hari dia yang selalu mengurus, kendati statusnya bukan keluarga. Pak Susah dulu diketahui hidup bersama bibinya. Namun 10 tahun terakhir saudaranya meninggal dunia. Menurutnya, sebelum buta, Pak Susah pernah kerja serabutan. Pak Susah tidak punya saudara dan sudah tidak bisa ke mana-mana. Termasuk untuk membersihkan diri. “Saya rasa itu terbaik jika dibawa ke panti,” ungkapnya. (din/er)

Lainnya