Komnas HAM Respons Quarry Wadas

Komnas HAM Respons Quarry Wadas
Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara bertemu Bupati Purworejo Agus Bastian dan Ketua DPRD Kabupaten Purworejo Dion Agasi Setiabudi di Ruang Bagelen Setda Purworejo Selasa (28/9).

PURWOREJO, Radar Purworejo Permasalahan lokasi pertambangan tanah atau batuan untuk proyek (quarry) pembangunan Bendungan Bener mendapat perhatian serius Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Komnas HAM datang langsung ke Kabupaten Purworejo.

Lokasi penambangan tersebut di Desa Wadas, Kecamatan Bener. Salah satu perhatian Komnas HAM yakni adanya dugaan perusakan lingkungan dan tindakan intimidasi kepada warga yang kontra pelaksanaan quarry.

Komisioner Komnas HAM Beka Ulung Hapsara mengungkapkan, kedatangannya menindaklanjuti pengaduan warga Desa Wadas. Sesuai wewenang Komnas HAM melaksanakan fungsi pemantauan sesuai pasal 89 ayat 3 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. Mereka melakukan pemantauan langsung dan meminta keterangan dari berbagai pihak pada 28 dan 29 September.

“Komnas HAM RI menerima pengaduan pada 16 September dari masyarakat Desa Wadas, terkait dugaan perusakan lingkungan serta tindakan intimidasi kepada warga,” ungkap Beka usai bertemu sejumlah pejabat Pemkab Purworejo dan pihak terkait di Ruang Bagelen Komplek Setda Purworejo Selasa (28/9).

Ratusan warga Desa Wadas yang mendukung quarry tampak menunggu di luar pagar komplek setda. Mereka membentangkan sejumlah poster.

Mereka ingin memberikan aspirasi dan mengklarifikasi bahwa tidak ada intimidasi yang dilakukan aparat terhadap warga. Warga justru merasa aman dengan hadirnya polisi di Desa Wadas.

Beka menyatakan, pengaduan warga Desa Wadas itu diduga sebagai respons atas sikap warga yang menolak rencana penambangan batuan andesit di wilayahnya guna kepentingan pembangunan Bendungan Bener. “Warga yang menolak beranggapan quarry berpotensi merusak kelestarian lingkungan serta mengancam kelangsungan hidup warga,” jelasnya.

Menurutnya, pihaknya telah memantau langsung di lapangan dan meminta keterangan berbagai pihak. Termasuk, kronologi peristiwa intimidasi yang terjadi.

Namun, tegasnya, pihaknya belum mengambil kesimpulan. “Warga menyampaikan soal aparat yang datang ke Wadas bersenjata lengkap. Tapi, kami juga dapat keterangan dari Kapolres bahwa itu adalah pembagian masker dan juga bagaimana situasi Wadas supaya tetap aman,” ungkapnya.

Menurut Beka, Komnas HAM tak hanya meminta keterangan Pemkab Purworejo. Mereka selanjutnya akan bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranomo.

“Komnas HAM juga akan melakukan audiensi dengan Kementerian PUPR, Kantor Sekretariat Presiden, dan juga dengan LMAN (Lembaga Manajemen Aset Negara) untuk keperluan yang sama,” terangnya.

Bupati Purworejo Agus Bastian mengungkapkan, sebenarnya warga Desa Wadas belum menerima sosialisasi secara lengkap terkait pengambilan quarry. Sebab, petugas yang akan melakukan sosialisasi dihadang warga yang kontra.

“Seperti apa teknik pengambilan quarry, bagaimana kondisi alam desa Wadas, dan bagaimana pascapengambilan quarry di Desa Wadas, hal ini belum disampaikan secara lengkap. Ada oknum-oknum yang sudah terlebih dahulu masuk. Justru, mempengaruhi warga agar menolak pengambilan quarry tersebut,” ungkapnya.

Bupati mempersilakan Komnas HAM mengumpulkan keterangan dari warga yang pro, aparat keamanan, Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) dan Kantor Pertanahan Purworejo.

“Kami berharap hadirnya tim Komnas HAM ke Purworejo ini dapat menjadi fasilitator untuk menjembatani kami dengan warga yang kontra sehingga dapat terjadi kesepakatan dan PSN ini dapat terus berjalan tanpa ada yang merasa dirugikan,” paparnya.

Sementara itu, perwakilan warga Desa Wadas pro quarry yang berunjuk rasa di depan kantor setda, Jamil, menyampaikan, pihaknya ingin mengklarifikasi terkait aparat yang dianggap pihak kontra quarry melakukan intimidasi beberapa waktu lalu. Menurutnya, polisi datang untuk patroli dan kegiatan baksos.

“Kami warga pro quarry sudah bosan dengan framing yang dibuat pihak kontra. Kami warga pro, justru merasa aman dengan adanya pihak kepolisian yang datang ke desa. Padahal, kemarin juga polisi hanya membagi masker dan sembako di Wadas,” jelasnya. (udi/amd/er)

Lainnya