Masker Transparan, Mudahkan Tunarungu Berkomunikasi

Masker Transparan, Mudahkan Tunarungu Berkomunikasi
INOVASI: Masker transparan karya Robitoh untuk membantu komunikasi penyandang tunarung.

KEBUMEN, Radar Kebumen–Robitoh, aktivis disabilitas menjawab kebutuhan komunikasi penyandang tunarungu di masa pandemi Covid-19. Dengan menciptakan masker transparan, memudahkan tunarungu untuk melihat gerak bibir lawan bicara saat berkomunikasi.

Menurut Robitoh, selama ini masker yang dijual bebas di pasaran tidak ramah terhadap penyandang tunarungu. Sehingga mengganggu komunikasi dua arah antara penyandang tunarungu dengan lawan bicara. “Kalau masker biasa harus copot kemudian pasang lagi (saat berbicara, Red). Tapi masker transparan tidak,” ucap perempuan 45 tahun itu kemarin (16/11).

Masker karya warga Desa Kutosari ini terbuat dari kain batik khas Kebumen. Dengan bagian tengah memiliki ruang tembus pandang dari bahan plastik atau mika. Rencananya, masker akan diproduksi masal pada akhir Desember. Dengan melibatkan 10 penyandang tunanetra yang memiliki keahlian menjahit. Satu buah masker, nantinya akan dijual dengan harga Rp 25 ribu. “Dana bantuan (untuk produksi, Red) akan kami kelola bersama sahabat tunarungu. Supaya lebih berdaya secara ekonomi,” ucapnya.

Hasil produksi masker, lanjut Robitoh, akan diprioritaskan untuk dijual kepada petugas pelayan publik dan fasilitas layanan kesehatan. seperti di terminal dan puskesmas, agar bisa melayani tunarungu dengan baik. “Sesuai data, saat ini ada 190 penyandang tunarungu di Kebumen,” beber Robitoh.

Sementara itu, Ketua Sahabat Disabilitas Kebumen (SDK) Teguh Kuatno mengapresiasi terciptanya masker transparan untuk penyandang tunanetra Kebumen. Dia menilai, masker transparan ini berfungsi sebagai perangkat pemenuhan hak-hak disabilitas. “Patut disambut baik ya upaya inklusi. Karena untuk mendukung kesamaan hak kepada saudara-saudara disabilitas,” ungkapnya. (cr2/er)

Lainnya