Vaksin Anak, Butuh Peran Ortu untuk Meyakinkan

Vaksin Anak, Butuh Peran Ortu untuk Meyakinkan
TAHAN YA: Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti meninjau pelaksanaan vaksinasi bagi anak usia 6-12 tahun di SDIT Ulul Albab Purworejo, Senin (10/1). (Pemkab Purworejo for Radar Jogja)

RADAR PURWOREJO – Sejak 24 Desember 2021, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo telah memulai vaksinasi Covid-19 bagi anak usia 6-11 tahun. Peran orang tua sangat penting untuk menyukseskan vaksinasi tersebut.

Wakil Bupati (Wabup) Purworejo Yuli Hastuti menyebutkan, pelaksanaan vaksinasi anak lebih mudah daripada vaksinasi orang dewasa. “Hal ini dikarenakan pengambilan target sasaran dilakukan melalui sekolah yang akan lebih mudah dalam pemetaanya,” ujarnya saat melakukan peninjauan vaksinasi di beberapa SD di Purworejo
kemarin (10/1).

Meski demikian, vaksinasi anak juga menjadi tantangan tersendiri, sebab tidak semua anak mau untuk divaksin. Di sini, peran orang tua menjadi sangat penting. “Orang tua memiliki peran penting dalam menyukseskan vaksinasi bagi anak usia 6-12 tahun, karena anak akan menurut apa kata orang tuanya,” sebutnya.

Namun, dia sangat mengapresiasi kepada para orang tua dan anak-anak yang dengan penuh kesadaran dan antusias yang tinggi telah bersedia mengikuti vaksinasi. Salah satunya di SDIT Ulul Albab Purworejo. “Hari ini di sekolah ini ada kuota kurang lebih 600 dosis vaksin. Sedangkan untuk sasarannya terdapat 528 anak yang akan menerima vaksinasi,” ungkap Yuli.

Dia berharap, semua pihak bergotong royong mendorong kelancaran program vaksinasi anak, utamanya bagi orang tua dan para guru. Selain itu, tetap memberikan edukasi untuk terus menerapkan protokol kesehatan di setiap kegiatannya, baik di rumah maupun sekolah.

Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo Sudarmi mengatakan, vaksinasi anak usia 6-11 tahun di Kabupaten Purworejo target sasarannya sebanyak 66.355 orang. “Jenis vaksin yang digunakan adalah vaksin coronavac,” ujarnya.

Sementara itu salah satu siswa SD Islam Baledono Arfan Dwi Putra Yulian, 10, mengaku setelah divaksin, dirinya merasakan pegal. ”Seperti habis kepentok meja. Tidak ada pusing atau lemas,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan oleh Nabila Nur Kholifah,9, siswi SDN 3 Donorejo. Dia merasakan pegal di tangan bekas vaksin. “Pegal, tapi tidak apa-apa nanti juga sembuh. Sempat keluar darahnya,” paparnya.

Para siswa yang melakukan vaksin didampingi oleh orang tuanya masing-masing. Selain orang tua, guru dan juga kepala sekolah ikut hadir mendampingi. Mereka juga dianjurkan untuk membawa bekal mandiri.

Salah satu orang tua siswa Andrita Agustina, 33, sempat kualahan dan tak tega saat membujuk anaknya untuk divaksin. “Awalnya takut, tapi setelah diberikan pengertian akhirnya anak mau untuk divaksin,” ungkap dia.

Dia mengaku sangat mendukung dengan adanya vaksin untuk para siswa. Sebab, dengan begitu dia tidak perlu khawatir lagi terkait keselamatan anaknya ketika harus melakukan pembelajaran tatap muka (PTM). “Semoga memang ini yang terbaik dan dapat mengurangi adanya penularan Covid-19 di lingkungan sekolah,” harapnya. (han/bah)

Lainnya