Dion Minta Tutup Karaoke Tak Berizin

Dion Minta Tutup Karaoke Tak Berizin
TUTUP: Karaoke RR yang berada tepat di depan Pasar Purworejo baru Brengkelan, Purworejo, kemarin, (12/1). (HENDRI UTOMO/ RADAR PURWOREJO)

RADAR PURWOREJO – Ramainya pemberitaan tentang tempat hiburan malam (karaoke) di Kabupaten Purworejo mendapat respon dari Ketua DPRD Purworejo Dion Agasi Setiabudhi. Dia meminta seluruh tempat karaoke tak berizin ditutup.

Menurutnya, menjamurnya karaoke tak berizin terjadi karena ketidaktegasan penegak peraturan daerah (perda). “Jadi saya minta! Seluruh karaoke tidak berizin ditutup tanpa pandang bulu, tidak peduli siapa bekingannya,” tegasnya, kemarin (12/1).

Jangan sampai, lanjutnya, soal perizinan ini menjadi masalah yang berlarut-larut. Hanya karena penindakan yang kurang tegas. “Jangan cuma kucing-kucingan habis dirazia tutup sebentar, kemudian buka lagi,” ujarnya.

Dijelaskan, penegakan perda  bisa melibatkan aparat hukum yang berwenang dibidangnya. Karena tempat hiburan malam tidak berizin memiliki banyak sisi negatif. Dia mengimbau kepada masyarakat, agar tidak terprovokasi. “Percayakan sepenuhnya kepada aparat yang berwenang,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Rumah Aspirasi Puan Wahyu Widiarso menanggapi sikap tegas Ketua DPRD Purworejo. Dia menilai, pernyataan tidak peduli siapa pun yang membekingi karaoke tidak berizin, bisa dimaknai bermacam-macam.

Siapa itu, jelasnya, seharusnya dipertegas. Sehingga masyarakat tidak menduga atau beranggapan siapa sebetulnya yang ada di belakang karaoke-karaoke ini. “Sehingga permasalahannya tidak membesar,” ucapnya.

Menurutnya, karaoke sebagai tempat usaha sebetulnya tidak salah jika mengikuti aturan dan berizin. Sebab, banyak karaoke keluarga yang ramah bagi siapa pun. Mengingat karaoke juga menjadi usaha untuk ladang penghidupan. “Jadi yang dibutuhkan di sini ketegasan dari pemerintah daerah. Kalau berizin boleh ya diizinkan,” ujarnya.

Meski demikian, dia menilai kemunculan tempat hiburan malam menjadi indikasi perekonomian daerah yang semakin baik.Terlebih Purworejo cukup dekat dengan Bandara YIA, dan adanya proyek strategis nasional (PSN) Bendungan Bener. “Jadi harus siap menghadapi kemajuan,” ujarnya.

Namun, Wahyu pun turut menyayangkan viralnya LC berseragam putih abu-abu ini. Hal ini membuat citra Purworejo menjadi kurang baik.

Kepala Satpol PP dan Damkar Purworejo Hariyono menyebutkan, sedikitnya ada 18 usaha karaoke yang ada di Kabupaten Purworejo. Berada di Kecamatan Purworejo, Purwodadi, Kutoarjo, Gebang, dan Butuh. Meski sudah ada yang memiliki nomor induk berusaha (NIB), namun sebagian besar belum mengantongi izin. “Kami sudah koordinasikan untuk menindaklanjuti masalah tersebut,” ujarnya.

Diketahui, karaoke RR yang menjadi tempat pengambilan video LC viral tutup, kemarin (12/1). Berada tepat di depan Pasar Purworejo, Brengkelan hanya menyisakan tulisan ‘TUTUP’ berwarna merah.

Dari pantauan, tempat karaoke digunakan sebagai titipan sepeda motor “RR” saat siang hari. Suasana lengang, nyaris tidak ada aktifitas yang berarti. Pintu gerbang pun tertutup rapat. “Berdasarkan pendataan, karaoke RR juga belum mengantongi izin usaha,” beber Hariyono. (tom/han/eno)

Preseden Buruk bagi Dunia Pendidikan

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Purworejo merasa prihatin dan mengecam keras beredarnya video pemandu karaoke berseragam putih abu-abu mirip seragam SMA. Hal itu dinilai menjadi preseden buruk bagi dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Purworejo.

“Kami mendesak aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus ini. Jika tidak, ini akan menjadi preseden buruk untuk dunia pendidikan. Bahkan bisa berimbas ke hal-hal lainnya,” tegas Ketua PMII Kabupaten Purworejo, Satrio Tegar Imani, kemarin (12/1).

Terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VIII Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah Nikmah Nurbaity menegaskan, seragam adalah pakaian identitas. Ada aturan untuk mengenakannya. “Seragam SMA itu ya yang berhak menenganakan anak-anak SMA, begitu pula seragam SMP hingga SD. Selain itu ya berpakaianlah sesuai norma,” ucapnya usai menghadiri peresmian Gedung Olahraga dan Serbaguna SMK YPP Purworejo.

Meskipun dikenakan oleh siswa SMA, dia berharap mereka menunjukkan sikap dan perilaku yang baik saat memakai seragam. Terlebih sudah ada aturan ukuran untuk seragam. “Panjang di bawah lutut sekian senti, dan lengkap ada logo pendidikannya,” ujarnya.

Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) turut bereaksi. Direktur LRC-KJHAM, Dian Puspitasari menegaskan, jika viralnya video bisa mencoreng dunia pendidikan. Patut dicurigai, penggunaan seragam sekolah tersebut hanya untuk marketing dari pengelola karaoke.

Kasus ini, bisa saja dilaporkan ke pihak kepolisian atas perbuatan pencemaran nama baik. “Sekolah mana saja yang merasa terlecehkan bisa melapor. Khususnya SMA, atau mungkin dari asosiasi SMA,” ucapnya saat dikonfirmasi sejumlah wartawan.
(tom/eno)

Lainnya