Tol Bawen-Jogja Lewati Wilayah Endapan Material Vulkanik Merapi

Tol Bawen-Jogja Lewati Wilayah Endapan Material Vulkanik Merapi
SOSIALISASI: Warga saat mengikuti konsultasi publik pembangunan tol Bawen-Jogja di Balai Desa Blongkeng, Ngluwar, Selasa (11/1).

MAGELANG, Radar Jogja – Proyek pembangunan tol Bawen-Jogja akan melewati Dusun Sabrangkali, Blongkeng. Namun, lokasi ini merupakan wilayah dengan endapan material vulkanik dari Gunung Merapi.

Hal tersebut dibuktikan banyaknya material pasir dan batu. Wilayah ini, juga diapit oleh dua sungai yang berhulu di Merapi. Yakni Kali Putih dan Kali Blongkeng. Kedua sungai, merupakan jalan tol banjir lahar dari masa ke masa.

Menurutnya, potensi banjir lahar masih sangat besar selama Gunung Merapi aktif. Limpahan banjir lahar, juga menjadi ancaman warga setiap musim hujan. “Untuk itu, warga Sabrangkali mengusulkan jalan tol dibangun secara elevated atau melayang,” jelas warga Desa Blongkeng Habib Saleh, Selasa (11/1).

Konstruksi elevated, memungkinkan aliran air atau potensi banjir lahar tetap bisa lewat. Namun jika tol dibangun dengan cara diurug, maka berpotensi menjadikan perkampungan warga menjadi kolam material vulkanik.

Selain itu, wilayah yang dilewati pembangunan tol sebagian besar merupakan kawasan hijau. Berupa pertanian padi, dan sayuran yang sangat subur. Sehingga kelangsungan aktivitas pertanian, perlu diperhatikan. Seperti dengan tetap menjaga sumber air dan saluran irigasi pertanian selama proses pembangunan. “Wilayah persawahan Sabrangkali, juga terindikasi sebagai jalur sungai purba berdasarkan kondisi geografis yang ada,” lanjutnya.

Habib menyebutkan, seluruh warga terdampak di Desa Blongkeng merupakan petani. Sehingga dia berharap, pembangunan tidak akan mematikan pata pencaharian petani. “Terutama ganti rugi jalan tol jangan merugikan para petani agar tidak menghancurkan kehidupannya di masa depan,” tuturnya.

Meski demikan, Habib mengaku, warga tidak mempermasalahkan adanya pembangunan tol. “Kami sebagai warga negara yang baik, mendukung penuh program pembangunan pemerintah,” katanya.

Tim persiapan pengadaan tanah untuk pembangunan umum Provinsi Jawa Tengah yang menolak menyebutkan namanya mengatakan, saat ini proses persiapan pembangunan proyek jalan tol Bawen-Jogja memasuki tahap konsultasi publik. Khususnya terkait pengadaan lahan, yang sesuai dengan Undang-Undang Dasar Nomor 2 Tahun 2012 dan PP Nomor 19 Tahun 2021. Tentang pengadaan tanah bagi kepentingan publik. “Jadi, pengadaan tanah bagi kementerian umum ini ada empat tahapan,” ujarnya saat di Balai Desa Blongkeng, Ngluwar.

Empat tahapan tersebut dimulai dari perencanaan, dilanjutkan persiapan pengadaan lahan. Dalam tahap kedua tersebut, salah satu agendanya adalah konsultasi publik. Jika sudah berjalan, hanya tinggal menunggu SK Gubernur Jawa Tengah terkait penetapan lokasi (penlok) dan pengumuman penlok.

Tahap ketiga adalah pengadaan lahan. Nantinya akan dilakukan oleh tim dari kantor bidang pertanahan setempat. Mereka akan membahas ganti rugi. “Baik dari aspek fisik maupun non fisik,” ungkapnya.

Tahapan terakhir yakni persiapan dengan menyerahkan hasil pengadaan lahan. Jika ada lahan atau tanah hasil jual beli dan belum dibalik nama pemilik, masyarakat cukup menyiapkan salinan KTP. Beserta salinan surat tanah waris jika warisan, surat keterangan, surat kuasa, maupun surat jual beli. “Saya rasa nantinya tidak memengaruhi harga tanah meski belum ada sertifikatnya. Karena semua sudah ada standarnya. Secara nasional, harganya menurut tempat,” tegasnya.

Menurutnya, konsultasi publik yang sudah dilakukan di dua desa berjalan dengan baik. Warga pun setuju dengan adanya pembangunan tol tersebut. Dia berharap, desa lain akan mengikutinya. “Warga yang terdampak bisa memahami semua. Mereka juga menyetujui, bahkan mendukung dan mereka menyadari bahwa ini proyek nasional,” ujarnya. (cr1/eno)

Lainnya