Polemik Trans Jateng Koridor III Berakhir Islah

Polemik Trans Jateng Koridor III Berakhir Islah
TUTUP BUKU: Titin selaku ahli waris Alm Wahyu Muji Mulyana (Mantan Dirut PT BPM) saat mencabut laporan (kanan). Menunjukkan surat kesepakatan damai bersama Dirut PT BPM Giat Sasmoyo disaksikan Kepala Balai Transportasi Jateng, Joko Setiyawan, kemarin.

PURWOREJO, Radar Purworejo – Polemik terkait operasional Trans Jateng Koridor III Borobudur-Kutoarjo berakhir islah. Titin selaku Istri atau ahli waris alm Wahyu Muji Mulyana Mantan Dirut PT Bagelen Putra Manunggal (PT BPM) akhirnya mencabut laporannya, kemarin (19/1). Dasar keputusannya  mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih luas.

Kepala Balai Transportasi Jawa Tengah, Joko Setiyawan mengatakan, mewakili Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah pihaknya mengapresiasi kesepakatan perdamaian antara Titin selaku ahli waris alm Wahyu Muji Mulyana, mantan Dirut PT BPM dengan Dirut PT BPM Giat Sasmoyo SH mewakili Konsorsium Operator Pelayanan Trans Jateng Koridor III Borobudur-Kutoarjo.

“Hari ini perbedaan pendapat itu sudah selesai dan disepakati dengan akta perdamaian. Semua sudah  sama-sama memahami. Intinya Koridor III Trans Jateng tetap berjalan normal dan siap melayani dengan baik. Islah ini juga menjadi bukti semua pihak mengesampingkan kepentingan pribadi atau golongan untuk kepentingan masyarakat yang lebih luas,” katanya.

Menurutnya, itu menjadi kepuasan tersendiri bagi Provinsi Jateng. Sebab kesalahpahaman yang sempat terjadi sebelumnya sudah bisa diselesaikan dengan baik dan terhormat secara kekeluargaan. “Sekali lagi kami mengapresiasi semua pihak  yang sudah berperan mengembangkan Koridor III Trans Jateng,” ujarnya.

Diharapkan, dengan kesepakatan damai yang telah terjadi, mampu mendukung pelayanan Trans Jateng lebih baik lagi kedepan. Semua harus sinergi untuk pelayanan dan kepuasan masyarakat Purworejo dan Magelang. “Hak dan kewajiban yang belum jelas kini sudah bisa diperjelas, kedua belah pihak sudah mampu mendudukan persoalan secara jernih. Pengalaman ini akan menjadikan pelayanan berjalan lebih baik lagi, bahkan bisa menjadi kekuatan baru dalam sinergi,” harapnya.

Menurutnya, bukan soal krusial atau tidak krusial provinsi turun untuk menjembatani permasalahan tersebut, namun memang sudah menjadi tugas Balai untuk turun ke bawah sebagai jaminan pelayanan tetap berjalan lancar. “Kami hanya ingin memastikan semua memahami apa yang harus dikerjakan sesuai tupoksinya. Termasuk masalah perbedaan serupa harus bisa cepat diselesaikan, sehingga tidak akan mengganggu pelayanan dan itu sudah menjadi tugas kami,” ujarnya.

Kuasa Hukum Titin, Whindy Sanjaya SH mengungkapkan, pihaknya berterimakasih kepada Balai Transportasi Jateng yang sudah ikut turun menjembatani perselisihan dan tercapai kesepakatan antara kilennya dengan Dirut PT BPM Giat Sasmoyo SH. “Kami sepakat mengesampingkan ego pribadi untuk kepentingan masyarakat luas. Sebab, ketika diteruskan, akan ada korban yakni masyarakat sebagai pengguna Koridor II Trans Jateng,” ungkapnya.

Berdasarkan hasil kesepakatan, semua yang menjadi pengeluaran PT BPM semasa Al Wahyu  Muji Mulyana menjabat sebagai Dirut PT BPM akan dikembalikan ke perusahaan dan semua disesuaikan sesuai porsinya. Proses audit sudah dilakukan, namun sekali lagi memilih untuk tidak diteruskan sebab dalam kacamata hukum ini akan menjadi dua sisi mata uang yang perlu ditimbang untuk kemanfaatannya. “Semua sudah buka data dan kami legowo untuk menyamakan persepsi, klien kami juga memahami, Pak Giat juga memahami dan semua bisa diselesaikan dengan baik dan tidak kaku,” katanya.

Dirut PT BPM, Giat Sasmoyo SH mengatakan pihaknya juga sudah menyamakan niat, sepakat untuk menyelesaikan semua permasalahan terkait tagihan operasional secara kekeluargaan. “Kami tidak bicara materi atau nominal, yang penting Koridor III Trans Jateng bisa berjalan dengan baik, kami memilih tutup buku dan memulai dengan lembaran yang baru,” ucapnya.

Polemik bermula ketika Direktur Utama (Dirut) PT Bagelen Putra Manunggal (BPM) selaku Operator Trans Jateng Koridor III Borobudur – Kutoarjo, Giat Sasmoyo SH diadukan ke Polres Purworejo pada 3 Januari 2022. Pasca meninggalnya alm Wahyu Muji Mulyana, sang istri Titin  sebagai ahli waris mengaku mendapatkan tekanan dari pihak perusahaan terkait tagihan operasional Trans Jateng yang ditinggalkan.

Tagihan operasional mulai tanggal 11 hingga 31 Juli 2021 nilainya mencapai Rp 847.130.763. Pihak Titin mengklaim tagihan diminta tanpa disertai bukti dan fakta kuat biaya tersebut merupakan kewajiban ahli waris alm Wahyu Muji Mulyana. Titin merasa tertuduh dengan beban hutang operasional tersebut. Titin mengaku terpaksa menyerahkan satu unit mobil dan sepeda motor termasuk pembayaran tagihan-tagihan pembayaran tunai atas beban operasional BBM yang seolah-olah dipaksa untuk mengakui beban tersebut tanpa didahului sebelumnya dengan audit keuangan perusahaan

Dirut PT BPM Giat Sasmoyo dengan tegas membantah semua tuduhan (somasi) Titin.  Atas nama perusahaan ia bahkan menyatakan siap menghadapi Titin di jalur hukum dengan data yang lengkap terkait tanggungan mantan Dirut PT BPM yang masih menjadi tanggungan perusahaan hingga saat ini. (tom/din/er)

Lainnya